Kesenjangan Pendidikan Pria dan Wanita Muslim di Dunia, Menurun

by
Grafik kondisi pendidikan laki-laki dan perempuan di beberapa negara Timur Tengah. Grafik : Pew Research

Wartapilihan.com, Washington – Rata-rata, laki-laki Muslim di seluruh dunia lebih mendapatkan pendidikan formal daripada perempuan. Itulah fakta yang dikenalkan oleh peraih Nobel Perdamaian Malala Youzafai dan aktivis Muslim untuk pendidikan perempuan. Meski kesenjangan gender Muslim dalam pendidikan tetap besar, relatif di setiap kelompok agama besar, telah menyusut dalam generasi terakhir. Perempuan Muslim telah mendapat pencapaian pendidikan lebih daripada laki-laki Muslim di hampir seluruh wilayah di dunia, menurut studi komprehensif terbaru dari Pew Research Center dalam pencapaian pendidikan dari kelompok agama besar dunia.

Sebuah studi memperlihatkan pada perubahan pencapaian pendidikan lintas tiga generasi terakhir, yang menunjukkan bahwa generasi termuda Muslim dewasa (lahir 1976 s/d 1985) dianalisa jauh lebih mendapatkan pendidikan formal daripada generasi tua (lahir 1936 s/d 1955). Ketika laki-laki maupun perempuan sedang berkontribusi dalam pencapaian pendidikan ini, perempuan masih lebih mencapainya dengan rata-rata yang lebih cepat.

Waktu paling lama perempuan Muslim menyelesaikan studinya rata-rata hanya 2,5 tahun, dikomparasikan dengan 4,6 tahun untuk laki-laki, senjang 2,1 tahun. Perempuan muda (berusia 25 sampai 34 tahun pada 2010), secara perbandingan, memiliki rata-rata lebih dari dua kali lipat dalam pendidikan formal seperti para perempuan yang lebih tua (6,1 tahun).

Cara lain untuk mengukur pendidikan adalah dengan melihat persentase orang yang tidak memiliki pendidikan formal, dan kesenjangan gender Muslim juga telah menyusut dari perspektif ini. Secara global, mayoritas generasi tertua perempuan Muslim dianalisa 64% tidak memiliki pendidikan formal, tetapi dalam model ini 31 poin persentase lebih rendah diantara generasi termuda (33%). Sementara itu, pembagian laki-laki Muslim yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal turun dengan modus data lebih 20 poin lintas tiga generasi (43% ke 23%).

Di akhir spektrum tentang pencapaian, relative sedikit laki-laki Muslim dan perempuan Muslim memiliki gelar pendidikan menengah lanjutan. Tetapi di beberapa tempat, perempuan Muslim mencapai pendidikan menengah lanjutan lebih dramatis bahwa kesenjangan gender telah berbalik , yang berarti bahwa, di generasi termuda, lebih banyak perempuan Muslim daripada laki-laki yang memegang gelar sarjana. Pola ini sangat mencolok di Qatar, Kuwait, Bahrain dan bangsa lain yang merupakan anggota Gulf Cooperation Council, sebuah persatuan politik dan ekonomi wilayah.

Di Arab Saudi, sebagai contoh, perempuan Muslim yang memegang gelar menengah lanjutan meningkat dari 3 % di generasi tertua dan menjadi 35% di generasi termuda. Di antara laki-laki Arab Saudi, kelompok pendidikan yang lebih tinggi meningkat dari 16% ke 28%.

Ini adalah pola umum dari perempuan Muslim yang meraih pencapaian besar dalam pendidikan daripada laki-laki Muslim yang tidak menunjukkan peningkatan di Sub-sahara Afrika. Dalam studi kami, lintas tiga generasi kesenjangan gender Muslim di daerah itu cenderung tidak terlalu berubah dan bahkan kadang meluas. Meskipun perempuan Muslim di daerah ini telah membuat beberapa pencapaian, tetapi mereka rata-rata pencapaiannya lebih perlahan daripada laki-laki seusianya.

Kesenjangan gender dalam rata-rata tahun menempuh sekolah menggambarkan tren sebagai berikut. Laki-laki Muslim termuda di Sub-sahara Afrika meraih rata-rata 2,4 tahun lebih bersekolah, daripada laki-laki Muslim tertuanya. Sementara perempuan Muslim termudanya meraih hanya 1,7 tahun lebih  bersekolah melampaui yang tertuanya.

Tetapi di daerah lain, perempuan Muslim telah memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-lakinya. Di Eropa misalnya, perempuan Muslim dan laki-laki Muslim rata-rata meraih tahun sekolah yang sama di antara generasi termudanya. Di daerah Asia Pasifik dan Timur Tengah-Utara Afrika – rumah bersama sebagian besar umat Islam dunia – kesenjangan tersebut telah sangat menyusut. | Sumber : Caryle Murphy dalam pewresearch.org

Reporter : Nur Eka Oktavia Suryani