Tantangan terbesar yang dihadapi guru saat ini adalah menjaga visi idealisme profesi di tengah derasnya arus materialisme.
wartapilihan.com, Semarang--Hal ini disampaikan oleh Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dalam sebuah silaturahmi (Jum’at, 12/9/2025) dengan para guru di SMPTQ Pangeran Diponegoro Tembalang, Semarang.Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang berada dibawah naungan DDII.
Dr. Adian menyoroti bahwa gaji guru sering kali jauh dari ideal, misalnya di angka Rp2-3 juta per bulan, padahal ia meyakini seharusnya bisa mencapai puluhan juta. Kompensasi yang rendah ini berpotensi mengikis semangat pengabdian dan amal. Selain itu, guru juga menghadapi masalah internal seperti trauma atau beban mental yang dapat menghambat kinerja.
Menurutnya, terjadi degradasi dalam cara pandang masyarakat terhadap profesi guru itu sendiri. Di banyak negara maju seperti Belanda, anak-anak terpintar justru didorong untuk menjadi guru. Namun, di Indonesia, profesi ini sering kali tidak dianggap sebagai pilihan utama yang menarik. Padahal, pekerjaan guru adalah yang paling mulia dan paling sulit, karena tugas utamanya adalah memperbaiki hati manusia.
Menerapkan Visi Ideal di Sekolah
Visi idealisme profesi guru dari Dr. Adian Husaini dapat diterapkan di sekolah melalui beberapa langkah praktis:
- Fokus pada Hati dan Akhlak: Pendidikan harus memprioritaskan perbaikan hati dan jiwa siswa sebagai inti dari seluruh proses belajar. Dengan hati yang bersih, akhlak baik akan muncul secara spontan. Prioritas ini juga menempatkan ilmu agama di atas mata pelajaran lain yang tidak wajib.
- Guru sebagai Kreator, Bukan Hanya Pengajar: Guru tidak boleh sekadar berfungsi sebagai pengajar yang menyampaikan materi. Mereka harus menjadi “kreator” yang mampu membentuk siswa menjadi pribadi yang memiliki iman kuat, berakhlak mulia, dan berilmu. Guru harus menjadi teladan dengan mencontohkan kejujuran dan kerja keras.
- Membangun Budaya Ikhlas: Sekolah perlu menanamkan pemahaman bahwa rezeki guru datang dari Allah, bukan semata-mata dari gaji. Guru harus fokus pada perjuangan dan keikhlasan, sementara urusan kesejahteraan menjadi tanggung jawab yayasan atau pemerintah.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, diperlukan apresiasi yang lebih besar terhadap profesi guru. Peningkatan gaji dan tunjangan guru perlu diprioritaskan, baik oleh perguruan tinggi, yayasan, maupun pemerintah. Jika hal ini terwujud, motivasi guru akan meningkat dan kualitas pendidikan secara keseluruhan pun akan terangkat.

