Oleh: Abu Shaffa
Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat lebih dari 71 persen anak usia sekolah sudah memiliki gawai pribadi. Sementara itu, riset Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menemukan 72,25 persen Muslim Indonesia masih belum lancar membaca Al-Qur’an. Dua angka ini, jika dibaca berdampingan, menyingkap sebuah ironi yang menyakitkan bagi umat yang lahir dari wahyu “Iqra'”.
Wartapilihan.com, Bogor– Di sebuah ruang keluarga, seorang anak balita menunjukkan keahliannya menggulir layar ponsel dengan gerakan tangan yang lincah—namun tercengang ketika diberikan sebuah buku bergambar. Ia lebih cepat menemukan tombol “skip” iklan YouTube daripada mampu menyebutkan nama hewan di halaman bukunya.
Adegan ini bukan lagi anekdot langka, melainkan potret keseharian yang kini menghiasi sebagian besar rumah Muslim Indonesia. Sementara para orang tua sibuk mengunduh aplikasi belajar terkini untuk putra-putri mereka, sebuah pertanyaan fundamental jarang diajukan: apa sesungguhnya yang sedang dibentuk oleh layar-layar itu di dalam jiwa generasi kita?
Matematika Keterpaparan: Angka yang Tak Bisa Dibantah
Data berbicara dengan keras. Badan Pusat Statistik mencatat sepertiga lebih anak usia dini di Indonesia sudah menjadi pengguna aktif gadget, dengan porsi anak usia 5–6 tahun bahkan melampaui separuh dari kelompok usianya. Survei KPAI semakin mempertegas gambaran ini: lebih dari 71 persen anak usia sekolah telah memiliki gawai pribadi, dan mayoritas dari mereka diizinkan menggunakannya bukan sekadar untuk tujuan belajar.
Yang lebih mengkhawatirkan, angka ini terus merangkak naik. Staf Khusus Kementerian Komunikasi dan Digital mengungkapkan bahwa durasi layar anak Indonesia kini berkisar 5 hingga 7 jam per hari—melampaui jauh rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang membatasi anak usia 6–12 tahun hanya 90 menit dan remaja 12–18 tahun 120 menit per hari, itu pun dengan pengawasan dan konten yang edukatif. IDAI juga menegaskan bahwa kelompok paling rentan terhadap dampak buruk gadget justru balita di bawah dua tahun, usia ketika seharusnya interaksi manusiawi dan stimulasi langsunglah yang membentuk fondasi otak mereka.
Konsekuensinya bukan sekadar “kecanduan layar” yang terdengar klise. Berbagai kajian pengabdian masyarakat di lingkungan sekolah dan majelis taklim mencatat dampak nyata yang mengkhawatirkan: kemampuan bicara anak prasekolah yang terhambat, gangguan pola tidur, penurunan prestasi akademik, hingga masalah interaksi sosial dan emosional pada anak-anak yang durasi layarnya melampaui batas ideal.
Brain Rot: Ancaman yang Kini Punya Nama dan Wajah
Fenomena ini bahkan telah diberi nama resmi. Oxford University Press menobatkan brain rot sebagai Word of the Year 2024—istilah yang menggambarkan kemunduran kemampuan mental dan intelektual akibat konsumsi konten remeh secara berlebihan, terutama konten daring. Penggunaan istilah ini melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun, dan yang mengkhawatirkan, gejala ini pertama kali populer justru di kalangan Gen Z dan Gen Alpha—generasi anak-anak dan remaja kita hari ini.
Sebagaimana telah diulas sebelumnya dalam artikel “Lebih Takut Lowbat: Ironi Umat Iqra di Era Brain Rot” , ironi ini terasa lebih getir ketika dibenturkan dengan identitas kita sebagai umat yang lahir dari wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Skor literasi membaca Indonesia dalam PISA 2022 tertinggal jauh di bawah rata-rata dunia, dan riset IIQ Jakarta—yang melibatkan 3.111 responden di 25 provinsi—mencatat 72,25 persen Muslim Indonesia masih belum lancar membaca Al-Qur’an. Jika krisis literasi orang dewasa saja sudah sebegitu parahnya, generasi yang tumbuh dengan durasi layar 5–7 jam sehari sejak balita berisiko mewarisi kondisi yang jauh lebih rapuh.
Kehilangan Daya Kritis: Ancaman yang Lebih Berbahaya dari Hoaks
Ini bukan sekadar kekhawatiran generasional yang berlebihan. Ketika otak anak dilatih sejak dini untuk merespons stimulasi cepat dan instan, kemampuan yang justru paling dibutuhkan di masa depan—berpikir kritis, membaca dengan pemahaman mendalam, bersabar menelaah suatu persoalan—perlahan tergerus. Anak yang kehilangan daya konsentrasi akan kesulitan menyaring hoaks, mudah terprovokasi, dan rentan terhadap normalisasi perilaku menyimpang yang deras mengalir di linimasa mereka.
Dari sudut pandang Islam, ancaman ini punya dimensi yang lebih dalam: hilangnya tazkiyatun nafs, penyucian jiwa yang semestinya lahir dari proses membaca dan merenung. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Bila anak-anak lebih akrab dengan hiburan digital yang dangkal ketimbang dengan mushaf dan buku bermakna, maka yang terancam bukan hanya kecerdasan mereka, melainkan juga koneksi mereka dengan ilmu sebagai jalan mengenal Allah—sebagaimana dicontohkan para ulama yang menjadikan buku sebagai “mihrab kedua” di masa keemasan Islam.
Melarang Bukan Jawaban: Mencari Jalan Tengah di Era Digital
Persoalannya, melarang gadget sepenuhnya bukan solusi realistis di zaman ini. Anak-anak akan tetap tumbuh dengan layar di tangan mereka. Pertanyaannya bukan lagi “bagaimana menjauhkan anak dari layar”, melainkan “bagaimana mengisi layar itu dengan sesuatu yang menghidupkan, bukan mengikis, akal dan jiwa mereka.”
Di sinilah ruang bagi inisiatif-inisiatif literasi digital berbasis nilai mulai tumbuh. Salah satu contohnya adalah Littera Reader—platform pembaca komik edukasi Islami berbasis web yang penulis ikut kembangkan, di mana setiap rujukan dalil Al-Qur’an dan haditsnya diverifikasi ketat sebelum disajikan dalam format strip yang akrab dengan cara anak-anak zaman sekarang mengonsumsi konten. Alih-alih menjauhkan anak dari layar, pendekatan semacam ini justru menempatkan layar sebagai pintu masuk menuju kebiasaan membaca dan merenungi dalil—format visual yang ringan menjadi jembatan, bukan tujuan akhir.
Inisiatif seperti ini tentu bukan solusi tunggal. Ia hanya berarti jika berjalan beriringan dengan ikhtiar di tingkat keluarga, komunitas, dan kebijakan.
Tiga Langkah Konkret yang Bisa Dimulai Hari Ini
Krisis ini tidak akan selesai dengan artikel atau imbauan semata. Ia butuh langkah konkret dan berulang:
- Di tingkat keluarga: tetapkan batas durasi layar sesuai rekomendasi IDAI, dampingi anak memilih tontonan, dan kembalikan buku fisik serta mushaf ke dalam rumah—gantikan sebagian waktu layar dengan membaca bersama, termasuk memanfaatkan komik edukatif berbasis dalil sebagai jembatan.
- Di tingkat komunitas: hidupkan kembali pojok baca dan halaqah literasi Al-Qur’an di masjid dan majelis taklim, bukan hanya sebagai kegiatan musiman, serta dukung dan sebarkan alternatif konten digital yang mendidik.
- Di tingkat kebijakan: dorong penegakan literasi digital yang dijanjikan pemerintah agar sungguh-sungguh menyasar generasi paling muda, bukan sekadar wacana.
Selagi Masih Ada Waktu
Baterai ponsel yang lowbat memang mudah membuat kita cemas. Namun ancaman yang jauh lebih nyata adalah ketika generasi mendatang kehilangan rasa ingin tahu, kehilangan kemampuan merenung, dan asing dari kitab sucinya sendiri. Krisis harapan—hilangnya keyakinan bahwa membaca dan belajar akan membuahkan hasil—membuat banyak orang tua terjebak dalam “jalan pintas” gadget yang sebenarnya telah dirancang sistemis untuk membuat anak-anak kita kehilangan masa depan yang lebih cerah.
Selama masih ada waktu—dan selama kita masih mau memulai dari rumah kita masing-masing—jalan pulang menuju Iqra’ itu belum tertutup.
Wallahu a’lam.
penulis adalah alumni Pesantren Pertanian Darul Fallah.

