Oleh: Abu Shaffa
Dua puluh empat jam terasa semakin pendek bagi kita yang sibuk mengejar notifikasi. Kita hidup di era ketika baterai ponsel yang menipis menjadi sumber kecemasan akut, sementara moral yang merosot — entah mengapa — justru bisa ditoleransi.
Ironi ini bukan sekadar gaya bahasa, melainkan potret nyata masyarakat yang sedang terseret pusaran fenomena brain rot: degradasi kemampuan berpikir akibat konsumsi konten digital dangkal secara terus-menerus.
Iqra: Perintah Pertama yang Terlupakan
Dalam perspektif Islam, membaca bukan sekadar aktivitas kognitif atau hobi pengisi waktu luang; ia adalah perintah ilahi. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukan tentang shalat, zakat, atau jihad, melainkan satu kata yang ringkas namun menggetarkan semesta: Iqra’ —Bacalah.
Perintah “Iqra’ Bismi Rabbika” menegaskan bahwa aktivitas membaca harus dilandasi niat karena Allah, sebagai ibadah untuk memahami rahasia ciptaan-Nya. Allah bahkan bersumpah demi Qalam (pena), menegaskan betapa agungnya tradisi menulis dan mendokumentasikan ilmu. Rasulullah SAW kemudian mengunci semuanya dengan satu ketetapan: menuntut ilmu adalah fardu bagi setiap Muslim, tanpa pengecualian.
Namun, sebuah pertanyaan besar mengusik kita: ke mana perginya semangat itu hari ini?
Ketika Layar Mengalahkan Lembaran
Data berbicara dengan keras. Penilaian PISA 2022 (OECD) menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 hingga ke-71 dari 81 negara dalam literasi membaca. Skor kita yang hanya 359 berada jauh di bawah rata-rata dunia sebesar 469. Sementara itu, riset dari Central Connecticut State University (CCSU) bahkan lebih mencengangkan: budaya membaca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara.
Di sisi lain, laporan Data Reportal 2025 mencatat masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di dunia maya. Fakta ini menampar kita pada satu kesimpulan: kita bukan bangsa yang tidak punya waktu untuk membaca, melainkan bangsa yang memilih untuk tidak membaca.
Krisis ini diperparah oleh fenomena brain rot. Kondisi ini terjadi ketika otak terlatih hanya untuk merespons stimulasi cepat dari konsumsi konten pendek secara konstan. Ini bukan sekadar kemalasan biasa, melainkan perubahan pola kerja otak yang terjadi perlahan tanpa disadari: kemampuan berkonsentrasi menipis, daya analitis melemah, dan kesabaran untuk membaca teks panjang perlahan lenyap.
Tragedi di Balik Angka
Dampaknya tidak berhenti di ruang baca. Rendahnya literasi melemahkan kemampuan berpikir kritis, yang semestinya menjadi benteng pertama dalam menangkal hoaks, provokasi, dan normalisasi perilaku menyimpang. Pendidikan yang kering dari dimensi literasi mendalam akan gagal menjalankan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa yang melahirkan kejujuran, empati, dan keadilan.
Yang paling menyayat hati adalah angka-angka terkait religiusitas kita. Berdasarkan Indonesia Moslem Report 2019, hanya 38,9% Muslim di Indonesia yang rutin menunaikan shalat. Lebih memprihatinkan lagi, riset Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta mencatat bahwa 72,25% Muslim Indonesia masih buta huruf Al-Quran.
Sungguh sebuah ironi yang getir: umat yang lahir dari wahyu “Bacalah”, justru tidak bisa membaca kitab sucinya sendiri. Kenyataan ini semestinya menggerakkan kita semua untuk mawas diri.
Warisan 600.000 Buku yang Disia-siakan
Ironi ini terasa kian mendalam jika kita menengok sejarah. Pada masa keemasan Islam (700–1500 M), peradaban Muslim memimpin dunia bukan dengan pedang semata, melainkan dengan pena. Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad menyimpan hingga 600.000 buku, di saat perpustakaan terbesar di Vatikan atau Prancis hanya memiliki sekitar 2.000 koleksi.
Pada masa itu, pengajian Imam Ahmad bin Hambal dihadiri oleh 5.000 orang yang menyimak dengan penuh adab. Al-Kindi menulis sekitar 270 karya ilmiah, dan Imam Syafi’i sudah berfatwa di usia 16 tahun. Mereka tidak mengejar ilmu demi popularitas atau materi; mereka belajar karena yakin bahwa memahami alam semesta adalah cara terbaik untuk mengenal kebesaran Allah.
Bagi mereka, ilmu adalah ibadah dan buku adalah mihrab kedua. Kita adalah pewaris sah dari peradaban agung tersebut, namun ironisnya, hari ini kita lebih memilih mewarisi ponsel pintar tetapi berperilaku tidak cerdas.
Memulai Langkah Perubahan
Kebangkitan tidak harus menunggu kebijakan besar negara atau revolusi sosial; ia bisa dimulai dari keputusan kecil kita hari ini.
- Di Tingkat Keluarga: Setiap keluarga Muslim perlu mengembalikan buku ke dalam rumah—bukan sebagai pajangan, melainkan sebagai tradisi hidup. Matikan layar ponsel 30 menit sebelum tidur, gantikan dengan membaca satu halaman Al-Quran atau buku yang bermakna.
- Di Tingkat Komunitas: Jadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ritual shalat, melainkan pusat literasi umat: sediakan pojok baca, hidupkan halaqah ilmiah, dan selenggarakan diskusi tafsir. Inilah fungsi sejati masjid di masa kejayaan Islam.
- Di Tingkat Institusi Pendidikan: Kurikulum pendidikan harus menanamkan paradigma baru: ilmu pengetahuan adalah sarana mengenal Allah, bukan sekadar bekal mencari pekerjaan. Penyucian jiwa harus menjadi inti pembelajaran, bukan pelengkap. Model ini telah dibuktikan oleh Rasulullah SAW yang dalam waktu 23 tahun berhasil melahirkan generasi terbaik sepanjang sejarah manusia melalui Kitab, Hikmah, dan jiwa yang bersih.
- Di Tingkat Negara: Pemerintah harus berani mengalokasikan anggaran yang sepadan untuk beasiswa penuntut ilmu, membangun perpustakaan publik yang merata hingga pelosok, serta menggalakkan program literasi digital. Generasi muda harus dididik untuk menjadi tuan atas teknologi, bukan menjadi budaknya.
Sebelum Baterai Benar-benar Habis
Ada yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar baterai yang lowbat atau hilangnya sinyal , yaitu ketika kita kehilangan rasa ingin tahu, kehilangan kemampuan merenung, dan terputusnya hubungan kita dengan firman Allah.
Ironi terbesar kita hari ini adalah ketika kita membiarkan layar ponsel menggantikan lembaran mushaf dan halaman buku dalam mengisi pikiran serta waktu kita. Mengatasi bencana literasi ini adalah langkah mutlak yang tidak bisa ditawar jika kita sungguh-sungguh ingin kembali menjadi umat yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Beruntunglah mereka yang menyucikan jiwanya dengan ilmu, dan merugilah mereka yang mengotori otaknya dengan konsumsi instan tanpa makna.
Wallahu a’lam.

