Pasca Gempa Lombok

by
Dua orang warga yang harus berjalan sejauh 10 kilometer agar dapat mengakses air bersih. Foto: Hilman / INA News.

Dalam tiga bulan kedepan, warga masih harus tinggal di pengungsian.

Wartapilihan.com, Lombok –“Rumah kami hancur, mata pencaharian ndak ada, kami bingung mau apa setelah ini,” Hadri, salah satu warga Dusun Tanah Lilin, Desa Bilopetung, Sembalun, Lombok Timur, kepada INA News, Kamis (16/8/2018).

Hadri belum punya rencana untuk bekerja dan membangun rumah. Hadri masih trauma, sehingga belum berani meninggalkan keluarga. Saat ini, ia hanya menunggu bantuan pemerintah.

“Belum tahu mau apa, kita mau lihat dulu gimana bantuan pemerintah,” lanjutnya.

Selain itu, masalah yang dihadapi pengungsi adalah tempat tinggal sementara. Setidaknya dalam 3 bulan ke depan, warga masih akan tinggal di pengungsian.

“Kami akan tetap di sini minimal tiga bulan lagi,” kata Muhammad Ali (32), warga Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur.

Namun Ali mengaku bingung kapan bisa menempati rumah baru. Biaya yang besar menjadi alasan utamanya.

“Mungkin satu tahun lagi kami mengungsi, karena kami sendiri ndak tahu kapan punya biaya buat bikin rumah,” lanjutnya.

Ali pun mengkhawatirkan kondisi pengungsian saat musim hujan tiba.

“Kita mengungsi di kebun, kalau hujan, habislah sudah,” pungkasnya.

Sementara itu, Supiadin (46), warga Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur, menyampaikan harapannya kepada relawan agar tetap memberi perhatian terhadap korban bencana di Lombok.

“Berharap relawan tetap ada selama kami ngungsi, terutama medisnya,” ungkap Supiadin, Kamis (16/8/2018).

Supiadin mengungkapkan jika keberadaan Relawan sangat membantu masyarakat. Namun ia khawatir seandainya relawan yang saat ini bertugas berangsur pulang. Sehingga ia berharap ada relawan-relawan baru yang datang dari penjuru Indonesia.

“Kalaupun harus pulang, ada penggantinya dari daerah lainnya di Indonesia,” tambahnya.

Kebutuhan pengungsi masih sangat banyak. Di Sembalun misalkan, warga sangat kesulitan mendapatkan beras.

“Iya masih perlu banyak bantuan, di sini beras sulit. Kami hanya panen beras merah setahun sekali.”

Selain itu, pasca ratusan gempa susulan, kata Supiadin, banyak tembok-tembok yang berjatuhan.

Dan itu yang dikhawatirkan akan mencelakakan anak-anak. Sehingga ia berharap aparat segera merobohkan dan membersihkan reruntuhan.

“Kami khawatir sama anak-anak, jadi kami berharap aparat segera melakukan survei untuk membongkar rumah kami,” pungkasnya.

Kesulitan Akses Air Bersih

Para pengungsi di Lombok Utara masih kesulitan mendapatkan akses air bersih dan makanan pokok. Ratimi (40), seorang pengungsi di Dusun Tanah Lilin Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara mengaku harus melakukan perjalanan hingga berkilo-kilo meter.

“Belum ada bantuan, kami cari air sama beras jauh, 10 kilometer baru dapat,” ungkap Ratmini (40), Rabu (15/8/2018).

Menurutnya, bantuan sulit masuk ke kampungnya karena jalan menuju Dusun Tanah Lilin sulit diakses. Jalan yang sempit dan retak akibat gempa hanya bisa ditempuh oleh sepeda motor.

Selain krisis air dan makanan, Ratmini menambahkan bahwa Dusun Tanah Lilin masih kekurangan tenda dan selimut.

“Kami di sini kekurangan tenda sama selimut,” lanjut Ratmini.

Muhammad Ali (19), putra dari Ratmini, mengaku dirinya harus menempuh jarak 10 km untuk menuju sumber mata air di Mendala, Lombok Utara.

Setiap harinya, Ali yang ditemani sang adik, Riawan Hadi (17) membawa 2 jerigen yang berisikan 40 liter air untuk sekali mandi keluarga.

“Sehari kita bawa dua jerigen air, pagi sama sore, dua kali mandi, dua kali ambil air,” kata Ali. Hal serupa masih dialami ribuan pengungsi lainnya di Kabupaten Lombok Utara, bahkan dalam pantauan INA News Agency, warga hingga berkumpul di pinggir jalan untuk meminta bantuan.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *