Naturalisasi Ilmu Pengetahuan

by
Budi Handrianto, pakai peci putih. Foto: Zuhdi

Namun, ukuran nyata dari keberhasilannya yang spektakuler ditunjukkan dengan munculnya selama fase kedua, sejumlah besar pemikir muslim yang tangguh, yang kesetiaannya pada pandangan dunia Helenistik tentang materi, pemikiran, dan nilai-nilai dapat diberikan hanya dengan sebuah komitmen yang penuh. Mereka adalah al-Farabi, Ibn Sina, lbn Haitham, al-Biruni, dan Ibnu Rusyd.

“Saya menyebut mereka muslim karena mereka menganggap diri mereka sendiri scperti itu dan karena mereka penuh perhatian terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan oleh benturan antara kepercayaan-kepercayaan religius mereka dan dokrin HelHelenis,” papar dia.

Tahap ketiga adalah tahap ketika filsafat, tipe pemikiran dan wacana (discourse) yang terdapat dalam tulisan para filosof sepeni al-Farabi, Ibn Sina, mulai dipraktekkan dalam konteks kalam, yang dokter-filosof (diwakili oleh al-Razi) digantikan oleh dokter qadhii (hakim) (diwakili oleh lbn Nafis), ahIi matematika (ta’limi) oleh sang faradi, dan astronom-astrolog oleh para al-muwaqit.

“Pepatah mengatakan sejarah selalu berulang, kembalinya kemajuan peradaban Islam melalui ilmu pengetahuan yang pernah dicapai umat Islam sebelumnya, bisa terwujud di jaman modern ini. Umat Islam telah memiliki pengalaman dan rasa kebanggaan yang tinggi terhadap sejarah masa Ialu. Oleh karena itu, dorongan untuk mencapai cita-cita jaman sekarang ini bisa didorong oleh teori-teori yang dikemukakan para pakar tentang kemajuan Islam di masa lain,” pungkasnya.

Ahmad Zuhdi