Naturalisasi Ilmu Pengetahuan ke dalam Islam
Kemunculan sains di dunia Islam dan Eropa Barat memang ada masa pemindahan, namun ada juga masa pengunyahan, pencernaan dan penyerapan, yang juga berarti penolakan. Tidak pernah ada sains yang diserap ke dalam sebuah peradaban tanpa penolakan sedikit pun.
“Mirip dengan tubuh kita, kalau kita cuma makan saja, tetapi badan kita tidak mengeluarkan sesuatu, maka dalam beberapa hari saja, kita akan mati. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus dibuang,” terangnya, menganalogikan korelasi peradaban dengan sains.
Tahapan Apropriasi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Profesor yang khusus membidangi sejarah optik, Abdelhamid Ibrahi Sabra (1924-2013) dalam artikelnya menulis tiga tahapan apropriasi atau naturalisasi ilmu pengetahuan dari Yunani ke peradaban Islam. Yakni tradition, transmission and tranformation. Kemudian diikuti tahap keempat yaitu tahap kemerosotan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Tahap pertama adalah fase akuisisi, melalui penerjemahan karya-karya dari Bahasa Yunani dan Syriac ke dalam Bahasa Arab. llmu pengetahuan Yunani ini memasuki wilayah peradaban Islam bukan sebagai kekuatan penjajah (an invading force) dari pusatnya yang kuat di Iskandariah atau Antiokia atau Hanan, melainkan sebagai tamu yang diundang (an invited guest).
Namun, pada tahap ini sang tuan rumah yang mengundangnya masih menjaga jarak dan menunjukkan kewaspadaan karena hormatnya terhadap agama (regard to the important matter of religion). Kewaspadaan dan pengambilan jarak ini telah memberi jalan pada rasa ingin tahu yang tinggi dan eksperimen intelektual.
Selanjutnya adalah fase penerimaan atau adopsi, di mana tuan rumah mulai mengambil dan menikmati oleh-oleh yang dibawa sang tamu. Sabra berkata, “Sang tamu terbukti memiliki pesona atas tuan rumahnya jauh melampaui janji kemampuan-kemampuan praktisnya. Daya-daya persuasinya dapat dilihat dari adopsi Helenisme yang tidak terduga hampir secara langsung dan tanpa syarat oleh anggota rumah tangga muslim seperti al-Kindi.

