Menemukan Kembali Hakikat Manusia di Tengah Arus Sekularisme

by

oleh: Taufik Hidayat

Di era modern, disaksikan pergulatan wacana mengenai definisi manusia. Di satu sisi, arus sekularisme-liberal berusaha mendefinisikan manusia semata-mata sebagai makhluk rasional yang otonom, terpisah dari campur tangan Ilahi. Di sisi lain, Islam menawarkan pandangan holistik; bahwa manusia adalah perpaduan harmonis antara dimensi fisik, psikologis, dan spiritual yang terikat mitsaq dengan Tuhan.

Artikel ini akan menelusuri bagaimana sekularisme mencoba memisahkan moralitas dari agama, lalu menjawabnya dengan konsep luhur Fitrah dan Akhlaq dalam Psikologi Islam, serta bagaimana seharusnya memahami dinamika takdir dan kehendak bebas sebagai hukum kausalitas kehidupan.

Kedewasaan Semu dalam Moralitas Sekuler

Tantangan bagi keberagaman di abad ke-21 bukan hanya ateisme, melainkan upaya sistematis untuk mensekularisasi moral. Kaum liberal-sekuler melontarkan narasi menggoda: “It’s better to be moralist rather than religious” (Lebih baik bermoral daripada beragama). Bagi mereka, agama tidak lagi relevan sebagai kompas etika (Zarkasyi, 2017).

Tokoh sekuler Patrick Nowell-Smith, dalam kritiknya menyebut moralitas keagamaan sebagai sesuatu yang infantil atau kekanak-kanakan (Nowell-Smith, 1967). Argumennya didasarkan pada teori perkembangan kognitif Piaget, di mana anak-anak mematuhi aturan hanya karena takut pada otoritas orang tua. Nowell-Smith menganggap orang beragama sama seperti anak kecil tersebut: patuh buta pada perintah Tuhan tanpa menggunakan nalar kritis (Mitchell, 2000). Menurut pandangan ini, manusia modern baru dianggap dewasa jika ia mampu merumuskan etika moralnya sendiri tanpa intervensi wahyu Ilahi.

Namun, pandangan ini mengandung cacat logika dalam perspektif Islam. Sekularisme menganggap kebebasan dari Tuhan adalah puncak kedewasaan. Sebaliknya, Psikologi Islam memandang bahwa otonomi tanpa panduan wahyu justru akan menjebak manusia pada relativisme moral, di mana baik dan buruk ditentukan semata oleh selera zaman atau konsensus sosial yang rapuh. Islam tidak mematikan nalar; justru wahyu memandu nalar (‘aql) agar tidak tersesat oleh hawa nafsu. Kedewasaan sejati dalam Islam adalah ketika seorang hamba secara sadar memilih kebaikan bukan karena takut semata, tetapi karena kesadaran spiritual akan pengawasan Allah (muraqabah).

Melampaui Dualisme Baik dan Buruk

Jika Barat masih berdebat apakah manusia itu pada dasarnya baik (seperti pandangan Rousseau) atau jahat (seperti pandangan Freud/Hobbes), Islam telah menyelesaikan perdebatan ini dengan konsepnya.

Al-Qur’an mengakui adanya potensi ganda dalam diri manusia. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syams ayat 8: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. Ini berarti potensi untuk menjadi malaikat atau binatang sama-sama tertanam dalam diri kita (Hermawan, 2020). Namun, ini bukan berarti manusia mewarisi “dosa asal”.

Justru, Islam menegaskan konsep Fitrah. Dalam Surah Al-Infithar ayat 7, Allah berfirman “Dia telah menjadikan engkau adil”, dan adil di sini sebagai kecenderungan bawaan untuk mencintai kebenaran dan kebaikan (Aryani, 2018). Fitrah adalah potensi laten pada manusia yang dasarnya rindu pada Tuhan (Tauhid). Adapun kejahatan merupakan debu yang menutupi cermin hati tersebut karena pengaruh lingkungan, bukan sifat asli manusia.

Oleh sebab itu, struktur psikis manusia dalam Islam dapat dipetakan sebagai interaksi dinamis antara tiga elemen utama. Pertama, al-Qalb (hati) sebagai pusat komando atau raja dalam diri. Ia adalah wadah yang bisa diisi cahaya iman atau kegelapan dengki. Kesehatan mental dalam Islam bergantung pada kondisi Qalb ini.

Kedua, an-Nafs (jiwa/diri) selaku medan pertempuran antara dorongan syahwat (nafs ammarah) serta dorongan spiritual (nafs mutmainnah). Kemudian, keberuntungan manusia bergantung pada kemampuannya mentazkiyah nafs ini (Nasikhin, 2008). Dan ketiga, al-‘Aql (akal) sebagai alat untuk mengikat (‘iqal) hawa nafsu dan membimbing manusia memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Kepribadian dan Akhlaq

Dalam psikologi modern, terdengar istilah kepribadian (personality). Namun, Psikologi Islam lebih menekankan pada akhlaq. Apa bedanya? Kepribadian bersifat deskriptif dan netral nilai. Seseorang bisa memiliki kepribadian ekstrovert, dan itu tidak dinilai sebagai dosa atau pahala. Sebaliknya, akhlaq bersifat evaluatif; ia berkaitan dengan baik-buruk di mata Tuhan.

Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlaq sebagai kondisi batin yang tertanam kokoh (hai’ah rasikhah), yang darinya lahir tindakan secara spontan tanpa perlu pertimbangan yang lama (Safrilsyah et al., 2017). Jika perilaku baik hanya muncul saat ada orang lain (pencitraan), itu bukan akhlaq, melainkan topeng kepribadian. Sementara, akhlaq adalah karakter otentik yang muncul walaupun saat sendirian.

Oleh karena itu, tujuan Psikologi Islam ialah membentuk pribadi yang berakhlak (yang selamat dunia-akhirat). Ini menjelaskan mengapa dalam Islam, kesuksesan terapi jiwa diukur dari kedekatan seseorang kepada Allah dan kemampuannya mengendalikan impuls negatif, bukan sekadar hilangnya kecemasan (Suhaidi, 2011).

Dinamika Kehendak Bebas dan Takdir

Salah satu pertanyaan abadi manusia adalah “Apakah kita wayang yang digerakkan dalang, atau penulis skenario hidup kita sendiri?” Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memikul amanah (tanggung jawab moral), yang berarti manusia memiliki Ikhtiar (kehendak bebas untuk memilih). Tanpa kehendak bebas, konsep pahala dan dosa menjadi tidak adil (Diponegoro, 2002).

Jalaluddin Rumi, sang sufi agung, menggambarkan takdir (qadar) bukan sebagai belenggu yang mematikan gerak, melainkan sebagai hukum kehidupan atau sunnatullah. Takdir adalah sistem sebab-akibat yang ditetapkan Tuhan. Jika Anda memukulkan kepala ke tembok, takdirnya adalah sakit. Anda bebas memilih untuk memukul atau tidak, tetapi Anda tidak bebas dari konsekuensi (takdir) rasa sakit itu jika Anda memilih memukul.

Inilah yang disebut sebagai hukum kausalitas dalam psikologi perilaku. Perilaku manusia memiliki tujuan (teleologis). Setiap tindakan baik ibadah maupun maksiat merupakan upaya sadar untuk memenuhi kebutuhan, dan setiap respons itu akan melahirkan konsekuensi yang telah ditetapkan Tuhan. Dengan memahami ini, manusia tidak menjadi pasif (fatalis), melainkan menjadi aktif dan bertanggung jawab penuh atas nasib jiwanya sendiri (Yusuf, 2014).

Menuju Insan Kamil

Pada akhirnya, Psikologi Islam menawarkan peta jalan untuk menjadi manusia utuh (insan kamil). Kita tidak bisa hanya merawat tubuh (jism) dan mengabaikan jiwa (ruh), atau menajamkan otak (‘aql), tapi membiarkan hati (qalb) keruh.

Kesehatan mental dalam Islam adalah keseimbangan harmonis antara dimensi fisik, indrawi, nalar, dan spiritual. Ketika sekularisme mencoba mencerabut “akar langit” dari manusia, Psikologi Islam hadir untuk mengingatkan Kembali, bahwa kita ialah makhluk bumi yang sedang menempuh perjalanan pulang. Tugas psikologi bukan hanya menyembuhkan gejala neurotik, tetapi membantu manusia menyucikan jiwa agar layak bertemu kembali dengan Sang Pencipta dalam keadaan Ridha dan Diridhai.

Referensi

Aryani, S. A. (2018). Psikologi Islami: Sejarah, Corak, dan Model. Yogyakarta: SUKA Press.

Diponegoro, A. M. (2002). Psikologi Islam. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan Press.

Hermawan, A. (2020). Psikologi Islam. Kudus: Yayasan Hj. Kartini.

Mitchell, B. (2000). The Justification of Religious Belief. New York: Oxford University Press.

Nasikhin, A. (2008). Elemen-Elemen Psikologi Islami dalam Pembentukan Akhlak. (Skripsi). Semarang: UIN Walisongo.

Nowell-Smith, P. H. (1967). Religion and Morality. Dalam P. Edwards (Ed.), The Encyclopedia of Philosophy (Vol. 7). New York: Macmillan.

Safrilsyah., Yusoff, M. Z. M., & Othman, M. K. (2017). Moral dan Akhlaq dalam Psikologi Moral Islami. Jurnal Psikoislamedia, 2(2), 115-126.

Suhaidi. (2011). Konsep Pembinaan Moral (Studi Komparatif antara al-Ghazali dengan Lawrence Kohlberg). (Tesis). Pekanbaru: UIN Sultan Syarif Kasim.

Yusuf, E. (2014). Hubungan antara Etika dan Ilmu Jiwa dalam Islam. (Skripsi). Makassar: UIN Alauddin.

Zarkasyi, H. F. (2017). Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam. Jakarta: Khairul Bayan.

 

Memadukan logika saintek dan wawasan soshum adalah inti profil kami. Berlatar belakang pendidikan Teknik Elektro (UGM & PENS) serta pengalaman mengajar di pesantren, kami memiliki perspektif unik dalam memandang saintek. Setelah berkarier di sektor industri, kini mengabdi sebagai Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama di Dinas ESDM Jawa Barat. Peran ini diperkaya dengan aktif menulis isu saintek melalui kacamata soshum, meyakini bahwa kemajuan harus selalu selaras dengan nilai-nilai pemikiran peradaban.