Arsitektur Islam: Melampaui Estetika, Menuju Etika Peradaban

by
{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7601289571543862546"}}

Oleh: Taufik Hidayat

Seringkali, ketika mendengar frasa Arsitektur Islam, imajinasi kolektif kita langsung tertuju pada kemegahan kubah emas, lengkung (arch) yang kompleks, atau ornamen geometris yang menghiasi masjid megah. Ini tidak sepenuhnya salah, sebab arsitektur memang merupakan salah satu pencapaian sains dan seni dalam peradaban Islam. Jejak fisiknya terentang dari istana, taman, sekolah, hingga yang fundamental layaknya masjid.

Ada kegelisahan bahwa pemahaman arsitektur Islam hari ini terjebak pada aspek fisik, seperti langgam, bentuk, dan peninggalan sejarah semata. Padahal, esensi arsitektur Islam bukanlah sekadar bentuk, melainkan nilai. Mengutip Ismail Serageldin, arsitek dan intelektual, memelihara lingkungan binaan bukan sekadar menjaga tumpukan batu bata masa lalu, melainkan upaya menjaga identitas yang menghubungkan memori masa lampau dengan aspirasi masa kini.

“Islam”, “Islami”, atau “Muslim”?

Sebelum melangkah lebih jauh, nampaknya perlu menjernihkan kekeliruan umum tentang apakah setiap bangunan di Arab adalah arsitektur Islam? Jawabannya: Belum tentu.

Arsitektur Islam tidak dibatasi oleh geografi Timur Tengah. Ia adalah gagasan yang melintasi batas negara, yang intinya terletak pada nilai hakiki dan semangat moral, bukan sekadar tempelan elemen fisik. Dalam studi akademik, terdapat perdebatan terminologis untuk membedah nuansa ini. Berdasarkan komparasi pemikiran para pakar, dapat memetakan tiga istilah kunci.

Pertama, Arsitektur Islam (Islamic Architecture). Merujuk pada produk fisik atau objek yang dihasilkan oleh budaya Islam. Definisi ini bersifat historis dan benda-sentris, sebagaimana dijelaskan oleh sejarawan arsitektur seperti Robert Hillenbrand yang melihatnya dari aspek bentuk, fungsi, dan makna sejarah (Hillenbrand, 1994). Kedua, Arsitektur Muslim. Merujuk pada subjek pelakunya. Ini adalah karya arsitektur yang dibuat oleh masyarakat Muslim, yang mungkin saja dipengaruhi oleh budaya lokal tempat mereka tinggal.

Dan ketiga, Arsitektur Islami (Islamic Architecture sebagai sifat). Tingkatan tertinggi yang menjadi fokus narasi ini. Istilah tersebut merujuk pada proses dan nilai. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Spahic Omer, arsitektur Islam adalah sebuah kerangka kerja (framework) untuk mengimplementasikan ajaran Islam, yang memfasilitasi aktivitas ibadah dan kehidupan manusia (Omer, 2011). Suatu bangunan bisa saja tidak berkubah, namun jika ia ramah lingkungan, tidak boros, dan memuliakan tetangganya, ia bisa jadi lebih Islami daripada bangunan megah yang menindas lingkungan.

Enam Karakteristik Utama

Jika bentuk fisik bukan patokan utama, lantas apa yang membuat sebuah bangunan berjiwa Islam? Mengacu pada analisis Petruccioli dan Pirani (2002) dalam Understanding Islamic Architecture, terdapat karakteristik fundamental yang harus menjiwai perancangan.

Pertama, Ekspresi Tauhid dan Orientasi. Arsitektur harus memudahkan manusia mengingat Tuhan. Contoh paling sederhana adalah orientasi Kiblat, tidak hanya sebagai arah salat, tapi sebagai simbol kesatuan tujuan hidup umat. Kemudian, Manifestasi Surga (Tadabbur). Konsep taman atau keindahan interior bukan untuk pamer kemewahan, melainkan mengambil makna substantif surga sebagai sarana tadabbur (merenungi) kekuasaan Allah.

Berikutnya, Keagungan dan Kerendahan Hati. Estetika bangunan adalah bentuk penyerahan diri (submission) arsitek terhadap Keagungan Allah. Keindahan yang diciptakan tidak boleh memicu kesombongan, melainkan kepasrahan. Lalu, Tawadhu (Ketidaksombongan). Ini adalah kritik terhadap arsitektur modern yang berlomba “mencakar langit”. Arsitektur Islam mengajarkan tawadhu, tidak berlebih-lebihan dan selaras dengan skala manusia.

Terakhir, Fasilitas Ibadah yang Inklusif. Setiap ruang dalam arsitektur Islam pada hakikatnya harus bisa mewadahi fungsi ibadah dalam arti luas, baik ibadah ritual (mahdhah) maupun sosial (muamalah). Dan Implementasi Syariah. Bangunan harus mendukung, bukan menghalangi, pelaksanaan syariat. Misalnya, tata ruang yang menjaga privasi visual antar-rumah atau pemisahan area yang mendukung etika sosial Islam.

 

Menjawab Tantangan Zaman

Bagaimana filosofi di atas diterjemahkan dalam desain kota masa depan yang berkelanjutan? Nangkula Utaberta, akademisi bidang arsitektur Islam, merumuskan prinsip yang relevan dengan isu global hari ini, seperti perubahan iklim dan kesenjangan sosial (Utaberta, 2012).

Pertama, Pengingat dan Ibadah. Ruang kota harus didesain agar setiap tempat adalah masjid (dalam arti tempat sujud), memudahkan akses spiritual di tengah kesibukan duniawi. Lalu, Kesantunan (Tawadhu) dan Kebersamaan. Bangunan tidak boleh egois. Ia harus sopan terhadap bangunan tetangga (misalnya tidak memblokir sinar matahari tetangga) dan memprioritaskan kepentingan umum di atas privat.

Kemudian, Waqaf dan Kesejahteraan Publik. Ini adalah konsep ekonomi-sosial yang revolusioner. Ruang publik dan fasilitas umum didahulukan melalui mekanisme wakaf, memastikan kota yang inklusif bagi si kaya dan si miskin. Tak lupa, Toleransi Budaya. Arsitektur Islam terbilang adaptif. Ia menghormati budaya lokal (seperti Masjid Demak yang merangkul bentuk Joglo), selama tidak bertentangan dengan syariat.

Dan Efisiensi dan Kelestarian (Sustainability). Jauh sebelum isu global warming tren, Islam melarang tabdzir (pemborosan). Arsitektur Islam menuntut penggunaan material yang efisien, hemat energi, dan ramah lingkungan. Pun Keterbukaan. Desain yang tidak eksklusif, melainkan mengundang interaksi sosial yang sehat.

Arsitektur sebagai Rahmatan Lil Alamin

Dari paparan di atas, dipahami bahwa arsitektur Islam tidak tunggal dan seragam. Ia memiliki bahasa yang berbeda tergantung konteks tempat dan fungsi, namun disatukan oleh tata bahasa nilai yang sama. Ia memadukan teknik bangunan dengan etika bermasyarakat. Dengan demikian, arsitektur harus dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi semesta alam). Pengaturan ruang bukan sekadar soal estetika, tetapi soal menjamin harmonisasi hubungan manusia dengan Allah (Hablum minallah), hubungan manusia dengan lingkungan alam (Hablum minal alam), dan hubungan manusia dengan sesama (Hablum minannas).

Arsitektur yang Islami adalah arsitektur yang ketika berada di dalamnya, tidak hanya merasa nyaman secara fisik, tetapi juga merasa damai secara spiritual dan terhubung secara sosial.

 

Referensi

Faisal, B. (2012). Arsitektur Islam atau Arsitektur Islami? [Materi Kuliah/Seminar]. Institut Teknologi Bandung.

Hillenbrand, R. (1994). Islamic Architecture: Form, Function, and Meaning. Edinburgh University Press.

Omer, S. (2011). Islamic Architecture and the Prospect of Its Revival Today. Jurnal Intelek, 6(1), 16-29.

Petruccioli, A., & Pirani, K. K. (Eds.). (2002). Understanding Islamic Architecture. Routledge.

Serageldin, I. (2001). The Architecture of Empowerment: People, Shelter and Livable Cities. Academy Editions.

Serageldin, I. (1996). Historic Cities in Islamic Societies. Dalam Proceedings of the Seminar held in Kyoto. The Aga Khan Trust for Culture.

Utaberta, N. (2012). Notes on Islamic Architecture: Professional and Academic Perspective. (Catatan: Rujukan ini menyimpulkan pemikiran Utaberta yang sering dikutip terkait 8 prinsip arsitektur Islam dalam berbagai jurnalnya seperti Journal of Islamic Architecture).

Memadukan logika saintek dan wawasan soshum adalah inti profil kami. Berlatar belakang pendidikan Teknik Elektro (UGM & PENS) serta pengalaman mengajar di pesantren, kami memiliki perspektif unik dalam memandang saintek. Setelah berkarier di sektor industri, kini mengabdi sebagai Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama di Dinas ESDM Jawa Barat. Peran ini diperkaya dengan aktif menulis isu saintek melalui kacamata soshum, meyakini bahwa kemajuan harus selalu selaras dengan nilai-nilai pemikiran peradaban.