by Iwan Wientania
“Jika kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, tentulah kalian lebih banyak menangis dari pada tertawa.” *(Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam)*
Renungkanlah bahwa malaikat itu tidak ada yang masuk surga namun juga tidak ada yang masuk neraka, sebabnya apa ?
Tak lain karena mereka ditakdirkan semata-mata taat kepada Allah tanpa reserve.
Hidup mereka hanya semata-mata tunduk patuh atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada ujian, tidak ada cobaan hidup, tidak ada badai, tidak ada angin puting beliung, tidak ada bencana sunami atau gempa bumi yang menggoncangkan jiwa seperti yang dialami oleh manusia karena mereka bukan makhluk bumi.
Juga tidak ada huru hara dan tidak ada demo karena tidak ada penguasa korup dan dzalim seperti manusia.
Renungkanlah pula golongan Jin, jangankan jadi khalifah di muka bumi, nama-nama benda saja mereka tidak tahu sehingga Allah menyuruh Adam ‘alaihissalam menyebutkannya di hadapan mereka.
Tapi mereka juga diperintahkan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan yang membangkang dilemparkan kedalam neraka.
Kemudian renungkanlah pula hewan.
Hidup mereka hanya bergerak menurut insting.
Mereka beribadah juga berdasarkan insting, dan mereka tidak dapat membangun peradaban, walaupun mereka juga kawin dan bahkan punya keturunan sebagaimana manusia.
Sebagian mereka menjadi predator terhadap sebagian yang lain.
Mereka ada yang dijadikan tunggangan, teman berburu, menjaga rumah atau sebagai peliharaan dan kemudian disantap oleh manusia.
Tidak ada surga dan neraka bagi mereka.
Hanya saja dijelaskan oleh para ulama bahwa di antaranya ada yang hidup di surga bersama manusia, yaitu onta Nabi Shalih dan anjing Ashabul Kahfi.
Selanjutnya lihatlah pohon dan tumbuh-tumbuhan, mereka hidup namun tanpa bergerak.
Mereka terpacak di bumi.
Kalaupun ada yang bergerak hanya melambai-lambai ditiup angin.
Dan di antara mereka ada yang tumbuh secara alami dan ada yang disemai oleh manusia, dan banyak dari mereka yang dibabat oleh korporat rakus sehingga terjadi banjir bandang seperti yang terjadi di Sumatera beberapa waktu yang lalu.
Hidup mereka hanya untuk hewan dan manusia.
Dan tidak ada surga dan neraka bagi mereka.
Terakhir, lihatlah manusia.
Inilah makhluk Allah yang paling uniq, paling menarik, paling kreatif, paling istimewa dan “sebaik-baik penciptaan (fii ahsani takwim)” kata Allah.
Makhluk yang pandai bergaya, bersolek, tersenyum, tertawa, menangis, merajuk, merayu dan bermanja.
Juga bisa membuat kursi dan meja, dapat membangun rumah dan istana, membuat jembatan dan jalan raya.
Memproduksi kendaraan, dari mobil sampai pesawat ruang angkasa.
Tidak seperti malaikat manusia merdeka untuk menentukan sikapnya : apakah tunduk patuh atau membangkang.
Tapi, di akhirat bagi mereka ada surga dan ada neraka.
Yang beriman masuk surga abadi dan yang kafir masuk neraka selamanya.
Nah, bila manusia tahu detilnya neraka pastilah akan lebih banyak menangis dari pada tertawa.
Namun selama ini ada banyak tipe manusia yang lebih sering tertawa dari pada menangis.
Mereka hidup dalam banyak kenikmatan, dan baru menangis apabila ditinggalkan orang-orang yang dicintai, kedudukan yang dibanggakan, harta benda yang menyenangkan, dan bahkan oleh hal yang sepele.
Mereka lupa dan lengah bahwa di hadapannya ada kematian yang bisa datang kapan saja, di mana saja dalam kondisi apa saja, dan bahkan dalam keadaan sehat dan tertawa terbahak-bahak.
Di setelah kematian itu ada kehidupan baru yang mengerikan untuk orang-orang yang banyak tertawa karena kenikmatan dunia yang dirasakannya sementara dia tidak mengingat Tuhannya.
Mereka tertawa dan tertawa bahkan di atas penderitaan banyak manusia yang mereka khianati dan rampas haknya.
Mereka tidak percaya di hadapannya ada neraka yang dapat membuat logam sekeras apa pun meleleh yang seharusnya untuk itulah manusia menangis, dan dari pada menangis yang panjang di akhirat maka menangislah atas nikmat kebahagian di dunia, dan ancaman neraka yang menyala-nyala sebelum kematian itu tiba.
( Hari pertama Januari 2025 )

