Dunia sedang menahan napas. Memasuki minggu kedua serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke Iran, sebuah tabir baru mulai terbuka: meskipun mereka terbang di langit yang sama, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu ternyata memiliki tujuan akhir yang berbeda.
Wartapilihan.com, Al-Jazeera– Pada awalnya, narasi yang dibangun tampak sangat solid. Setelah bertahun-tahun memperingatkan dunia tentang ancaman nuklir Iran, Netanyahu akhirnya menemukan sosok di Gedung Putih yang bersedia “menyelesaikan tugas” tersebut. Namun, saat debu dari ledakan di Teheran mulai menyelimuti kawasan, perbedaan strategi antara Washington dan Tel Aviv mulai memicu ketegangan.
Trump: “Menang Cepat, Kendalikan Minyak”
Bagi Donald Trump, perang ini tampaknya bukan tentang pendudukan atau perubahan ideologi yang mendalam. Pola pikirnya tetap pada gaya “bisnis dan kemenangan cepat”.
Menurut laporan The Economist, Trump lebih tertarik pada skenario “gaya Venezuela”. Ia ingin Iran menyerah tanpa syarat dan ia bisa ikut menentukan siapa pemimpin baru yang lebih kooperatif. Fokus utamanya bukan menghancurkan seluruh struktur negara Iran, melainkan mengendalikan aliran energi.
Mengapa? Karena Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, akhir bulan ini. Memegang kendali atas pasokan minyak Iran adalah kartu as yang sangat kuat untuk menekan Beijing. Itulah sebabnya Washington dilaporkan sangat marah ketika Israel membombardir tangki-tangki bahan bakar besar di Teheran beberapa hari lalu. Trump ingin minyak itu tetap ada di bawah kendalinya, bukan hangus menjadi asap.
Netanyahu: “Hancurkan Rezim Sampai Akar”
Di sisi lain, bagi Benjamin Netanyahu, ini adalah perang eksistensial. Ia tidak menginginkan sekadar “pemimpin yang lebih kooperatif.” Ia menginginkan perubahan rezim total.
Israel berargumen bahwa selama struktur Garda Revolusi (IRGC) masih utuh, ancaman akan terus ada. Netanyahu ingin “menciptakan kondisi agar rakyat Iran menentukan nasib di tangan mereka sendiri.” Namun, ada juga faktor politik pribadi yang bermain. Dengan pemilihan umum yang membayangi akhir tahun ini di Israel, menghentikan perang terlalu cepat bisa menjadi blunder politik bagi Netanyahu, terutama jika Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas di masa depan.
Dilema di Lapangan
Meskipun serangan udara telah melumpuhkan banyak sistem pertahanan udara Iran, kenyataan di lapangan jauh lebih rumit:
- Struktur Kekuatan Masih Utuh: Meski markas besar mereka dibom, kekuatan inti Garda Revolusi dilaporkan masih berfungsi.
- Risiko Perang Terbuka: Para ahli memperingatkan bahwa selama perang terus berkecamuk, pemberontakan rakyat di dalam Iran justru sulit terjadi karena narasi nasionalisme akan menguat.
- Efek Domino Ekonomi: Washington mulai khawatir serangan yang terlalu luas akan mengganggu ekonomi global dan memicu lonjakan harga energi yang justru merugikan Trump di dalam negeri.
Apa Selanjutnya?
Dunia kini melihat sebuah “ketidakpastian strategis.” Di satu sisi, AS ingin segera mendeklarasikan kemenangan dan pulang membawa konsesi minyak. Di sisi lain, Israel ingin terus menekan hingga rezim Teheran benar-benar runtuh.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah Iran bisa dikalahkan?”, melainkan “siapa yang akan menentukan kapan perang ini berakhir?” Apakah Trump yang akan menarik rem demi ambisi ekonominya, atau Netanyahu yang akan terus memacu gas demi ambisi politik dan keamanannya?
Satu hal yang pasti: persahabatan antara “Tante” dan “Paman” kini sedang diuji oleh realitas perang yang jauh lebih berdarah dan rumit daripada sekadar retorika kampanye.
Diolah dari laporan Al Jazeera dan The Economist (Maret 2026).

