Indonesia Wajib Kawal Temuan PBB

by
Derita perempuan-perempuan Rohingya. Foto: Istimewa

Penyelidikan PBB menyebutkan, terkadang 40 wanita Rohingya diperkosa massal bersama-sama oleh para tentara Myanmar.

Wartapilihan.com, Myanmar — Tim Misi Pencari Fakta PBB yang dipimpin oleh Marzuki Darusman telah bekerja dan menemukan bukti-bukti terjadinya kekerasan dan genosida terhadap minoritas Rohingya di Myanmar.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengapresiasi kerja Misi Pencari Fakta (MPF) PBB di Myanmar. Tim ini telah menemukan bukti-bukti yang memberatkan, bahwa telah terjadi kasus genosida terhadap Rohingya di Myanmar.

“Temuan ini perlu segera diteruskan dan ditindaklanjuti agar memiliki ketetapan hukum secara internasional. Pemerintah Indonesia perlu terus mengawal ini secara konsisten sampai tuntas,” ujar Sukamta kepada Wartapilihan.com di Jakarta, Kamis (30/8).

Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri (BPPLN)DPP PKS ini meminta pemerintah Indonesia agar mendapatkan bahan-bahan secara utuh lalu membawa serta memperjuangkannya di Dewan Keamanan PBB untuk mendapatkan perhatian dan pembahasan secara adil dan proporsional.

“Pemerintah Indonesia harus kita pastikan bahwa Militer Myanmar dan semua yang terlibat dalam kejahatan besar ini segera diadili di Mahkamah Pidana Internasional. Agar para pelaku dijerat dengan hukuman yang setimpal serta dapat memberi efek jera bagi yang lain di seluruh dunia. Kita berharap proses menjadi negara demokratis secara utuh dapat segera terwujud di Myanmar,” harap Sekretaris Fraksi PKS ini.

Sebelumnya, Dewan HAM PBB menemukan laporan dengan temuan-temuan yang menyayat hati. Penyelidikan menyebutkan, terkadang 40 wanita Rohingya diperkosa massal bersama-sama oleh para tentara Myanmar.

Para korban terluka parah sebelum dan selama perkosaan massal terjadi. Beberapa korban, lanjut PBB, mengalami luka gigitan yang dalam. Luka-luka juga terdapat di organ reproduksi mereka karena dilukai dengan pisau atau kayu. Kebanyakan tewas akibat luka-luka ini.

“Salah satu korban selamat mengatakan, ‘Saya beruntung, saya hanya diperkosa oleh tiga pria’,” tulis laporan PBB.

Pengakuan saksi kepada PBB juga mengatakan perkosaan dan kekerasan seksual juga dilakukan terhadap pria dewasa dan anak lelaki.

Kekerasan terhadap Rohingya ini terjadi sejak Agustus tahun lalu, dilakukan tentara Myanmar dengan dalih memberantas kelompok separatis bersenjata. Akibatnya lebih dari 720 ribu orang mengungsi ke Bangladesh.

Laporan PBB dihimpun setelah dilakukan penyelidikan dan interogasi korban antara September 2017 hingga Juli 2018 di Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Inggris. Tim Penyidik Dewan HAM PBB juga melakukan konsultasi dengan 250 organisasi pemerintah, non-pemerintahan, peneliti, dan diplomat.

PBB juga menyatakan, sekitar 10 ribu orang Rohingya tewas dibantai tentara Myanmar. Kekerasan terhadap Rohingya tidak hanya terjadi belakangan ini saja. Menurut laporan PBB, Rohingya telah jadi korban persekusi di Myanmar sejak tahun 1960-an.

Laporan demi laporan PBB soal kekerasan terhadap Rohingya telah bergulir sejak tiga dekade lalu, namun tidak juga ada perbaikan, bahkan ketika Myanmar berganti sistem dari junta ke demokrasi yang kini dipimpin Aung San Suu Kyi.

“Skalanya, kebrutalan, dan sifatnya yang sistematis menunjukkan perkosaan dan kekerasan seksual adalah bagian dari strategi untuk mengintimidasi, meneror, atau menghukum warga sipil, dan digunakan sebagai taktik perang,” ujar laporan PBB.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *