Idul Adha Tanpa Kurban: Sebuah Pelajaran dari Maroko

by

Tahun ini, Maroko membuat keputusan yang menggetarkan banyak hati umat Islam: larangan berkurban saat Idul Adha.

Wartapilihan.com, Bogor– Bukan karena agama mereka berubah, bukan pula karena ingin menolak syariat. Tapi karena kenyataan pahit yang datang dari bumi yang retak dan langit yang enggan menurunkan hujan.

Tujuh tahun kemarau membuat padang rumput mengering. Populasi ternak menyusut hampir 40 persen sejak 2016. Harga seekor kambing melonjak hingga 600 dolar dua kali lipat gaji minimum bulanan rakyatnya. Maka raja mereka, Mohammed VI, mengambil langkah langka: lewat fatwa kenegaraan, ia meminta rakyatnya untuk tidak menyembelih hewan kurban tahun ini. Ia yang akan berkurban atas nama seluruh bangsa.

Tentu, keputusan ini tidak mudah. Sebab Idul Adha bukan sekadar ritual, tapi peristiwa spiritual yang menyatukan umat dalam pengorbanan. Namun, Maroko menunjukkan bahwa akal sehat dan empati bisa berjalan beriringan dengan iman. Bahwa menjaga kehidupan bisa lebih utama dari tradisi yang tak lagi mampu dipikul oleh keadaan.

Apa relevansinya bagi Indonesia?

Pertama, soal krisis pangan dan iklim. Indonesia, dengan pola cuaca yang makin tak menentu, seharusnya mulai bersiap. Ketergantungan pada impor daging, krisis air di beberapa wilayah, dan tekanan pada peternak kecil adalah isyarat bahwa kita tak bisa terus memelihara kebiasaan tanpa menimbang kemampuan bumi.

Kedua, soal solidaritas. Kurban memang ibadah individual, tapi dampaknya sosial. Jika harga kambing naik tajam dan hanya segelintir yang mampu membeli, sementara yang lain terpaksa berhutang demi gengsi kurban di mana letak keikhlasannya? Bukankah lebih baik menyumbang pangan, bibit ternak, atau modal bagi peternak kecil agar mereka bangkit?

Maroko mengingatkan kita: agama bukan sekadar teks, tapi konteks. Kurban bukan soal menyembelih, tapi soal menahan diri dan menimbang maslahat. Dan dalam zaman yang penuh ketimpangan, kadang ibadah terbaik adalah menunda ego, demi menjaga kehidupan bersama.

Idul Adha seharusnya bukan ajang pamer daging, melainkan momen perenungan: siapa yang kita korbankan selama ini demi kenyamanan kita? Siapa yang menanggung beban dari pilihan-pilihan kita yang terlihat religius tapi kadang tak manusiawi?

Kalau bumi sudah memberi sinyal lelah, masihkah kita tega menambahi lukanya dengan kesalehan yang lupa pada kasih sayang?

Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)