Hidup Halal Secara Kaaffah

by
foto:istimewa

Sabda Rasulullah ketika Beliau Saw mendefinisikan ungkapan kata “Ihsan” yakni bahwa: “engkau menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan seterusnya” mengisyaratkan, bahwa seorang hamba menyembah Allah dalam keadaan seperti itu. Berarti, ia merasakan kedekatan dengan Allah dan ia merasa seolah-olah berada di hadapan Allah, dengan keyakinan seakan-akan melihat-Nya.

Keyakinan seperti ini niscaya akan menimbulkan rasa takut, segan dan mengagungkan Allah, seperti dalam riwayat Abu Hurairah: “Hendaklah engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya”. Sikap dan gerak langkah ibadah seperti ini juga menghasilkan ketulusan dalam beribadah, dan berusaha keras untuk terus memperbaiki dan menyempurnakannya.

Selanjutnya tentang sabda Nabi Saw “Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”, sebagian ulama mengatakan, sabda tersebut merupakan penjelasan bagi sabda/hadits yang sebelumnya. Bahwa jika seorang hamba diperintahkan agar merasa diawasi Allah dalam ibadah dan merasakan kedekatan Allah dengan hamba-Nya, hingga hamba tersebut seolah-olah melihat-Nya, maka hal tersebut bisa terjadi baginya.

Dengan keimanannya, ia meyakini bahwa Allah melihat dirinya, mengetahui rahasia hati dan perilakunya, mengetahui yang diperlihatkannya, lahir-batinnya, dan tidak ada sedikit pun dari dirinya yang tidak diketahui oleh Allah. Jika hamba tersebut menempatkan diri dengan posisi seperti ini, maka mudah bagi hamba tersebut untuk beranjak ke posisi kedua, yaitu terus-menerus merasakan kedekatan Allah dengan dirinya sebagai hamba-Nya dan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya, hingga hamba tersebut dapat merasakan seperti melihat-Nya.
Ibadah dengan Kandungan Eksoteris dan Esoteris

Ibadah itu sendiri memiliki kandungan eksoteris dan esoteris. Ibadah dalam aspek eksoteris itu bersifat jasmaniah atau tampak secara material-fisikal. Seperti kayfiat atau tata cara ibadah yang dilakukan dengan gerak anggota tubuh secara fisikal.

Sementara yang esoteris adalah esensi ibadah itu sendiri dalam pengertian nilai dan implikasi dan aplikasi atau tindak-lanjut dari ibadah yang dilakukan. Misalnya ibadah sholat, dari sisi gerakannya disebut aspek eksoteris, tentu tampak sebagai perbuatan yang baik. Tetapi dari segi esensi atau nilai rohaninya, dalam penilaian Allah, orang yang sholat malah bisa jadi celaka, dan diancam disiksa di neraka Wayl. Karena orang itu mengerjakan sholat dengan lalai dan riya’. Niat sholatnya tidak ikhlas karena Allah, tetapi karena ingin dilihat orang, ingin dianggap sebagai orang yang baik dalam pandangan manusia.