Tujuh Pilar Pengasuhan

by
Foto: bersamadakwah.net.

Dewasa ini, di tengah LGBT dan pornografi yang kian marak yang kini menjadi bencana pengasuhan; maka dari itu, orangtua harus bersiap siaga menegakkan pilar-pilar pengasuhan agar anak tidak terjerembab.

Wartapilihan.com, Jakarta — Hal tersebut disampaikan oleh Elly Risman, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati. Dia mengatakan, di tengah kekhawatiran dan ketidaktahuan orangtua, ancaman pengasuhan anak-anak berupa narkoba, pornografi, kecanduan games dan LGBT di era digital ini yang tidak mengenal status ekonomi maupun domisili.

“Selagi anak punya gadget dan mata, semua memiliki ancaman yang sama,” kata Elly, Jum’at, (26/10/2018).

Demikian juga, akhir akhir ini, gelombang gerakan LGBT begitu masif sudah masuk ke kalangan anak-remaja maupun profesional.
Era digital mempercepat guliran gerakan itu hingga salah satu Pemkot mengaku kecolongan.

“Sedangkan di kalangan profesional, kita lihat sendiri atas nama kinerja, kebhinekaan dan HAM, perusahaan-perusahaan besar menempatkan aktivis LGBT di posisi strategis,” ia merasa prihatin.

Pasalnya, mereka mendorong siapa saja untuk coming out dan merasa bangga dengan pilihan orientasi seksualnya.

“Toh diri mereka ada di posisi kerja yang bergengsi! Sudah, tidak perlu takut lagi. Jadi saudaraku, para orangtua. Bangunlah, siap dan siaga sebagai orangtua

Winter is coming? Winter kita adalah bencana yang paling besar itu, karena kita tidak sadar ada bencana,” tegas Elly.

“Sadarilah bahwa menjadi orang tua itu amanah, siap-siaga dan berilmulah. Bencana pengasuhan bukan hanya mengancam orang tua yang anaknya sudah remaja, tetapi juga Anda yang anaknya masih belia,”

Anak kita, terang dia, tidak pernah memilih siapa orangtuanya. Jangan sampai mereka menuntut di hari akhir terkena bencana karena kita sebagai orangtuanya lalai dalam mengasuh mereka.

“Kita harus mengasuh dengan kesadaran dan ilmu, sebelum masalah memaksa kita untuk mencarinya. Jadi bagaimana kita bisa beramal (mengasuh) tanpa berilmu? Yang berilmu saja babak belur menerapkannya,”8 ia menekankan.

Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati yang didanai oleh Kementerian PPPA menunjukkan dampak pornografi pada anak yang kecanduan terbukti mengakibatkan volume otak mereka menyusut di bagian yang membedakannya dengan binatang.

“Beberapa bulan yang lalu, WHO menyatakan kecanduan games sebagai gangguan mental. Jika melihat ciri-ciri dari kecanduan yang disebutkan WHO (ada dalam kumpulan tweet saya di atas), sudah berapa banyak anak anak kita yang sudah kecanduan?” Kata dia.

Kedua, pilar yang perlu diperhatikan yaitu kehadiran ayah untuk memenuhi pundi-pundi jiwa anak. Bertahun-tahun yang lalu, berdasarkan riset sederhana yang Elly Risman lakukan, sudah meneriakkan bahwa Indonesia adalah negara tanpa ayah.

“Ayah ada secara fisik, nampak pagi, nampak sore, namun ayah tidak menyapa anaknya secara emosi. Ayah tidak menyapa anaknya secara spiritual. Secapek apapun ayah, se-tidak bisanya ayah ngomong. Peran ayah banyak dan tak tergantikan,” kata dia.

Berdasarkan penelitian dilakukan intensif di luar negeri, hadirnya ayah dalam pengasuhan akan menghasilkan anak yang memiliki kecerdasan emosi lebih bagus, potensinya lebih optimal, anak-anak tumbuh lebih simpatik, hubungan sosialnya lebih baik, percaya diri tinggi, dan secara akademis dan finansial lebih sukses. Bayangkan!

“Dan penelitiannya menunjukkan bahwa bila ayah hadir dalam pengasuhan lebih besar, kemungkinan anaknya tidak adiksi pornografi,” katanya.

Ketiga, rumuskan dan sepakati tujuan pengasuhan ayah dan bunda. Pasalnya, bermain bola saja ada gawang yang dituju, bagaimana mungkin mengasuh anak tidak ada tujuan.

“Jadi duduk dan rumuskanlah serta sepakati apa yang ingin ayah bunda capai dalam mengasuh anak anak ke depan. Jangan terlalu fokus pada akademik semata.

Faktanya, terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dengan ketergantungan dan kecanduan internet pada remaja SMA,” ia menjelaskan.

Keempat, ia menekankan untuk banyak berdialog dengan benar, baik, dan menyenangkan.

“Sebagai orang tua, kita ini secara tidak sengaja sering melakukan kekeliruan dalam bicara yang membuat anak kita sumpek dan lelah jiwanya, sehingga menjadikan games, pornografi dan narkoba jadi pelariannya,” terangnya.

Orang tua penanggung jawab utama penanaman nilai agama. Ikat jiwa anak kita dalam ketaatan pada pemilik-Nya. Bukankah tujuan utama pengasuhan adalah mejadikan anak kita penyembah hanya saja.

“Anak kita adalah salah satu tanggung jawab utama yang Allah pertanyakan di yaumul hisab sebelum peran kita sebagai anak dan berbagai peran kita dalam keluarga dan anggota masyarakat,”

Maka, sebelum memilihkan tempat pendidikan terbaik, pondasi dasar dan pemeliharaan ketaatan serta akhlak yang baik tetaplah hak dan kewajiban kita.

Dari pengelaman praktek dan juga dari seminar-seminar yang dia lakukan, Elly menemukan mengapa anak mudah sekali melakukan hal-hal yang tidak patut dan salah besar seperti kecanduan games, pornografi, narkoba bahkan seks bebas, adalah karena pondasi agama dari rumah hampa.

“Punya gadget canggih, game tersedia, jaringan wifi di rumah, TV berlangganan, tapi anak tidak pernah (jangankan diajarkan) diperkenalkan saja tidak tentang keharusan sebagai muslim/ah untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya,”

Penelitian yang ia lakukan, kata dia, menjadi bukti kebenaran firman Allah, bahwa: kalau pandangan mata tidak ditahan, otak rusak di bagian fungsi mulianya yang membedakan manusia dengan binatang, maka kemaluan tidak bisa dikendalikan.

Terakhir, mengajarkan anak untuk bijak berteknologi adalah hal yang penting. Anak kita hidup di hutan digital, yang mungkin kita sendiri juga tidak mengenal betul ada apa saja di dalamnya, dengan perkembangan yang luar biasa cepatnya.

“Jika kita tidak mendidiknya bijak berteknologi, bagaimana jika ia ‘tersesat’, bertemu hal-hal sangat buruk yang ada di internet dan tidak tau cara menghindarinya,”

Maka, ia menyarankan untuk melakukan pertimbangan yang matang sebelum memberikan gadget dan internet pada anak.

“Allah melarang kita meninggalkan dzuriyyatan dhiafan (QS Annisa ayat 9). Keturunan yang lemah, yang kita khawatirkan mereka tidak sanggup menanggung beban dan ancaman zaman. Tegakkan seluruh pilar pengasuhan.

Jangan terus berputar dengan persoalan hari-hari. Karena anak masih kecil lalu merasa aman terhadap ancaman, karena belum menikah lalu nanti saja belajar berlelah-lelah,” tukas Elly.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *