SABAR DALAM BERJUANG MELAWAN ZIONIS ISRAEL

by

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Hingga kini, 18 Januari 2024, pasukan Zionis Israel masih terus membunuhi warga Palestina. Sekitar 25 warga Palestina telah gugur. Sebagian besarnya adalah anak-anak dan perempuan. Seruan dan kecaan dunia tidak dipedulikan Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Pada pihak umat Islam, berita-berita tentang pembantaian warga Palestina tak lagi mendominasi pemberitaan media-media online dan televisi. Berita tentang Pilpres dianggap lebih menarik. Tapi, bantuan pemerintah dan rakyat Indonesia terus mengalir.

Dalam kondisi seperti ini, muncullah pertanyaan: ”Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan Israel”. Kita jawab: ”Minimal kita berdoa.”  Lalu, ditanya lagi, ”Apa hanya doa saja?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering muncul dalam benak umat Islam – bahkan umat manusia di berbagai belahan dunia — saat kita menyaksikan begitu biadabnya Israel menindas bangsa Palestina. Sudah puluhan tahun,  jutaan mata menyaksikan kebiadaban kaum Zionis Israel.

Kita sangat bersyukur bahwa umat Islam Indonesia terus-menerus mengirimkan bantuan ke Palestina. Tapi, bagaimana solusinya? Kita perlu sabar untuk menjawab pertanyaan besar itu. Masalah Palestina bukan soal kecil. Ini masalah besar. Yang sedang kita hadapi adalah bangsa Yahudi, sebuah bangsa yang telah terkenal dengan kecerdikan dan kejahatannya dalam sejarah. Bangsa ini juga begitu banyak disebutkan dalam al-Quran, khususnya tentang kejahatan-kejahatan dan watak degil mereka dalam sejarah.

Perjuangan membebaskan Palestina bukanlah kali pertama dilakukan umat Islam. Sejarah menunjukkan, perjuangan membebaskan diri dari suatu penindasan seringkali membutuhkan waktu yang panjang. Kita ingat, kemerdekaan Indonesia harus dicapai setelah ratusan tahun harus berjuang melawan penjajah Belanda.

Dalam kaitan inilah, kita perlu meningat, bahwa syarat penting untuk meraih kemenangan dalam perjuangan adalah sabar dalam berjuang. ”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan perkuatlah kesabaranmu dan bersiap-siagalah dan bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu meraih kemenangan.” (QS Ali Imran:200).

Perjuangan mewujudkan suatu kemenangan, apalagi kemenangan perjuangan Islam terkadang memerlukan waktu yang panjang. Untuk dapat menaklukkan Konstantinopel, umat Islam membutuhkan waktu sekitar 800 tahun. Rasulullah saw wafat sekitar tahun 632 M. Semasa hidup, beliau pernah mengabarkan bahwa umat Islam suatu ketika akan menaklukkan Konstantinopel. Ternyata, penaklukan Konstantinopel baru terjadi pada tahun 1453 M.  Pada tahun 1099 M, kota Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Umat Islam baru merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1187 M.  Itu artinya, umat Islam memerlukan waktu selama 88 tahun untuk merebut kembali Jerusalem.

Kini, umat Islam diuji oleh Allah SWT, berupa penindasan kaum Yahudi di Palestina. Berulang kali kaum Yahudi melakukan kerusakan dan kejahatan keanusiaan. Berulankali pula mereka merusak dan menodai kesucian Masjid al-Aqsha.

Walhasil, perjuangan memerlukan kesabaran dan strategi yang matang. Perjuangan bisa berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nafsu untuk cepat-cepat melihat hasil perjuangan dapat menghancurkan tujuan perjuangan itu sendiri. Karena itulah, kita sangat berhutang budi pada para ustad dan aktivis dakwah yang tidak pernah tersorot kamera TV atau liputan media massa, tetapi gigih mengajarkan aqidah Islam, baca tulis al-Quran, atau membendung gerakan-gerakan pemurtadan yang merusak umat Islam. Para pejuang Islam ini mungkin tidak menyadari, bahwa yang mereka kerjakan adalah sebuah langkah besar dalam menjaga aqidah dan eksistensi umat Islam.

Prof. Kasman Singodimedjo, seorang Pahlawan Nasional dan juga pejuang Islam di Indonesia, pernah menerbitkan sebuah buku menarik berjjudul ”Renungan dari Tahanan, (Jakarta: Tintamas, 1967). Buku itu ditulisnya saat mendekam dalam tahanan rezim Orde Lama. Dari ruang tahanan itulah, Kasman mengingatkan pentingnya kesabaran dan keberlanjutan dalam perjuangan.

Beliau berpesan: ”Seorang Muslim harus berjuang terus, betapa pun keadannya lebih sulit daripada sebelumnya. Ada pun kesulitan-kesulitan itu tidak membebaskan seorang Muslim untuk berjuang terus, bahkan ia harus berjuang lebih gigih daripada waktu lampau, dengan strategi tertentu dan taktik yang lebih tepat dan sesuai. Pengalaman-pengalaman yang telah dialami hendaknya menjadi pelajaran yang akan banyak memberi hikmah dan manfaat kepadanya. Tidak usah seorang Muslim berkecil hati. Tidak usah ia merasa perjuangannya yang lampau itu telah gagal, hanya memang belum sampai pada maksud dan tujuannya. Perjuangan Tengku Umar, Imam Bonjol, Diponegoro, HOS Tjokroaminoto, H.A. Salim, dan lainnya itu pun tidak gagal, hanya belum sampai pada tujuannya. Oleh sebab itu, Muslimin yang masih hidup sekarang ini harus meneruskan perjuangan Islam itu, dengan bertitik tolak kepada keadaan (situasi) dan fakta-fakta yang kini ada, dengan gaya/semangat baru, setidak-tidaknya ”to make the best of it”, menuju kepada baldatun ”tayibatun wa Rabbun gafur”, yakni suatu negara yang baik yang diampuni dan diridhai oleh Allah: adil, makmur, aman, sentausa, tertib, teratur, bahagia, damai.”

Semoga kita diberi kesabaran dalam melaksanakan perjuangan, menunaikan amanah Risalah Rasulullah saw. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *