Permainan Anak Berbasis Teknologi

by
Anak bermain berbasis teknologi. Foto: geoforum.se.

Dalam era dengan perkembangan teknologi yang pesat, anak-anak generasi masa kini tumbuh menjadi generasi yang cerdas dalam menggunakan teknologi digital (digital savvy), dimana mereka sudah mengenal perangkat pintar dan internet sejak lahir. Sayangnya, orang tua seringkali menggunakan kecanggihan perangkat ini sebagai alat untuk mengalihkan perhatian agar anak-anak tetap sibuk, atau sebagai mekanisme negosiasi dengan anak.

Wartapilihan.com, Jakarta –Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Deborah Weber, Kepala Departemen Riset Fish-Richer. Karena teknologi tak dapat dihindari oleh pasal tuntutan perkembangan zaman, ia menyarankan agar orangtua memiliki siasat tertentu.

“Seperti memilih waktu yang tepat dalam memperkenalkan gadget ke anak, memperhatikan kelayakan konten, menerapkan batasan waktu bermain, serta memastikan jeda berkala dalam setiap sesi bermain. Dengan demikian, sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan antara penggunaan mainan tradisional dan berbasis teknologi,” papar Deborah, di MAMAIN Café, Senopati, Jakarta, Kamis, (12/4/2018).

Sehubungan dengan perkembangan teknologi, Dr. Deborah Weber juga menyampaikan pentingnya metode STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) dalam perkembangan anak usia dini. Metode STEM menekankan pada pembelajaran aktif, menstimulasi anak untuk memecahkan masalah, fokus pada solusi, membangun cara berpikir logis dan sistematis, dan mempertajam kemampuan berpikir kritis.

“Hal ini berperan besar dalam mempersiapkan anak untuk membangun karakter yang kompetitif secara global dan mempersiapkan mereka untuk kesempatan karir di bidang teknis dan kreatif di masa depan,” papar dia.

Lebih lanjut, Deborah menekankan, setiap orang tua ingin memberikan pendidikan dan pembekalan keterampilan yang terbaik bagi anak-anaknya. Merupakan momentum yang penting bagi orang tua untuk terlibat dalam waktu bermain berkualitas bersama anak, serta menyaksikan perkembangan anak mereka secara langsung.

“Di era perkembangan teknologi yang pesat, sangatlah penting bagi anak untuk dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan lain melalui bermain. Ketika anak-anak sibuk bermain, mereka membangun lebih dari sekedar kemampuan pembelajaran usia dini – mereka membangun fondasi untuk tumbuh menjadi pemikir besar kelak,” tutupnya.

Pada kesempatan yang sama, Fisher-Price memperkenalkan rangkaian mainan edukatif yang mengadopsi metode pembelajaran STEM (science, technology, engineering, and mathematics) bagi anak usia dini. Sejak tahun 1930 hingga saat ini, Fisher-Price tetap konsisten menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan mainan yang edukatif, aman, tahan lama, dan berkualitas tinggi.

Fisher-Price melalui fasilitas risetnya Play Lab, mengusung riset berbasis observasi dalam strategi desainnya. Sebanyak lebih dari 127.000 bayi dan anak pra-sekolah, serta 1.700 orang tua dilibatkan dalam uji coba mainan setiap tahunnya. Berbagai aspek dalam bermain, seperti ukuran, skala, ergonomi, minat, serta kelayakan pengembangan, terus dievaluasi secara berkala.

“Belajar dari cara anak bermain agar dapat membuat mainan yang disenangi anak-anak merupakan peran penting Play Lab bagi pengembangan produk Fisher-Price,” lanjut dia.

Melihat keunggulan dari metode pembelajaran STEM dan memahami pentingnya memberikan pembekalan dasar yang kuat sejak usia dini, Fisher-Price menghadirkan rangkaian permainan Think & Learn dan Laugh & Learn yang menggabungkan metode STEM dan sistem pembelajaran berbasis teknologi yang menyenangkan dan aman.

Dr. Deborah Weber memperagakan tipe mainan beberapa seri produk mainan Think & Learn Code-A-Pillar yang mendapat banyak perhatian. Mainan ini memiliki sembilan segmen yang mudah disambungkan dan dapat diatur ulang oleh anak-anak pra-sekolah untuk “memberi tahu” mainan cara bergerak maju, kiri, kanan, bergoyang, menari, atau bahkan menunggu beberapa detik sebelum bergerak lagi.

“Seorang anak dapat mulai bermain Code-A-pillar di titik A dan mencari tahu bagaimana cara memindahkannya ke titik tujuan B melalui pengurutan. Dengan kata lain, belajar memecahkan masalah,“ tukas Deborah.

Meresponi hal ini, presenter, penulis buku, dan pemerhati isu tumbuh kembang anak Nadia Mulya menjelaskan, “Merupakan suatu pengalaman yang berharga bagi saya ketika melihat anak-anakbermain dengan senang. Tanpa mereka sadari, sesungguhnya mereka sedang mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada momentum tersebut,“ pungkas Nadia.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *