Menghadapi Pertanyaan Anak

by
Foto: comentariojovem.com.br.

Berdasarkan penelitian, anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan bertanya hingga 73 pertanyaan setiap hari. Pertanyaan tersebut seringkali membuat orangtua kewalahan menjawabnya.

Wartapilihan.com, Jakarta– Penelitian tersebut diberitakan dari independent.co.uk, dimana penelitian ini juga menyatakan, separuh pertanyaan tersebut membuat orangtua berjuang untuk menjawabnya. Kebanyakan orangtua akhirnya meminta bantuan melalui Google untuk mencari jawaban.

Penelitian ini mengemukakan, rasa keingintahuan anak berada dalam puncaknya saat anak berada pada usia 4 tahun, baik perempuan maupun laki-laki. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa empat dari 10 orang tua akan merasa putus asa setelah mendapat serangan pertanyaan anak yang sangat gencar.

Biasanya, anak-anak mulai mengajukan pertanyaan dimulai sejak jam 6 pagi sampai tiba saatnya mereka tidur. Jika ditotal, anak memiliki kesempatan untuk bertanya selama 14 jam.

Dilansir dari id.theasianparent.com. menjelaskan juga hasil survei lainnya, dimana anak-anak tinggal di Ibukota cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar. Semisal di London, anak-anak rata-rata mengajukan 93 pertanyaan setiap hari. Jadi rata-ratanya, hampir empat pertanyaan akan diajukan setiap jamnya sejak anak bangun tidur.

Penelitian ini melibatkan 1.500 orang tua, di mana mereka disurvei dan diberikan pertanyaan terkait tentang rasa ingin tahu anak. Hasilnya, sepertiganya mengatakan bahwa menjawab pertanyaan anak-anak bisa begitu melelahkan, namun tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa mereka bangga dengan rasa ingin tahu anaknya pada lingkungan di sekitarnya.

Dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak, Tots Town di Argos bekerjasama dengan Dr Sam Wass menciptakan serangkaian video yang membahas berbagai topik. Mereka juga mengembangkan permainan sehingga dapat membantu perkembangan anak.

“Ketika anak-anak tumbuh dewasa, wajar jika mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang dunia di sekitar mereka. Sebagai orangtua, sayangnya kita sering lupa betapa banyak pengetahuan anak-anak kita berasal dari apa yang kita katakan kepada mereka. Memang untuk membahas topik yang lebih rumit tidaklah mudah, ”kata Dr. Wass.

Ia melanjutkan, untuk membuat lebih mudah, dapat digunakan alat bantu secara visual. “Misalnya, menggunakan mainan dapat membantu mengurangi kesulitan dalam membicarakan subjek yang lebih sulit. Mengungkapkan pemikiran atau ide yang kompleks lewat barang atau benda yang sudah dikenal dapat membantu pemahaman anak-anak,” tutur Dr. Wass.

Pertanyaan-pertanyaan yang seringkali diajukan misalnya ialah, “Mengapa orang meninggal?”, “Darimana saya berasal?”, “Tuhan itu apa/siapa?” dan pertanyaan menantang lainnya.

Menjawab pertanyaan tersebut bagi para orang tua bukanlah hal yang mudah. Namun, menurut Vera Itibiliana selaku psikolog anak dan remaja, hal itu ialah wajar yang menandakan bahwa perkembangan otaknya bertumbuh pesat.

“Penting bagi para orang tua untuk berperan aktif membantu mengembangkan pengetahuan pada anak sehingga proses berpikir anak pun bisa kian berkembang,” ucap Vera, dilansir dari id.theasianparent.com, (11/5/2018).

Menurut Vera, saat anak sering bertanya , orang tua pun perlu lebih hati-hati. Jangan sampai jawaban tersebut malah membuatnya semakin bingung atau justru salah paham.

“Ketahui lebih dulu sejauh mana pengertian anak. Untuk itu orang tua perlu ajukan pertanyaan balik untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan anak,”

Selain itu, Vera menyarankan agar orang tua menjelaskan dengan santai dan gunakan bahasa yang mudah dimengerti anak.

“ Yang paling penting jangan berbohong dan tunda memberikan jawaban jika orang tua belum siap.Juga, tetap berikan jawaban dengan jelas saat sudah mengetahui jawabannya,” pungkas Vera.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *