Rupiah Anjlok Dibandingkan Baht Thailand

by
Ilustrasi rupiah anjlok. Gambar: hargakurs.com.

Untuk saat ini, satu dolar sudah merangsek lebih di atas angka 14 ribu, yakni Rp. 14 084. Jika dibandingkan dengan negara Thailand yang memiliki mata uang Baht, rupiah lebih anjlok dibandingkan Thailand. Terhitung sejak Januari 2018 hingga awal Mei 2018, Baht Thailand hanya anjlok hanya sekitar kurang dari 0,5%, sedangkan rupiah mengalami keanjlokan sebesar 6 hingga 7 persen.

Wartapilihan.com, Jakarta –Hal tersebut disampaikan oleh Drajad Hari Wibowo, pakar ekonomi INDEF. Ia mengatakan, keanjlokan rupiah terjadi karena adanya faktor internal, yaitu (1) terjebak pada pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, (2) surplus neraca perdagangan yang anjlok dan (3) sektor bisnis yang mengalami kesulitan.

“Tadi saya sudah tunjukkan, kita bandingkan dengan Thailand. Artinya kita mengalami penurunan nilai tukar yang lebih besar dibandingkan Thailand. Kalau kita lihat Januari sampai Mei, Baht menguat sedangkan kita stagnan bahkan melemah,” tutur Drajad, saat ditemui Warta Pilihan, (11/5/2018), di Jakarta.

Menanggapi soal Presiden Joko Widodo yang tempo hari menekankan agar menggunakan produk dalam negeri agar dolar kembali stabil, ia bertanya balik kepada pernyataan tersebut soal Tenaga Kerja Asing (TKA) unskill yang masih digunakan di Indonesia.

“Memang kita harus lebih banyak menggunakan produk dalam negeri, tetapi kalau produk dalam negeri harus dipakai kenapa TKA harus dipakai?”

Eks anggota DPRRI dari Partai Amanat Nasional periode 2004-2009 ini mengatakan, menguatkan rupiah tidak bisa dengan kebijakan jangka pendek. Menurutnya, harus ada kebijakan yang lebih fundamental.

“Neraca perdagangan diperbaiki, sektor bisnis harus digerakkan. Efeknya terhadap masyarakat, Banyak sekali pangan yang diimpor, kedelai makin mahal lama kelamaan warteg-warteg tempenya akan dipotong lebih kecil. jadi salah yang bilang orang yang terkena pakai HP.

HP kan sudah hampir kebutuhan yang tidak terhindarkan, tapi tempe pun kena, tahu kena. Begitu juga dengan daging, impor kan,” paparnya prihatin.

Tak hanya dampak terhadap bahan pokok yang semakin mahal, tetapi secara langsung negara akan membayar hutan dengan semakin mahal, imbasnya juga terhadap rakyat lagi yang akan turut membayar dengan lebih mahal pula.

“Dalam jangka pendek, BI (Bank Indonesia) harus lepas dolar beli rupiah tapi itu juga ngga bisa bertahan lama,” pungkas dia.

Sementara itu secara terpisah, Sandiaga Uno selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta mengatakan tengah melakukan antisipasi kenaikan bahan pangan pokok, terutama menjelang bulan Ramadhan.

“Sistem kita sudah mengamankan pasokan, rantai distribusi bisa terkendali. Tapi kalau harga ayam dan beberapa harga komoditas sangat bergantung terhadap kurs, oleh karena itu kami ingin ada koordinasi,” tutur Sandiaga.

Menurut Sandiaga, rakyat pada dasarnya menginginkan dua hal, yaitu lapangan kerja terbuka dan harga bahan pokok yang terjangkau.

“Jadi kita tidak bisa lepas (soal kenaikan) rupiah, karena dampaknya ke masyarakat berupa bahan pokok meningkat. Untung untuk masyarakat menengah ke bawah ada KJP, tapi untuk masyarakat lain itu sangat berdampak. Kami memastikan langkah partisipatif dan koordinatif dari pemerintah agar harga bahan pokok tidak melonjak tinggi,” tukasnya.

Mengenai rupiah yang terus melonjak, pihaknya pastikan bahwa kebijakan yang dilakukan sinkron, salah satunya mengenai suku bunga.

“Kedua, kami juga memastikan kebijakan mengenai investasi lokal yang masuk. Sekarang ini kita dikontrol oleh sebagian kecil pemain usaha yang sering disebut BUMN Kontrol. Nah, ini yang kita harapkan ke depan dibuka, agar investor lokal juga dapat berpartisipasi, sehingga lebih banyak yang mendapatkan lapangan pekerjaan yang terbuka,”
“Kita ingin platform diskusi menghasilkan suatu gagasan bahwa kita ingin ciptakan lapangan kerja, kemudian lapangan kerja dan harga bahan pangan pokok,” pungkas Sandiaga.

 

Eveline Ramadhini dan Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *