Menangkal Ideologi Ekstrimisme

by
foto:istimewa

Keterampilan berpikir kritis adalah salah satu kunci agar siswa tidak bisa lagi dicekoki oleh pemahaman ekstrim. Pemahaman tentang pedagogi kritis dan keterampilan berpikir kritis ini harus bermula dari guru.

Wartapilihan.com, Jakarta – Maraknya aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini membuat bangsa Indonesia terenyuh. Anak-anak sudah menjadi target indoktrinasi pemahaman ekstrim yang berujung pada perilaku terorisme.

Dalam rangka bersama-sama dengan pemerintah, membangun strategi deradikalisasi di dunia pendidikan khususnya di sekolah. FSGI memberikan beberapa catatan penting. Pertama, kekerasan dalam bentuk apapun semestinya tidak lagi terjadi di masyarakat, apalagi di dunia pendidikan.

“Ideologi ekstrimisme, yang berujung dengan aksi kekerasan berawal dari cara pandang yang tidak menghargai perbedaan. Merasa bahwa pendapatnya, diri atau kelompoknya yang paling benar dan anti terhadap pluralitas,” kata Sekjen FSGI Heru Purnomo dalam keterangan pers yang diterima Warta Pilihan, Senin (21/5).

Kedua, lanjut dia, guru terjebak kepada pembelajaran yang satu arah. Yaitu pratik pembelajaran di kelas masih berpusat pada guru (teacher centered learning). Guru menerangkan pelajaran, siswa mendengar. Guru tahu, siswa tidak tahu. Guru selalu benar dan siswa bisa salah.

Selain itu, FSGI mendapati guru yang tiap hari mem-posting di akun FB-nya berita-berita hoaks dari sumber tak kredibel. Aktif me-reshare tautan dan video bermuatan kebencian SARA. Dan konten-konten yang memojokkan salah satu kelompok politik di negara.

Ketiga, guru membawa pandangan politik personalnya ke ruang kelas sembari menyiapkan materi kemudian menyisipkan pilihan-pilihan politik bahkan sikap politik pribadinya terkait calon presiden atau komentar terkait aksi terorisme yang terjadi bahwa ini adalah pengalihan isu atau mendukung konsep negara khilafah, bahkan bersimpati terhadap ISIS.

“Ditambah intervensi alumni dan pemateri yang diambil dari luar sekolah tanpa screening oleh guru atau kepala sekolah,” tuturnya.

Karena itu, FSGI merekomendasi guru sebagai profesi yang mulia, harus mengingat kembali kompetensinya. Guru punya misi luhur yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV: “Mencerdaskan kehidupan bangsa”.

“Misi filosofis dan konstitusional tersebut mestinya diterjemahkan dengan praktik pembelajaran yang progresif, mempromosikan toleransi, kebhinekaan dan cinta terhadap perbedaan serta cinta tanah air,” jelas dia.

“Tak dipandang guru mata pelajaran apapun dia, untuk mencapai misi kebangsaan tersebut. Tiap-tiap pribadi guru haruslah menjalankan aktivitas pedagogisnya berdasarkan nilai-nilai kebangsaan dan tujuan berbangsa-bernegara di atas,” sambungnya.

Selain itu, pembelajaran di kelas harus semenarik mungkin. Guru jangan berhenti belajar mengenai metode pembelajaran yang kreatif dan kritis. Sudah waktunya para guru menghadirkan pembelajaran kritis (pedagogi kritis).

Menurutnya, keterampilan berpikir kritis adalah salah satu kunci agar siswa tidak bisa lagi dicekoki oleh pemahaman ekstrim. Pemahaman tentang pedagogi kritis dan keterampilan berpikir kritis ini harus bermula dari guru.

“Jika gurunya profesional dan berpikir kritis tentu suasana pembelajarannya akan dialogis, dinamis dan argumentatif. Bukan lagi pembelajaran yang doktrinatif. Guru tak lagi asik bermonolog satu arah,” katanya.

FSGI mendorong Kemdikbud khususnya Puskurbuk (Pusat Kurikulum dan Perbukuan), untuk membuat semacam “model pembelajaran” yang bermuatan pencegahan terhadap ideologi ekstrim di setiap jenjang pendidikan.

“Jika ini sudah terbentuk, tentu harus disampaikan secara menyeluruh bagi para guru. Pelatihan-pelatihan yang menunjang terkait pencegahan terorisme ini sudah mendesak dilakukan secara berjenjang, berkelanjutan dan berkualitas,” pungkasnya.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *