Maggot, Solusi Sampah Organik

by
Zaky, penggagas Maggie Farm. Foto: Eveline.

Ia pun terus mempelajari akar permasalahan dan mencoba meramu solusi. Hingga ia mengikuti sebuah pelatihan, tepatnya di Koloni Black Soldier Fly (BSF) berlokasi di Cianjur yang ia ikuti setahun yang lalu. Zaky mengaku sangat terinspirasi dan akhirnya membuat peternakan maggot sendiri di rumahnya, di daerah Jalan Pondok Rajeg, Depok, Jawa Barat.

Meski hanya tamat SMA, ia tak pernah berhenti belajar dan melakukan observasi. Bermodalkan ilmu dari Koloni BSF Indonesia, ia secara mandiri melakukan observasi dan mengalami trial dan error. Zaky memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan akhirnya sampai saat ini ia konsisten menggeluti bidang peternakan maggot hingga sekarang.

“Saya memiliki visi untuk menciptakan swasembada pangan di Indonesia. Karena maggot ini sangat potensial untuk menciptakan hal itu,” tuturnya yakin.

Maggot dinilai potensial untuk swasembada, karena menurutnya, maggot dibudidayakan tidak hanya bisa untuk mengolah sampah organik, melainkan ampas bekas makanan maggot yang berupa sampah organik dapat dijadikan pupuk melalui metode biokonversi (fermentasi). Tidak hanya itu, maggot mengandung protein tinggi yang dapat dijadikan pakan bergizi untuk lele, landak, tokek hias, dan lainnya.

“Jika melalui maggot saja dapat dijadikan banyak hal, seperti pupuk dan pakan binatang dengan harga yang sangat murah, Indonesia dapat mandiri dan tak perlu impor dari negara manapun, dengan demikian dapat terjadi swasembada pangan,” begitu logika Zaky dengan optimis.

Selain visi yang besar, ia juga memiliki misi untuk mencetak generasi muda yang berkualitas dengan melakukan program sosialisasi tentang bertani dan berkebun, dan merubah stigma yang rendah soal bertani dan berkebun.

“Saya ketika SMA ditanya cita-cita, cita-cita saya menjadi peternak lele. Tapi saya diketawain. Sekarang saya sedih, pernah mendengar mahasiswa yang gak dapat kerja, jadi ceng-cengan disuruh jadi peternak lele. Saya jadi prihatin, serendah itukah menjadi peternak atau petani,” tukasnya.

Maka dari itu, ia ingin menanamkan tidak hanya pada generasi muda, tapi juga gencar menyosialisasikan pada orang-orang di sekitar rumahnya. Menurut Zaky, amat penting menerapkan dan menularkannya terlebih dahulu pada lingkungan terkecil, mulai dari tingkat RT dan RW terlebih dahulu, baru nanti menuju sekota, hingga berlanjut di tingkat nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *