Jeje Zaenuddin: Elemen Islam Harus Jauhi Konflik Internal

by
Dr. Jeje Zaenuddin. Foto: Dok.pribadi

Wartapilihan.com, Jakarta – Wakil Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) Dr. Jeje Zaenuddin menyayangkan insiden pembubaran pengajian Ustadz Khalid Basalamah oleh sekelompok massa di Sidoarjo. Ia mengingatkan agar kelompok Islam Ahlussunah wal Jamaah meletakkan musuh bersama dan menghindari perpecahan.

“Kewajiban di kalangan kaum muslimin, seluruh elemen Ahlussunah untuk memahami bahwa kita harus meletakkan musuh bersama kita siapa. Kok malah kita menciptakan musuh di internal sendiri,” ujarnya saat dihubungi Warta Pilihan, Selasa (7/3).

Doktor Hukum Islam UIN Bandung ini menyayangkan perbedaan pendapat harus diakhiri dengan pengusiran, apalagi sesama umat Islam. Ia mempertanyakan jika sebuah ormas bisa menjaga gereja saat natalan, namun mengapa di sisi lain justru bersikap tidak adil kepada sesama saudara muslim dengan cara mengusirnya. “Ini standar ganda,” katanya.

Menurutnya, masih banyak tantangan bersama yang seharusnya menjadi fokus elemen Islam daripada larut dalam pertikaian internal. Sejumlah tantangan itu adalah bahaya kelompok Rofidoh, Komunisme, dan pemikiran Liberal.

“Kenapa kita gak sepakat menghadapi itu dan terus saja mengecam, mengkritik pemahaman praktek keagamaan yang sudah ada ribuan tahun dalam tubuh Ahlussunah? Metode dan manhaj dakwah seperti ini harus diperbaiki,” tekannya.

Baca juga: Maneger Nasution: Pembubaran Pengajian Tak Sesuai UU

Jeje memandang pola dakwah di Indonesia sudah dirumusukan di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di antaranya adalah metode pendidikan Islam, dakwah Islam, strategi, dan kebudayaan Islam. Ada sekitar 99 ormas dan yayasan dakwah yang tergabung dalam merumuskannya.

“Dan tampaknya ada kelompok-kelompok dakwah di Indonesia yang belum mau bergabung. Jadi ketika di forum-forum yang merumuskan strategi bersama, mereka absen, sehingga tidak punya komitmen bersama,” jelas Jeje yang juga Anggota Dewan Pertimbangan MUI ini.

Di sisi lain, Jeje mendorong agar para ustadz besar di Salafi bisa masuk dalam Dewan Pertimbangan MUI sebagai sarana diskusi antar elemen. Hal ini perlu ada yang menginisiasi agar kejadian di Sidoarjo tidak kembali terulang.

“Justru di sini Salafi tidak ada wakilnya. Tapi yang sudah bergabung, mereka sudah merubah pola dakwahnya,” terang Jeje yang juga Anggota Dewan Syariah Nasional MUI ini. I

Reporter: Pizaro