Gubernur Sekarang Berantem Terus Sama RT-RW

by

Wartapilihan.com, Jakarta – Talkshow akhir pekan terhangat, Polemik, yang diselenggarakan SINDOTRIJAYA FM di warung daun, Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (1/4) terasa sangat berbeda. Sebab, mendatangkan dua tim sukses pasangan nomer urut 2 yaitu Emmy Hafild dan Mardani Ali Sera dari tim sukses nomer urut 3 pasangan Anies Sandi.

“Isu SARA yang dihembuskan Islam radikal seperti FPI, FUI, HTI, itu tidak perlu kami tanggapi. Soal agama tidak hanya sekarang, tahun 1999 Megawati di Cibubur bilang pemimpin tidak boleh perempuan. Ahok di Bangka Belitung menggunakan Al Maidah sampai Gusdur turun tangan, 2014 Jokowi dibilang Kristen. Ini bukan isu yang baru, tetapi sudah lama,” ujar Emmy.

Perempuan berdarah Sumatera Utara ini mengaku capek menghadapi black campaign yang terus ditujukan kepada pasangan Ahok Djarot. Ia memaparkan, masyarakat sudah cerdas dan bisa memilih sendiri pemimpin yang santun dan pura-pura santun.

“Masyarakat sudah bisa menilai sendiri mana Paslon yang terobsesi karakter, bicara biasa saja tapi benar, bicara santun tapi tidak komitmen. Kami sangat siap dengan data, apalagi Pak Basuki petahana, memiliki data dan kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Selain itu, ia menuduh Mardani Ali Sera merupakan musang berbulu ayam yang memiliki hidden agenda untuk kepentingan pasangan calonnya.

“Masyarakat sudah bisa menilai mana orang yang ngomongnya lurus-lurus saja, berdasarkan fakta, tetapi masyarakat juga dapat melihat mana orang yang memiliki hiddennagenda, bicaranya santun seolah-olah bicara program, padahal banyak agenda yang melanggar undang-undang, itulah yang disebut musang berbulu ayam,” tandasnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Mardani terlihat santai saja dengan penuturannya, karena ia menilai pernyataan tersebut tidak berdasarkan fakta, tidak mengerti demokrasi dan sangat ‘cupat’ pemikirannya.

“Mbak Emmy mana datanya, mana faktanya, mbak Emmy harus belajar lagi demokrasi, terlalu cupat pemikiran mbak Emmy, kalau mbak Emmy menemukan pelanggaran maka laporkan ke Bawaslu,” jawabnya.

Lebih lanjut, politisi PKS ini menuturkan, demokrasi akan hidup apabila sistemnya hidup, Bawaslu dan KPU menjadi institusi pemilihan Kepala Daerah yang objektif. Sejarah akan mencatat ada 17 black campaign di DKI Jakarta.

“Jadi kalau kemana-mana kita bilang Oke-Oce bukan agama. Ini yang kita lakukan untuk pembangunan ekonomi. Bab agama paling dalam dimiliki umat, itu wilayah privat. Bukan orang yang agamanya disitu, tapi malah terus menjelek-jelekkan, ini kan lucu,” tuturnya dengan nada heran.

Ia bersyukur, pasangan Anies Sandi di beberapa lembaga survey berada di no 1 mengalahkan petahana.

“Alhamdulillah di beberapa survey pasangan Anies Sandi 49%, Ahok Djarot 41%, kami tidak akan menggunakan emosi, tidak mendatangkan seluruh aparatur negara dari luar daerah, saya bilang ke teman-teman daerah cukup doa saja. Di kita ada Anthony Leong, Tiara Panggabean, kita tidak pernah bicara agama. Kita bicara Oke Oce, KJP Plus dan Perumahan DP 0%,” tukasnya.

Terakhir, ia berharap, pada putaran kedua nanti tidak ada negative dan black campaign yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sehingga mengambil tema “Merawat Tenun Kebangsaan”.

“Kami punya konsep RW Siaga, bahwa RW Deputinya Gubernur. Contoh Lansia, RT RW bisa membantu lansia. Jangan seperti sekarang, gubernurnya berantem terus sama pengurus RT RW. Kami yakin Anies Sandi yang bisa memajukan kotanya dan membahagiakan warganya,” pungkasnya. I

Reporter: Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *