Budaya ‘Mencuri’ di Negeri Kita

by
Ekspresi senyum lebar dari tersangka Direktur CV Tri Daya Pratama (TDP) Saipul Jamil usai menjalani pemeriksaan, di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa, 3 Oktober 2015. Foto: RMOL.

Mengapa ketika terjadi krisis baik keuangan maupun bencana, masyarakat Indonesia seringkali melakukan penjarahan? Berbeda dengan negara Jepang yang tidak melakukan penjarahan meski kesusahan.

Wartapilihan.com, Jakarta — Mencuri diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai ‘mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dng sembunyi-sembunyi.’ Disadari atau tidak, budaya mencuri atau penjarahan telah menjadi budaya orang Indonesia.

Hal ini tercermin pada penjarahan barang elektronik yang dilakukan warga di Palu paska tsunami. Tak berbeda halnya dengan penjarahan saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998. Belum lagi, para koruptor yang telah tertangkap tangan melakukan korupsi hingga mengenakan rompi oranye, tetapi tetap tersenyum menghadap kamera seolah tak punya salah, bahkan bagi para pejabat, hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah. Ada apa dengan masyarakat kita?

Dicky Pelupessy, dosen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia melihat, berkaca dari kasus penjarahan di Palu merupakan persoalan besar bangsa Indonesia karena sudah menjadi kebiasaan. Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia telah begitu permisif terhadap budaya pencurian.

“Ini (penjarahan di Palu) ada kaitannya dengan budaya korupsi, ini sama saja kan mengambil yang bukan haknya,” kata Dicky, saat dihubungi Warta Pilihan (wartapilihan.com), Kamis, (4/10/2018).

Ia melihat, di Jepang kendati terjadi bencana gempa dan tsunami pada 2011 silam, mereka cenderung tidak melakukan penjarahan. Hal itu menurut dia terjadi karena ada standar perilaku yang telah menjadi pola, seperti tidak mengambil barang orang dimana pun berada.

Terbukti, jika seseorang meninggalkan benda di tempat umum, tidak akan ada orang yang mengambilnya. Hal ini merupakan salah satu penyebab mengapa Jepang merupakan negara teraman ke-8 di dunia.

“Sebagai standar perilaku mereka, bencana atau bukan bencana tetap tidak boleh (mencuri/menjarah). Mereka teratur, antri, tidak menunjukkan seperti orang kalap ataupun memanfaatkan situasi. Lingkungan yang sifatnya bukan situasional, tetapi sudah budaya,” jelas Direktur Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, hal ini dapat berkaitan dengan faktor lingkungan atau faktor yang berada di luar individu (eksternal).

“Mereka bukan melihat kesempatan itu situasional, tapi ada yg lebih permanen yaitu norma dan perilaku yang diturunkan dari budaya. Kalau dibandingkan dengan Jepang, mereka memang punya standar perilaku sosial yang tidak boleh sembarang mengambil barang orang dalam kondisi apapun,” ia menegaskan.

Maka dari itu, menurut dia, hal yang bisa dilakukan dalam jangka panjang adalah memberikan contoh atau teladan yang baik bagi anak-anak agar budaya ini tidak terus-menerus terjadi.

“Banyak caranya, bisa lewat pemberian contoh, contoh yang orang lihat bukan yang baik mungkin kemudian diingat oleh anak-anak bahwa ternyata itu bisa dilakukan.

Kita perlu ke depan punya tokoh model dan dididik bahwa mencuri dalam kondisi apapun tidak dibenarkan,” tegasnya.

Ia mengakui, bangsa Indonesia belum memiliki standar perilaku bahwa tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik diri-sendiri. “Kalau di dalam psikologi, disebut psikologi massa, collective behavior,” imbuh Dicky.

Menjarah: Antara Wajar dan Tak Wajar

Ia menjelaskan, mulanya kekacauan paska bencana terjadi karena orang membutuhkan makan dan minum sebagai kebutuhan dasar manusia. Sebagian orang, kata Dicky, memperbolehkan hal ini karena memang tak ada pilihan lain.

“Tapi kemudian ada yg mengambil tidak ada kaitannya dengan rasa lapar dan hausnya. Ini bicara psikologi massa. Kalo dalam kondisi yang normal kita tahu bahwa tindakan mencuri akan ditangkap dan dihukum, ada standarnya yang kita gunakan untuk menilai situasi.

Dalam situasi seperti itu kan aparat keamanan ada tapi tidak banyak. Sibuk mengurusi keluarganya, tsunami, aparat ataupun bukan sama kena. Kondisi yang memungkinkan, kalau sudah dalam situasi begitu Yang satu melakukan yang satu juga, akhirnya rame-rame,” jelasnya.

Dalam kajian psikologi, ia mengatakan hal ini antara wajar dan tidak wajar. Ia menilai, di sini terjadi kesempatan dan juga lumpuhnya aparat negara sehingga orang dengan mudah melakukan tindakan kriminal.

“Jadi perilaku manusia faktor dalam diri tapi dalam luar. Saya gak pengen mencuri tapi ada pintu terbuka karena kesempatan melakukan tindakan kejahatan.

Penilaian situasi yang menunjukkan gak ada aparat kemudian pokoknya menjarah itu diperbolehkan kalo makanan. Ya sudah dijarah juga,” ia menegaskan.

Ia merasa perlu dibedakan antara tindakan yang didorong oleh kebutuhan dasar dan kemudian seseorang melihat karena kesempatan.

“Faktor terbesar adalah psikologi massa karena tidak ada aparat keamanan, kalau di lapangan sepakbola itu kan psikologi massa (juga).

Ketika satu orang lempar botol ke lapangan yg lain juga. Faktor ikut-ikutan, karena merasa gak ditangkap atau ditarik ke luar stadion. Yang lain lihat, yang lain ikuti,” pungkas dia.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *