Selama pekan ini, rupiah cenderung melemah. Pada tanggal 3 September, dolar berada di angka Rp. 14.815, sempat memuncak di tanggal 5 September sebesar Rp. 15.047 dan kini dolar masih di angka Rp. 14.915. Meski cenderung turun, namun tidak signifikan sehingga dampaknya lebih dirasakan pada masyarakat akar rumput.
Wartapilihan.com, Jakarta – Para pedagang tempe kini merasakan dampaknya. Mereka harus bersiasat mengecilkan ukuran tempe atau mencampur tempe dengan bahan lain, semisal ampas tahu. Hal yang sama terjadi pada produk impor lainnya seperti jagung, tepung, mie dan roti. Hal ini dapat berdampak domino terhadap harga bahan lainnya, seperti BBM, minyak dan juga sayur-mayur.
Menurut Ahmad Heri Firdaus selaku Ekonom INDEF, selama tren sepanjang 2018 diketahui bahwa rupiah telah terdepresiasi sebesar 8% dan hal ini merupakan yang terbesar di sepanjang pemerintahan kendati masih cukup jauh dari krisis.
“Ini menjadi sebuah warning untuk kita semua bagaimana upaya bersama untuk meningkatkan nilai rupiah. Bagaimana kita bisa lebih mencintai produk-produk lokal, terkait impor berbagai macam komoditas yang sangat bergantung yaitu kedelai, tahu tempe bahkan lebih dari 50% sudah impor (kedelai). Tentu harganya pasti mengalami perubahan,” kata Ahmad.
Salah satu yang perlu dilakukan, menurut dia adalah berhemat atau memperbanyak penghasilan (income). Ia menekankan agar harus optimis untuk menghadapi permasalahn saat ini, dan jangan dipolitisasi.
“Jadi kita bantu negara ini, punya dolar kita tukarnkan, mau beli barang impor ditunda, lebih mencintai produk lokal supaya produsen kita dapat stimulus untuk berproduksi,” jelas dia.
Masyarakat saat ini, menurut dia, sudah terlena oleh komoditas, dan kebijakan luar negeri telah sangat berdampak pada ekonomi domestik. Oleh karena itu, kebijakan yang hanya tambal sulam dan tumpang tindih tidak bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
“Masyarakat harus ngapain, pejabat harus ngapain. Bagaimana caranya memperkecil defisit neraca perdagangan, satu aspek saja dulu. Kita memang bisa berproduksi asal ada dukungan,” terangnya.
Cara lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan carqa menyerang, dimana memberikan ekspor sebanyak-banyaknya kepada negara lain, sehingga dapat membuka peluang pasar baru.
“Fasilitas ekspor perlu dilakukan, tapi masalahnya ongkos transport dan akomodasi mahal. Meski begitu, membuka pasar baru dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat setempat dapat dilakukan, itulah yang dilakukan negara lain seperti Tiongkok yang melakukan intelegensi market. Apa yang sekarang kita punya, itu yang kita ekspor, jangka pendek kita lakukan jangka panjang juga harus dilakukan,” pungkas dia.
Sementara itu, Sarah Djojohadikusuma selaku Politikus Gerindra mengatakan, ia melihat ada permasalahan yang cukup rumit, tetapi bukan hanya eksternal. Pihaknya mengatakan, Gerindra sudah memberikan peringatan soal ini saat kampanye di tahun 2013-2014.
“Ada permasalahan yaitu bocor, mereka semua ada yang menertawakan karena uangnya sudah ada tinggal kerja. Lambat laun kelihatan juga permasalahan banyaknya impor serta kurangnya impor. Kalau misalnya dari subsidi BBM yang naik, banjirnya impor, pembiayaan infrastruktur dalam mata uang asing, defisit APBN yang juga dibiayai oleh hutang. Bayar hutang aja dengan cetak hutang, gali lubang dengan tutup lubang,” tegas Sarah.
Akibat terlalu banyaknya bahan yang diimpor, akan berdampak pada sayur mayur yang naik. Menurut Sarah, hal yang paling ia sayangkan akibat naiknya dolar ini adalah sektor kesehatan. Pasalnya, bahan baku untuk obat-obatan banyak sekali yang diimpor.
“Ini sudah ada upaya untuk mengencangkan ikat pinggang, yang tadinya mau 35rb megawatt sekarang golnya jauh. Karena hal ini sudah kita sampaikan sudah lama sejak tahun 2013, harus ada kebijakan untuk menanggapi ini sebelum terjadi,” kata Sarah.
Adapun pihak petahana yang cenderung membandingkan dengan tahun krisis di 1998, seharusnya pembandingan tersebut tidak terjadi karena seharusnya dibandingkan dengan sebelum tahun 1998.
“Kita harus terus melihat itu semua dalam arti warning tadi. Jangan merasa dininabobokan, harus ada upaya aktif dari semua pihak. Kalau saya sangat mendukung UMKM, produksi dalam negeri, banyak yang bagus-bagus kok yang di dalam negeri,” pungkas Sarah.
Eveline Ramadhini

