40 Tahun Sebagai Titik Akselerasi Amal

by

‘’Bila jatah umur yang sepertiga itu digunakan untuk mengejar ketertinggalan amal (dalam periode 2/3 umurnya), menutupi maksiat dan kemungkaran kita, secara matematis tidak akan terpenuhi.’’

Life begins at forty. Hidup dimulai pada usia 40 tahun. Begitu pemeo Barat yang populer. Usia empatpuluh tahun dianggap umur produktif karier sebelum mencapai puncak kematangan dan kemapanan seseorang.

Al-Quran pun membahas masalah usia 40 tahun ini. Simak firman Allah SWT: ‘’Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga bila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, akan berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS Al-Ahqaf: 15).

Rasulullah SAW melalui hadis hasan shahih yang diriwayatkan Ibnu Majah, menerangkan, ‘’Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut.’’

Nah, bila hadis dan ayat Qur’an tadi dihubungkan, maka seseorang yang telah sampai di usia 40 tahun, berarti telah menjalani 2/3 dari ‘’jatah’’ umurnya. ‘’Berarti umurnya tinggal sepertiga lagi,’’ terang Ustadz DR Ahmad Annuri dalam Tabligh Akbar Indonesia Berdakwah di Masjid Raya Al-Kautsar, Vila Dago, Pamulang, Tangerang Selatan, Ahad (14/4).

Pakar Tahsin Qur’an Dewan Dakwah itu melanjutkan, ‘’Bila jatah umur yang sepertiga itu digunakan untuk mengejar ketertinggalan amal (dalam periode 2/3 umurnya), menutupi maksiat dan kemungkaran kita, secara matematis tidak akan terpenuhi.’’

Ibarat utang, maka untuk menutup kekhilafan di 2/3 hidup sebelumnya tidak bisa, imbuhnya dalam acara yang dimoderatori Teuku Wisnu tersebut.

Merujuk pada hadits yang diriyawatkan dari Abdullah bin Abbas ra,  “Siapa yang mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Beliau ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir (di dunia ini).”

Alhamdulillah, Allah Yang Maha Pengasih memberi jalan melalui Surat Al-Ahqof ayat 15. Di dalamnya, Allah memuat petunjuk agar kita meningkatkan rasa syukur pada-Nya dan amal shalih.

‘’Namun dengan keterbatasan sisa waktu hidup, diperlukan akselerasi atau percepatan amal shalih,’’ kata Ustadz Annuri. Misalnya dengan berwaqaf, berinfak untuk dakwah, dan membaca serta mengamalkan Al-Qur’an.

Sebaik-baik kamu, kata Nabi SAW, adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an (HR Bukhari dan Muslim).

Bahkan Nabi SAW menyatakan, ‘’Dilarang iri kecuali pada dua hal: Orang yang dikaruniai kefahaman Qur’an sedang dia membaca dan mengamalkannya siang dan malam, dan orang yang dikaruniai harta sedang dia menginfakkannya siang dan malam’’ (HR Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar ra).

Kata Ustadz Annuri, mendaras Qur’an adalah amalan yang cerdas. Sebab, bukan main besarnya pahala didapat.

Seperti disampaikan Rasulullah SAW, “Siapa yang membaca satu huruf Qur’an maka baginya satu hasanah (kebaikan), dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HR At-Turmudzi).

Padahal, jumlah huruf dalam satu mushaf Qur’an, lebih dari sejuta. Al-Imam Asafi’i dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli ’u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ‘Arabi dalam Mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah  menyatakan jumlah huruf dalam Al Qur ’an adalah 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.

Bangsa Indonesia jika ingin bangkit dan berjaya, harus kembali kepada Al Qur’an. Wasiat Rasulullah SAW, “Sungguh, Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab (Al-Qur’an) dan merendahkan (kaum) yang lain” (HR Muslim).