Tuesday, November 3, 2026
Home Artikel Di Balik Pagar Pesantren: Ketika Santri Pintar Mengaji, tetapi Gamang Memaknai Diri

Di Balik Pagar Pesantren: Ketika Santri Pintar Mengaji, tetapi Gamang Memaknai Diri

0
23

Ini kisah nyata dari seorang teman. Di ruang makan keluarga: seorang santri penghafal Al-Qur’an pulang berlibur, lalu dengan tenang berujar di sela santap malam, “Ayah, homoseksualitas itu kan hak asasi pribadi. Selama mereka suka sama suka dan tidak merugikan orang lain, kenapa kita harus melarang?”

Wartapilihan.com, Jakarta– Bagi banyak orang tua dan ustadz, ucapan itu terasa seperti petir di siang bolong. Anak yang diserahkan ke pesantren agar selamat dari pergaulan bebas, rupanya fasih menyuarakan prinsip moralitas sekular.

Ini bukan cerita fiksi. Ini potret nyata keterbelahan kognitif (cognitive split) yang kian menjangkiti generasi Z Muslim hari ini. Di atas sajadah, mereka tekun membaca wirid dan mematuhi fikih ibadah. Namun saat menatap realitas sosial—isu LGBT, relasi gender, hingga konsep kebebasan—kacamata yang mereka pakai bukan lagi pandangan alam Islam (Islamic worldview), melainkan kacamata humanisme sekular Barat.

Mengapa pagar tinggi pesantren bisa ditembus begitu mudah?

Jawabannya: algoritma media sosial tidak mengenal tembok asrama. Saat liburan tiba atau gawai berada di genggaman, mereka terpapar narasi pop yang membungkus relativisme moral dengan jubah empati dan toleransi. Prinsip my body my choice dan dalih consent tampak sangat adil serta membela mereka yang tertindas.

Tragedinya, pendidikan kita sering kali hanya mengajarkan fikih sebatas daftar hukum: mana halal, mana haram. Ketika santri bertanya mengapa aturan itu ada, jawaban yang kerap mereka terima hanyalah dogma kaku: “Pokoknya haram, jangan membantah nanti durhaka!”

Di titik inilah krisis epistemologis meledak. Ketika benteng rasionalitas runtuh, anak muda merasa syariat Islam kaku dan minim belas kasih. Mereka akhirnya meminjam nilai-nilai Barat demi merasa menjadi manusia yang berempati. Standar baik dan buruk bergeser; bukan lagi apakah Allah meridhai, melainkan apakah hal itu terasa nyaman dan tidak toxic.

Krisis ini sangat gawat karena menyerang akar keyakinan paling mendasar. Meminjam pemikiran Dr. Adian Husaini, krisis terbesar umat hari ini bukanlah kemiskinan materi, melainkan kerancuan ilmu dan lenyapnya adab akibat kehilangan Islamic worldview.

Kita tidak lagi bisa mendidik generasi digital hanya dengan ancaman takzir atau kemarahan defensif di meja makan.

Para ustadz perlu melengkapi pengajaran kitab kuning dengan dialektika pemikiran, agar mampu membongkar kerapuhan logika sekular tanpa alergi berdiskusi. Para orang tua harus mengubah meja makan menjadi ruang aman—mengganti hardikan dengan pertanyaan sokratik yang memantik nalar. Dan bagi para remaja, sadarilah bahwa tren keren dunia modern sering kali hanyalah fatamorgana yang mereduksi manusia sekadar menjadi budak hawa nafsu.

Tubuh kita bukanlah hak milik mutlak pribadi; ia adalah amanah titipan Sang Maha Pencipta. Mengakui syariat bukan berarti kehilangan empati, melainkan menaruh keadilan pada tempatnya yang hakiki. Sudah saatnya kita membenahi kacamata pandang kita sebelum anak-anak kita menjadi asing di rumah keyakinannya sendiri.

Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here