Pemandangan ruang-ruang kelas di Indonesia hari ini dipenuhi fasilitas modern, kurikulum yang terus diperbarui, dan deretan gedung sekolah bertingkat dengan biaya pendidikan yang kerap fantastis.
Wartapilihan.com, Jakarta– Namun, di balik seragam rapi dan tumpukan lembar ijazah, tersimpan kegelisahan kolektif yang kian menganga: mengapa generasi yang bersekolah belasan tahun sering kali justru kehilangan adab, rapuh mental, serta hampa arah hidup?
Fenomena ironis ini menjadi pemantik utama perbincangan mendalam antara Pakar Pendidikan Islam, Dr. Adian Husaini, dan pemandu acara Muhammad Nashir dalam tayangan siniar Masjid Al-Irsyad Surabaya. Diskusi yang mengangkat tema provokatif, “Anak Dididik Tapi Tak Terdidik: Salah Siapa?”, menguliti akar keretakan ekosistem pendidikan modern yang dinilai telah bergeser jauh dari tujuan hakiki pembentukan manusia seutuhnya.
Reduksi Pendidikan: Terjebak Formalitas dan Gelar
Salah satu sorotan mendasar yang mengemuka adalah kekeliruan masyarakat dalam memaknai kata “pendidikan”. Hari ini, pendidikan nyaris selalu dipersempit menjadi sekadar sekolah formal atau pengajaran teknis. Padahal, mengajar dan mendidik adalah dua hal yang berdiri di atas spektrum berbeda.
Pengajaran hanya berfokus pada transfer pengetahuan dan kecakapan kognitif agar siswa lulus ujian. Sebaliknya, pendidikan sejati adalah proses penanaman nilai, akhlak, dan integritas jiwa.
Ketika sekolah hanya mengejar indikator administratif, angka rapor, dan pemeringkatan, lahirlah generasi yang cerdas secara hafalan namun miskin nurani. Anak-anak dijejali rumus dan definisi, tetapi tidak diajarkan cara mengendalikan ego, menghormati orang tua, apalagi memahami makna keberadaan dirinya di muka bumi. Akibatnya, gelar akademik makin tinggi, tetapi kepekaan sosial dan adab dasar justru merosot.
Menggugat Arah: Menengok Kembali Fondasi Regulasi
Secara yuridis, arah pendidikan nasional sebenarnya telah dirumuskan dengan sangat gamblang. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pasal 3, menegaskan bahwa fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Tujuannya adalah menjadikan peserta didik sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, barulah disusul dengan sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.
Namun, terjadi paradoks antara cita-cita regulasi dan implementasi di lapangan. Keimanan dan ketakwaan yang semestinya menjadi fondasi utama kerap kali terpinggirkan menjadi mata pelajaran tempelan berdurasi dua jam pelajaran seminggu.
Sekolah dan masyarakat justru terobsesi pada capaian pragmatis: bagaimana meraih nilai tinggi agar diterima di kampus ternama, lalu mendapatkan pekerjaan bergaji besar. Orientasi yang serba materialistis ini membuat nilai transendental dan karakter luhur tersingkir dari prioritas harian para pendidik maupun siswa.
Menelisik Tanggung Jawab: Membedah Kesalahan Siapa
Ketika muncul kasus tawuran, perundungan brutal, kecanduan gawai, hingga pembangkangan anak terhadap orang tua, masyarakat kerap saling melempar telunjuk. Dialog ini memetakan tanggung jawab secara proporsional ke dalam tiga pilar utama:
1. Rumah Tangga dan Sindrom “Outsourcing” Anak
Keluarga adalah madrasah pertama dan utama, namun hari ini rumah sering kali hanya menjadi tempat menumpang tidur. Banyak orang tua terjebak dalam ilusi bahwa kewajiban mendidik anak selesai begitu biaya sekolah, uang asrama, atau tagihan les telah dilunasi. Terjadi fenomena “outsourcing” pendidikan secara ugal-ugalan kepada pihak ketiga.
Selain hilangnya waktu berkualitas, krisis keteladanan di rumah menjadi pemicu paling destruktif. Orang tua menuntut anak menjauhi gawai sementara mereka sendiri terpaku pada layar ponsel saat berada di meja makan.
Lebih jauh, hilangnya keterlibatan ayah dalam pembinaan mental dan spiritual anak menciptakan kekosongan figur otoritas yang bijaksana. Sebagaimana dicontohkan dalam narasi Luqman al-Hakim, pendidikan visi dan akidah sejatinya dipimpin langsung oleh sosok ayah.
2. Guru dan Sekolah yang Terbelenggu Birokrasi
Di sisi institusi, guru kerap mengalami disorientasi peran. Dari yang semestinya bertindak sebagai pendidik berjiwa pengasuh jiwa, mereka kini tereduksi menjadi sekadar aparatur pemenuhan kurikulum dan administrasi sertifikasi.
Ketika guru masuk kelas hanya untuk menyelesaikan materi buku teks tanpa menyentuh hati murid, ikatan emosional dan transfer keteladanan pupus. Tidak ada lagi proses pembimbingan yang melahirkan rasa hormat alami dari murid kepada gurunya.
3. Lingkungan Sosial dan Disrupsi Digital
Anak-anak hari ini tumbuh di bawah kepungan algoritma media sosial yang menawarkan kebebasan tanpa filter dan budaya pamer yang dangkal. Tanpa benteng nilai yang kokoh dari rumah dan sekolah, anak-anak dengan mudah menyerap standar pergaulan yang permisif, budaya instan, dan sikap niradab yang disajikan oleh tren digital.
Akar Peradaban: Mengapa “Adab” Harus Mendahului Ilmu?
Menyitir pemikiran mendalam para cendekiawan Muslim, krisis terbesar peradaban modern bukanlah kekurangan orang pandai, melainkan hilangnya adab. Ilmu yang diserap oleh orang yang tidak beradab hanya akan melahirkan kesombongan intelektual, manipulasi, dan kerusakan yang lebih terstruktur.
Adab dimaknai sebagai kemampuan meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar menurut kebenaran fitrah dan ketetapan Sang Pencipta:
- Adab kepada Tuhan diwujudkan melalui ketundukan dalam ibadah dan rasa takut berbuat dosa.
- Adab kepada manusia dimulai dari penghormatan tulus kepada kedua orang tua dan para guru.
- Adab kepada ilmu tecermin dari kerendahan hati untuk terus belajar dan mengamalkan pengetahuan demi kemaslahatan, bukan sekadar komoditas ekonomi.
Pendidikan masa lalu selalu menuntaskan pembinaan adab sebelum mengajarkan cabang-cabang ilmu yang rumit. Para ulama terdahulu bahkan menekankan bahwa mempelajari adab selama puluhan tahun adalah prasyarat mutlak sebelum menyelami samudera ilmu pengetahuan.
Konsep Kedewasaan: Menolak Pola Pikir Kekanak-kanakan
Kelemahan sistem modern lainnya adalah terlalu lamanya memanjakan fase kanak-kanak. Dalam tinjauan biologis dan syariat, seorang anak yang telah melewati masa pubertas semestinya diposisikan sebagai individu mukallaf, yakni manusia dewasa yang memikul konsekuensi moral, hukum, dan spiritual atas perbuatannya.
Akan tetapi, masyarakat modern sering kali masih memperlakukan remaja usia belasan tahun sebagai anak kecil yang tidak diberi tanggung jawab nyata. Akibatnya, terjadi infantilisme: tubuh mereka dewasa, tetapi jiwa dan nalar tanggung jawabnya kerdil.
Pendidikan tingkat menengah seharusnya diarahkan untuk mematangkan akal, membentuk kepribadian mandiri, serta membekali anak dengan kemampuan menghadapi realitas hidup yang sesungguhnya, bukan sekadar menghafal teori demi lembar jawaban ujian.
Rekonstruksi Prioritas: Menata Ulang Fardhu ‘Ain dan Kifayah
Guna mengurai benang kusut ini, ditawarkan jalan keluar melalui penataan kembali skala prioritas dalam menuntut ilmu. Kerangka ini membedakan secara tegas antara dua kewajiban ilmu:
- Ilmu Fardhu ‘Ain: Fondasi wajib bagi setiap individu tanpa terkecuali. Cakupannya meliputi akidah yang lurus, tata cara peribadatan harian yang sahih, serta adab dan akhlak dalam berinteraksi. Bagian ini tidak boleh ditawar dan harus tuntas sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah dasar.
- Ilmu Fardhu Kifayah: Bidang keahlian yang disesuaikan dengan minat, bakat unik, dan kebutuhan riil masyarakat, seperti kedokteran, teknologi, ekonomi, hingga sains terapan.
Kerancuan terjadi ketika anak dipaksa menguasai seluruh ilmu spesialisasi yang rumit, sementara ilmu dasar tentang keimanan, kejujuran, dan tanggung jawab hidupnya sendiri terbengkalai. Seseorang yang ahli teknologi namun nol dalam fardhu ‘ain sangat rentan menjadi perusak peradaban di kemudian hari.
Menghidupkan Sinergi Rumah, Sekolah, dan Masyarakat
Penyelesaian krisis pendidikan tidak bisa bertumpu pada perombakan kurikulum administratif semata. Reformasi sejati menuntut keberanian untuk kembali ke prinsip-prinsip dasar kemanusiaan:
- Kembalikan kedaulatan rumah: Para orang tua, terutama para ayah, harus mengambil alih kemudi pendidikan nilai bagi anak-anaknya. Rumah harus bertransformasi menjadi pusat dialog yang hangat, ruang keteladanan hidup, dan tempat anak menemukan pelindung moral.
- Revitalisasi integritas guru: Guru harus dipulihkan kehormatannya sebagai pembimbing moral dan spiritual, bukan semata buruh kurikulum. Kebijakan pendidikan wajib memangkas beban administratif yang membelenggu agar guru memiliki ruang luas untuk mendengarkan, membimbing, dan mendoakan para muridnya.
- Bangun ekosistem yang koheren: Harus ada keselarasan pesan antara apa yang diajarkan orang tua di rumah, apa yang ditekankan guru di sekolah, dan apa yang dilihat anak di lingkungan sekitarnya.
Pendidikan bukanlah perlombaan mencetak gelar atau mencetak tenaga kerja siap pakai bagi industri semata. Keberhasilan pendidikan diukur dari lahirnya pribadi-pribadi yang beriman teguh, beradab mulia, bahagia dalam kesahajaan, serta menebar manfaat bagi sesama. Selama orientasi ini belum diluruskan, peringatan “anak dididik tapi tak terdidik” akan terus menjadi cermin retak bagi masa depan bangsa.
Inspirasi video Dr Adian Husaini:










