Tuesday, September 29, 2026
Home Artikel Dari Langgar Sederhana di Desa Kuncen Menuju Pemikiran Besar — Dr. Adian...

Dari Langgar Sederhana di Desa Kuncen Menuju Pemikiran Besar — Dr. Adian Husain

0
16

Gemercik air sungai dan hembusan angin pedesaan menyambut langkah Dr. Adian Husaini saat kembali menapakkan kaki di tanah kelahirannya, Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro.

Adianhusaini.id, BOJONEGORO — Di tempat yang bersahaja ini, berdiri sebuah bangunan surau sederhana yang kini dinamai Langgar Kyai Muhsin. Bagi cendekiawan Muslim tersebut, surau ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan kawah candradimuka yang membentuk fondasi keilmuan dan spiritualitasnya sejak usia belia.

Mengenang masa kecilnya, Dr. Adian menceritakan perjalanan panjang belajar mengaji yang dimulainya sejak taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Di tempat inilah tumbuh benih-benih kecintaan terhadap Al-Qur’an dan ilmu agama yang kelak mewarnai perjalanan hidupnya.

Metodologi Penuh Kasih Sang Kakek

Di balik ketelatenan mengajar di surau tua tersebut, ada sosok penting yang sangat dihormati, yakni Kyai Muhsin, kakek dari Dr. Adian Husaini. Kyai Muhsin merupakan guru pertama yang membimbing anak-anak desa membaca dan memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ada metode unik sekaligus penuh kehangatan dalam pengajaran masa itu. Setiap sore atau malam hari, para santri cilik berbaris rapi mengular ke belakang, menanti giliran untuk maju membaca di hadapan sang kyai satu per satu. Di tengah stereotip pengajaran tradisional zaman dahulu yang identik dengan kedisiplinan keras, Kyai Muhsin justru menanamkan pendekatan yang lembut dan teduh.

“Ingat saya dulu, kakek saya tidak memakai rotan. Kalau ada bacaan yang salah, tidak ada cerita dipukul,” kenang Dr. Adian. Pendekatan afektif tanpa kekerasan fisik ini membuat suasana belajar mengaji terasa hangat, aman, dan dirindukan oleh anak-anak desa.

Dari Al-Qur’an hingga Tradisi Kitab Kuning

Seiring bertambahnya usia, kurikulum pembelajaran di langgar sederhana itu terus berkembang. Memasuki jenjang kelas 4 hingga 5 SD, Dr. Adian mulai diperkenalkan pada tradisi literatur Islam klasik atau yang populer dengan sebutan kitab kuning. Salah satu kitab dasar fiqih dan akidah yang pertama kali dipelajarinya di langgar tersebut adalah Sulam At-Taufiq.

Tradjisi menuntut ilmu ini berlanjut hingga jenjang SMP. Ketika menginjak usia remaja, kajian keislamannya meluas ke bangunan di sebelah surau, yang tak lain merupakan rumah pamannya. Di sana, kajian kitab-kitab monumental seperti Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali dan kumpulan hadis Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi dipelajari secara tekun. Fondasi turats yang kokoh inilah yang kelak membentuk pemikiran kritis dan kedalaman wawasan keIslamannya.

Nostalgia Bengawan Solo: Rakit Gedebog Pisang dan Jala Ikan

Tak hanya menyimpan kisah spiritual, lokasi langgar di Desa Kuncen ini juga menyimpan kenangan masa kecil yang penuh dengan nuansa alam. Terletak hanya sekitar 500 meter dari aliran Bengawan Solo serta berbatasan langsung dengan sungai kecil di sampingnya, tempat ini menyajikan pemandangan alam yang asri.

Namun, kedekatan dengan sungai besar juga membawa dinamika tersendiri saat musim penghujan tiba. Banjir luapan Bengawan Solo menjadi fenomena tahunan yang kerap menggenangi kawasan pemukiman hingga area sekitar musholla. Bagi anak-anak desa kala itu, banjir bukanlah musibah yang menakutkan, melainkan arena petualangan.

Dr. Adian menceritakan bagaimana ia dan teman-teman sebayanya membuat ketek-ketek—rakit sederhana yang dirangkai dari batang/pelepah pisang. Dengan rakit buatan sendiri itu, mereka mengarungi luapan air banjir untuk mengelilingi desa. Tak sekadar bermain air, keterampilan bertahan hidup dan kedekatan dengan alam tumbuh secara alami. Dr. Adian muda bahkan merajut jala dan jaring ikannya sendiri untuk menangkap ikan di area genangan banjir serta memancing di tepi sungai sekitar surau.

Wajah Baru Langgar Kyai Muhsin: Menatap Masa Depan

Mengingat kembali memori yang telah berlalu lebih dari setengah abad (50 tahun) silam menghadirkan keharuan tersendiri. Bangunan yang telah menjadi saksi bisu lahirnya generasi pencinta ilmu tersebut kini berada di ambang transformasi baru.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa Kyai Muhsin serta upaya menjaga keberlangsungan syiar Islam di Desa Kuncen, direncanakan pemugaran total terhadap bangunan langgar ini. Bangunan lama akan dibongkar dan dibangun kembali menjadi fasilitas ibadah yang lebih modern, indah, dan representatif.

Renovasi ini diharapkan dapat menghidupkan kembali dinamika keagamaan masyarakat setempat, sehingga tempat tersebut menjadi lebih makmur, nyaman, dan memancarkan manfaat yang lebih luas bagi warga sekitar, sebagaimana fungsi utamanya sejak puluhan tahun silam.

Perjalanan Dr. Adian Husaini kembali ke Langgar Kyai Muhsin menjadi pengingat bahwasanya pemikiran besar dan kiprah luas seorang tokoh sering kali berakar dari kesederhanaan sebuah surau di pelosok desa, dibimbing oleh ketulusan seorang guru, dan ditempa oleh kehangatan kearifan lokal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here