Tanah yang tak Pernah Disapa

by

Orang kota menyebutnya “lahan tidur.” Tapi orang tua di kampung menyebutnya: tanah yang sedang istirahat.

Yang satu bicara efisiensi, yang lain perasaan.

Di Bali, petani tahu kapan air harus mengalir. Kapan sawah dibiarkan tenang. Subak bukan sekadar irigasi, tapi kesepakatan antara petani, tanah, dan langit. Ketika pupuk kimia datang seperti gelombang yang tak bisa ditolak, tanah tak lagi sempat pulih. Lalu panen pun mulai tak menentu.

Jalan keluar justru ditemukan dari masa lalu. Kebijaksanaan sistem tradisional yang nyaris hilang Ini yang dicatat oleh Lansing (1996)

Orang Dayak di Kalimantan membuka ladang lalu menyingkir. Bukan karena tak tahu cara bertani menetap. Mereka tahu tanah pun butuh jeda. Mereka kembali setelah hutan pulih. Setelah tanah sempat istirahat. Praktik ini yang dulu direndahkan, kini dicatat ilmuwan sebagai contoh ekologi regeneratif yang cermat (Thung, 2021).

Di Minangkabau, tanah diajak bicara. Tanah tak pernah dipaksa. Mereka menyuburkan sawah dengan dedaunan dan abu dapur. Merka tak buru-buru memaksa tanah memberi. Alam dijadikan guru. Bukan objek untuk dieksploitasi. Karena siapa yang memaksa tanah, cepat atau lambat akan dipaksa berhenti.

Di tatar sunda, dikenal istilah leuweung larangan. Hutan yang tak boleh diganggu. Di sekitarnya, orang membuka huma, menanam dengan irama. Mereka tanam pohon keras di pinggir, lalu palawija di tengah. Ini bukan teori agroforestri dari jurnal ilmiah. Ini kearifan leluhur yang lahir dari iqra, membaca dan mendengar suara alam. Universitas Padjadjaran mencatatnya sebagai model konservasi alami yang unggul.

Ilmu modern tak menyangkal ini. Frontiers in Soil Science (2022) mencatat bahwa praktik organik, yang akarnya justru dari kearifan lokal mampu memperbaiki struktur tanah, menjaga kelembapan, dan menghidupkan mikroorganisme yang selama ini luput disapa.

Bukan hanya tekniknya yang kita lupa. Kita mengabaikan sikapnya. Kita bicara soal panen, bukan relasi. Kita ukur pH, tapi tak lagi cium bau tanah basah. Tanah yang tak disapa, akan lupa caranya memberi.

Kalau sungguh ingin tanah kembali hidup, yang perlu kita lakukan bukan revolusi. Kita perlu tobat, menunduk dan mendengar. Lalu pelan-pelan kita belajar lagi dari mereka yang menanam dengan sabar, menunggu dengan hormat, dan memanen secukupnya.

Untuk urusan menyuburkan bumi, mungkin kita harus mau kembali berguru pada leluhur.