Bulan Zulhijjah dalam kalender Hijriah bukan sekadar penanda waktu, melainkan periode emas spiritualitas Islam yang diakui sebagai hari-hari yang paling dicintai Allah SWT untuk amal saleh.
Wartapilihan.com, Jakarta– Di jantung periode ini, terdapat Hari Arafah—sebuah momentum kulminasi ibadah yang menyatukan dimensi geografis, historis, dan teologis bagi seluruh umat Islam di dunia.
Namun, keagungan spiritual ini sering kali dibayangi oleh tantangan sosial: perbedaan penentuan awal bulan yang berimplikasi pada perbedaan hari puasa Arafah dan Iduladha. Menanggapi fragmentasi ini, Dr. Syeikh Ismail Lutfi Fatani menawarkan solusi integratif yang berakar pada definisi nabawi dan visi kesatuan umat (Ummah Wahidah).
Profil Sang Jembatan Intelektual: Dari Mekah untuk Nusantara
Memahami pemikiran ini memerlukan tinjauan terhadap sosok di baliknya. Syeikh Ismail Lutfi lahir di Mekah pada tahun 1950, memberikan beliau akses awal pada sumber primer ilmu pengetahuan Islam. Beliau adalah representasi langka ulama yang menyintesiskan tradisi pondok pesantren dengan sistem akademik modern, terbukti dari gelar Doktor (Ph.D) yang diraihnya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh pada 1986.
Sebagai Rektor Fatoni University di Thailand, beliau memelopori metodologi al-Isalat (keaslian riwayat) dan al-Mucasarat (pemikiran kontemporer), memastikan pesan agama tetap relevan tanpa kehilangan akar orisinalitasnya.
Hakikat Arafah: Mengembalikan Definisi ke “Titik Nol”
Syeikh Ismail Lutfi berargumen bahwa kekeliruan waktu puasa sering bermula dari kegagalan memahami definisi terminologis dari Rasulullah ﷺ. Beliau menegaskan:
- Identitas Makani (Tempat): Hari Arafah bukanlah label kalender tanggal 9 Zulhijjah yang berdiri sendiri, melainkan identitas yang lahir dari aktivitas wukuf di lokasi tertentu (Padang Arafah).
- Anomali Semantik: Jika syariat menghendaki puasa hanya berdasarkan angka tanggal di tiap wilayah, maka istilah yang digunakan seharusnya adalah “Puasa Sembilan Zulhijjah,” bukan “Puasa Arafah”.
- Satu Momentum: Beliau menolak gagasan adanya “beberapa Hari Arafah” dalam satu tahun, karena hal itu kontradiktif dengan esensi haji yang memusatkan umat ke satu titik koordinat yang sama.
Preseden Sejarah: Dialog Masruq dan Aisyah R.A.
Salah satu poin paling kuat dalam risalah beliau adalah pengangkatan riwayat Masruq, seorang Tabi’in yang ragu berpuasa karena perbedaan penglihatan hilal lokal. Ummul Mukminin Aisyah R.A. kemudian memberikan jawaban fundamental:
“Sesungguhnya Hari Arafah adalah hari di mana Imam (pemimpin haji) keluar untuk wukuf, dan Hari Nahar adalah hari di mana Imam menyembelih kurban.”
Pelajaran dari riwayat ini jelas: Aisyah R.A. tidak menyarankan rukyah mandiri atau mengikuti kalender wilayah jika bertentangan dengan aktivitas di Mekah. Mengikuti otoritas penyelenggara haji memiliki landasan historis yang kuat dari generasi awal Islam.
Dialektika Global vs Lokal di Era Digital
Di Asia Tenggara, prinsip Ikhtilaful Mathali (perbedaan tempat terbit bulan) dalam Mazhab Syafi’i menjadi pegangan utama otoritas seperti MUI. Namun, Syeikh Ismail Lutfi menawarkan interpretasi luas:
- Sifat Ibadah: Prinsip lokalitas lebih tepat untuk ibadah murni zamani (waktu) seperti Ramadan, namun kurang tepat untuk ibadah dengan titik sentral geografis seperti haji.
- Faktor Teknologi: Dahulu, perbedaan waktu dibenarkan karena kendala komunikasi. Di era siaran langsung, di mana wukuf dapat dilihat secara real-time, alasan perbedaan tempat kehilangan basis argumentasi praktisnya.
- Kepastian (Yaqin): Observasi visual langsung dari Mekah menghasilkan kepastian, sementara mengikuti kalender lokal yang berbeda sering kali hanya menghasilkan dugaan (dzan).
Manifestasi Spiritual dan Kekuatan Doa
Secara spiritual, puasa Arafah menawarkan penebusan dosa dua tahun—anugerah yang tidak ditemukan pada puasa sunnah lainnya. Syeikh Ismail Lutfi mengajak umat untuk menghidupkan sore hari Arafah dengan doa, menyelaraskan diri dengan jamaah haji yang sedang wukuf. Beliau bahkan telah menyusun 153 doa pilihan selama 13 tahun terakhir untuk memandu umat mencapai kedalaman spiritual ini.
Penutup: Menuju Ummah Wahidah
Visi besar Syeikh Ismail Lutfi adalah menempatkan isu Hari Arafah dalam bingkai Ummah Wahidah (Umat yang Satu). Baginya, keseragaman ibadah adalah fondasi kekuatan sosial dan politik Islam di kancah dunia.
Beliau menyerukan kepada para pemimpin dan ulama untuk berani mengambil langkah strategis menuju penyatuan ini. Di era globalisasi, keselarasan waktu ibadah bukan sekadar masalah teknis, melainkan pernyataan nyata bahwa Islam adalah agama yang satu, dengan Tuhan yang satu, dan umat yang satu.
Apakah Anda ingin saya membantu membuatkan draf caption media sosial (Instagram/Facebook) untuk mempromosikan artikel ini agar sesuai dengan target audiens di Depok atau jejaring petani binaan Anda?

