Qurban untuk Rohingya (1)

by

Sekadar Memotretpun Tak Boleh

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Dewan Dakwah melalui Program Qurban Multi Manfaat mengajak masyarakat untuk berkurban di mancanegara. Yakni di Palestina, Somalia, Suriah, Bangladesh, dan Myanmar. Berikut tulisan pertama dari tiga seri kisah tentang Pengungsi Rohingya di Myanmar yang membuat mereka sangat layak dikirimi qurban.

Hanya seratus meter, jarak ke Masjid Jami’ (Sawduro Bor Mesjid) Sittwe dari Hotel Memory tempat kami menginap. Tapi kami tak pernah shalat di mesjid itu. Karena tak bisa. Bahkan untuk sekadar memotretnyapun, tak boleh. Ada sejumlah tentara Myanmar yang menjaganya siang-malam bersenjatakan AK-47 siap tembak. Juga mata-mata sipil yang dibayar militer untuk mengawasi sesamanya.

Sawduro Bor Mesjid dibangun sekitar 800 tahun lalu, menjadi tonggak atau milestone eksistensi dan kiprah kaum muslimin di Negara Bagian Rakhine (Arakan), Burma (Myanmar). PBB mencatatnya sebagai salah satu peninggalan sejarah di Burma. Artinya, mesjid itu merupakan situs sejarah yang harus dilindungi secara internasional.

Sembako untuk kaum ibu warga Desa Than Taw Li

Namun pada 7 Oktober 2012, rumah ibadah tersebut dibakar kaum ekstrimis Buddha yang didukung 500-an anggota militer setempat. Salah satu destinasi wisata sejarah dunia ini dibiarkan mangkrak. Dikelilingi pagar seng tinggi dan dijaga militer. Tidak boleh direhab. Bangunan ilegal, dalihnya.

’Hei, no picture, no picture!’’ Bentak seseorang ketika saya coba untuk memotret Sawduro Bor Mesjid pada Kamis sore Ramadhan 1439 H, 31 Mei lalu.

Berdasarkan informasi warga dan kabar di internet, saya sebenarnya sudah tahu akan adanya larangan tersebut. Tapi, ingin membuktikan sendiri. Mosok ambil foto rumah ibadah agama sendiri kok dilarang? Eh, ternyata benar. Maka, berlagak seperti turis culun, saya mengurungkan niat mengambil gambar. Lalu berkeliling melihat-lihat seputar mesjid. Seorang tentara mengawasi pergerakan saya.

Eksotisme bangunan monumental itu tenggelam oleh dinding seng dan rumput ilalang tinggi di sekitarnya. Hanya tampak bagian lantai dua ke atas. Kusam, gosong, bekas lalapan api. Ingin sekali memasukinya, namun tentara garang melarang.

Sawduro Bor Mesjid salah satu dari 28 masjid yang jadi korban amuk ekstrimis. Tinggal dua masjid tersisa yang bisa digunakan di Sittwe, ibukota Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Kami tak sempat membesuk keduanya.

Hancurnya masjid-masjid di Sittwe, disertai menghilangnya penduduk muslim dari kota ini. Padahal, hingga kerusuhan 2012, warga muslim Sittwe mencapai 37.000 jiwa atau hampir separuh dari populasi penduduk.

Warga muslim lari ke desa-desa pinggiran Sittwe sebagai internal displaced person (IDP).

Menurut kontak saya dari sebuah kamp pengungsi setempat, terdapat 13 kamp pengungsi IDP. Sebelas diantaranya dihuni warga Bengali, sebutan untuk Muslim Rohingya. Sisanya dihuni warga Buddha yakni Zaw Buja dan Thay Chaung. Jumlah pemukim seluruhnya sekitar 150 ribu jiwa. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *