Pemikiran Liberal Dalam Studi Hadits Nabi

by

Oleh: Zein Addien MA (Mahasiswa Attaqwa College Depok)

Pada hari Ahad, (15/9/2019), para mahasiswa Attaqwa College (ATCO), ditugaskan untuk menghadiri seminar bertajuk “Fenomena Transnasionalisme Islam Liberal di Dunia Akademik” di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Jakarta. Salah satu pembicaranya adalah Dr. Zahrul Fata, yang membahas tentang pemikiran liberal dalam studi hadits Nabi Muhammad saw.

Dr. Zahrul menjelaskan, bahwa sebelum memasuki beberapa metodologi kaum liberal dalam karya mereka yang berkaitan dengan ilmu hadits, perlu dilihat cara penafsiran orang-orang Barat terhadap kitab suci mereka. Yakni, digunakannya metode historisisme (at-Tarikhiyah).

Adapun metode historisisme,  pada intinya bermaksud untuk menafsirkan sesuatu berdasarkan konteks sejarah yang mengelilinginya. Ada empat pondasi historisisme, yaitu: Rasionalisme, Relativisme, Freedom, dan Individualisme.

Ustadz Zahrul mengutip karya berjudul “Building Moderate Muslim Networks” yang ditulis oleh beberapa orang Barat. Kutipan tersebut adalah kutipan mengenai laporan ‘Rand Corporation’. Buku ini merupakan hasil riset dari dua lembaga besar di Amerika, yakni The Asia Foundation dan The Ford Foundation, yang intinya adalah untuk membentuk cara pandang bercorak liberal terhadap Islam. Bisa jadi, presiden datang silih berganti, namun cara pandang liberal itu akan tetap sama.

Dalam buku itu tertulis tujuan dari lembaga-lembaga Amerika tersebut, yang mengatakan bahwa “Some Muslim teaschers, although of a moderate disposition, lack the ability to link Islmaic teachings explicitly with democratic values. In response, the Asia Foundation has developed a program to assist the efforts of moderate ulama to mine Islamic texts and traditions for authoritative teachings that support democratic values. The result is a corpus of writings on fiqh (Islamic jurispudence) that support democracy, pluralism, and gender equality.”

Jadi, intinya lembaga itu sengaja menarik orang-orang Indonesia untuk kemudian diliberalkan lewat institusi-institusi mereka dan disuruh menyebarkan faham itu. Di sana mereka memang diajarkan studi Islam, namun yang sudah tercampur dengan nilai-nilai demokrasi, pluralisme, gender euality, keadilan dan toleransi “ala” mereka. Jadi, menurut Dr. Zahrul, jika ada yang menyebarkan paham liberal, tidak dapat duit, maka ia rugi dunia dan akhirat.

   Kemudian beliau masuk kepada materi inti, yakni metodologi-metodologi liberal dalam merasuki studi hadits, yaitu:

  • Mutilasi dalil berdasarkan asumsi awal
  • Bersandar kepada pendapat yang lemah
  • Materialisme
  • Historisisme
  • Reinterpretasi teks atas nama maslahat
  • Merujuk kepada referensi yang sekunder

Diantara metodologi-metodologi tersebut, beliau menjelaskan dua saja, secara ringkas, yaitu: Bersandar kepada pendapat yang lemah dan historisisme. Salah satu yang dibahas oleh dosen IAIN Ponorogo itu adalah bagaimana orang liberal mengacaukan pemikiran orang-orang Islam dengan cara menyandarkan hukum sebuah permasalahan dengan membandingkan antara hadits yang kedudukannya lemah, tetapi disepakati oleh para ulama dengan hadits yang menyatakan sebaliknya yang kedudukannya kuat.

            Contohnya adalah mengenai kasus bolehnya wanita menjadi imam shalat yang mana makmumnya juga ada laki-laki. Persoalan ini diambil dari suatu bab di sebuah buku berjudul “Fiqh Perempuan” karya seorang tokoh liberal. Dalam persoalan tersebut, penulis mengutip sebuah Hadits yang mengatakan bahwa seorang perempuan tidak boleh mengimam laki-laki dalam shalat. Hadits ini adalah hadits yang mendasari larangan perempuan untuk menjadi imam shalat. Tetapi penulis menuliskan bahwa hadits ini kedudukannya lemah.

Dibawah hadits yang tadi, penulis mencantumkan lagi sebuah hadits Nabi yang kedudukannya lebih kuat. Hadits yang kedua ini adalah hadits yang isinya berlawanan dengan hadits sebelumnya. Yakni, hadits yang menyetujui perempuan mengimami shalat walaupun makmumnya ada yang laki-laki yang sudah baligh.

            Kedua hal diatas menunjukkan bahwa dalam persoalan ini penulis buku tersebut lebih menyutujui hadits yang kedua (yang membolehkan),  dibandingkan yang pertama. Alasannya, katanya, karena hadits yang kedua ini kedudukannya lebih kuat dibandingkan dengan hadits yang pertama.

Bahkan sang penulis juga mencantumkan pendapat ulama-ulama mengenai periwayat hadits ini, yakni al-Walid bin Abdullah bin Junayyi az-Zuhri al-Maliki. Para ulama berpendepat sebagai berikut:

  • Imam Ahmad dan Abu Dawud mengatakan “Dia tidak bermasalah.”. demikian juga yang dikatakan oleh Abu Zur’ah.
  • Ibn Ma’in dan al-Ijli mengatakan bahwa ia dapat dipercaya.
  • Ibn Hibban mengomentari, “Hadits yang dia riwayatkan bagus.”
  • Dll.

Pendapat-pendapat yang ia cantumkan mengenai hadits tersebut (yang menyetujui perempuan jadi imam shalat bagi laki-laki) memang mengatakan bahwa hadits tersebut bagus dan shahih. Akan tetapi, dibalik semua pendapat yang sang penulis cantumkan, terdapat pendapat yang disembunyikan. Dengan kata lain,  tidak ditulis oleh sang penulis liberal tersebut. Misalnya, pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani yang menyatakan, bahwa periwayat hadits ini kurang terpercaya, dan hadits itu lemah, bahkan dikhawatirkan hadits ini salah atau palsu.

Jadi sang penulis hanya mencantumkan pendapat para ulama hadits yang menyatakan bahwa perawinya adalah seorang yang dapat dipercaya dan haditsnya shahih agar para pembaca menganggap bahwa hadits ini lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan hadits yang melarang perempuan menjadi imam shalat. Padahal sebenarnya terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini lemah. Sedangkan mengenai hadits yang pertama, yang dikatakan lemah oleh sang penulis, sebenarnya juga memiliki jalur yang kuat. Hanya saja sang penulis disini tidak mengambil pendapat dari jalur periwayat lain sehingga hadits ini terkesan lemah.

Kemudian sang penulis juga menuliskan tentang illah dan hikmah mengenai persoalan ini, yakni persoalan tentang dilarangnya perempuan menjadi imam shalat bagi makmum laki-laki. Sang penulis menganggap bahwa para ulama melarang hal tersebut adalah karena illahnya, yaitu khauful fitnah atau takut bahwa hal tersebut akan menyebabkan fitnah, yaitu suasana yang menganggu atau menggoda hati dan pikiran laki-laki.

Mengenai hal di atas, terjadi sebuah kekeliruan. Sang penulis mengatakan bahwa khauful fitnah adalah illah atau alasan dari dilarangnya perempuan untuk menjadi imam shalat bagi laki-laki. Padahal sebenarnya illahnya adalah karena ia perempuan, sedangkan khauful fitnah itu adalah hikmahnya. Yaitu berarti KARENA seseorang berjenis kelamin perempuan, ia tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki AGAR tidak menimbulkan fitnah.

Sama kasusnya seperti bolehnya berbuka puasa bagi para musafir. Illah atau alasannya adalah karena ia dalam keadaan safar. Sedangkan hikmahnya adalah daf’ul masyaqqah atau agar tidak memberatkan. Tak peduli apakah tetap berpuasa bagi orang yang safar itu memberatkannya atau tidak, ia tetap diperbolehkan untuk berbuka agar tidak memberatkan dirinya. “Tetapi jangan dibalik, kita tidak boleh berbuka puasa karena merasa berat padahal posisi kita tidak sedang safar,” kata Dr. Zahrul.

            Demikianlah laporan singkat tentang usaha kaum liberal dalam mempengaruhi masyarakat melalui penggunaan hadits secara keliru. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *