Apabila mereka (para misionaris) memiliki jargon: “Kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti Merpati” sebagaimana ajaran Paulus (Lihat: Kitab 1 Korintus 9: 20-21), maka tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar di tengah problematika dan tantangan dakwah yang semakin massif.
Wartapilihan.com, Jakarta — Menjelang pergantian tahun (tahun baru), masyarakat disibukkan dengan rencana perjalanan untuk memeringati momentum tersebut. Bagaimana penjelasan Natal dan tahun baru menurut teologis?
Peneliti Forum Anti Kemurtadan (Fakta) Ustaz Abu Deedat Syihab menjelaskan, natalan dan Tahun Baru bukan milik Yesus, tapi hari ulang Tahun kelahiran dewa matahari. Natal dan paskah sudah menjadi tradisi dan ibadah dalam agama Kristen, walaupun tahu Yesus tidak lahir tanggal 25 Desember.
Menurut pandangan Kristen sejati alias Kristen saksi Yahova mengatakan sebagai berikut: “Tidak semua kepercayaan dan kebiasaan adalah buruk. Namun Allah tidak memperkenankan semua itu jika hal-hal tersebut berasal dan‘ agama palsu atau bertentangan dengan ajaran alkitab,” (Matius 15 : 6).
Wakil Ketua Komisi Dakwah Khusus Majelis Ulama Indonesia (KDK-MUI) Ustaz Abu Deedat Syihabuddin, menjelaskan dua prinsip yang dijadikan misionaris dalam melancarkan aksinya yaitu Injil Matius Pasal 28 ayat 19-20 dan Injil Markus Pasal 16 ayat 15.
“Islam dan Kristen sama-sama agama misi. Jika di Islam disebut dengan dakwah. Namun, semuanya ada role (aturan) agar tidak konflik di lapangan. Karena itu, pemerintah menerbitkan SKB dua menteri,” ujar Abu Deedat.
Abu Deedat menerangkan berbagai modus operandi dalam memurtadkan umat Islam. Diantaranya jalinan pertemanan yang lebih khusus, perbuatan maksiat yang menimpa generasi muda, sosialisasi kawin campur agama, pengaburan kebenaran Islam, layanan kemanusiaan, edukasi, dan skill secara cuma-cuma.
“Kini, modusnya seolah olah mereka mensosialisasikan program-program pemerintah, nyatanya bukan. Seperti pernikahan massal di Bekasi tempo lalu, kemudian pencananangan gerakan Bekasi anti narkoba dimana seolah-olah itu program BNK (Badan Narkotika Kota),” katanya.
“Yang terbaru mereka mengadakan kegiatan akbar di Monas bertema Bangkitlah Indonesia, seolah-olah bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta, padahal tidak,” imbuhnya.
Tritunggal
“Apakah Yehuwa suatu Tritunggal, yakni tiga pribadi dalam satu Allah? Bukan! Yehuwa. sang bapak, satu-satunya Allahyang benar.“ (Yohanes 17: 3, Markus 12: 29).
“Bapak Iebih besar daripada Putra” (Yohanes 14: 28).
Natal dan Paskah
“Yesus tidak lahir pada tangga125 Desember. Ia lahir kira-kira tanggal 1 Oktober, masa untuk para gembala menjaga kawanan domba mereka di luar kandang pada malam hari”. (Lukas 2 : 8 12).
“Yesus tidak pemah memerintahkan orang Kristen untuk merayakan kelahirannya. Sebaliknya, ia memberi tahu murid-mun‘dnya untuk merayakan atau mempen’ngati kematiannya”. (Lukas 22: 19 20).
“Natal dan kebiasaan-kebiasaannya berasal dari agama-agama palsu zaman purba. Sama halnya dengan kebiasaan-kebiasaan Paskah seperti digunakannya telur dan kelinci. Orang Kristen masa awal tidak merayakan natal atau paskah, demikian juga orang Kristen sejati (Kristen saksi Yehova, red) dewasa ini,” ujar Abu Deedat dalam diskusi Madrasah Ghazul Fikri di Gedung Dewan Da’wah, Jakarta, Kamis (27/12).
Hari Ulang Tahun
“Kedua perayaan hari ulang tahun yang disebutkan dalam Alkitab diadakan oIeh orangv oranq yang tidak beribadat kepada Yehuwa”. (Kejadian 40: 20 22, Markus 6: 21 22 dan 24 27).
“Artinya, orang Kristen masa awal tidak merayakan ulang tahun. Kebiasaan merayakan hari ulang tahun berasal dari agama-agama palsu zaman purba,” kata Abu Deedat.
Lambang Salib berasal dari agama-agama palsu zaman purba
“Salib tidak digunakan atau disembah oleh orang-orang Kristen masa awal. Jadi, apakah benar saudara pikir adaIah benar untuk menggunakan sebuah salib dalam lbadah?” (Ulangan 7: 26, Korintus 10 : 514).
“Maka, siapa yang mengucapkan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, kebid‘ahannya, dan kekufurannya berarti dia menantang kemurkaan Allah,” jelas Abu Deedat.
”Para uIama yang waras (yang selaIu meninggalkan sesuatu yang bisa membayakan agamanya) menghindari ucapan selamat kepada pemimpin zhalim dan ucapan selamat kepada yang memegang jabatan hakim, pengajar, dan fatwa kepada orang bodoh, karena menjauhi kemurkaan Allah dan dipandang rendah olehNya.” (Lihat: Ahkamu Ahli Dzimmah, 1/ 144 244).
Fatwa MUI Tanggal 7 Maret 1981 tentang Natalan Bersama
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, adalah sebagai berikut:
1. Perayaan Natal di Indonesia, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa ’alaihis salam, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal ibadah dan aqidah.
2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhdnahu wa ta’dla dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
“Maka, dapat disimpulkan, Natal dan Paskah (apabila ditelisik akar sejarahnya) berasal dari agama-agama palsu zaman purba. Dan perayaan Natal di dalam gereja merupakan sebagai pengganti perayaan penyembahan dewa matahari ketika Kaisar Constantine masih menjadi orang kafir,” tandasnya.
Adi Prawira

