Dalam khazanah Islam, Hasan dan Husain bin Ali dikenal sebagai cucu Nabi Muhammad, yang keduanya sangat dicintai. Namun menariknya, dalam mazhab Syiah, hanya Al-Husain yang mendapatkan pengagungan luar biasa, sementara Al-Hasan dan anak-anak lain Ali kurang mendapat perhatian, bahkan dikesampingkan. Apa yang menjadi alasan di balik fenomena ini?
Wartapilihan.com, Jakarta– Awal cerita bermula dari perbedaan sikap antara Hasan dan Husain setelah wafatnya Nabi Muhammad. Hasan dikenal sebagai sosok yang mengutamakan perdamaian, memilih berdamai dengan penguasa saat itu, Muawiyah, demi menghindari pertumpahan darah di kalangan umat Islam. Sebaliknya, Husain mengambil sikap berbeda dengan menolak tunduk kepada penguasa yang dianggapnya tidak legitim, sehingga berujung pada kematiannya yang tragis di Karbala.
Namun, alasan pengagungan khusus terhadap Husain oleh Syiah tidak sekadar karena tragedi Karbala saja. Ada sebuah pernikahan politik yang menyimpan rahasia besar, yaitu pernikahan Husain dengan Shah Zinan, putri Kaisar Persia terakhir dari Dinasti Sassania. Persia, sebagai kekaisaran besar yang pernah menguasai wilayah luas sebelum kejatuhan akibat penaklukan oleh pasukan Muslim di masa Khalifah Umar ibn Khattab, meninggalkan luka sejarah yang mendalam bagi rakyat dan para bangsawannya.
Pernikahan ini secara simbolis menyatukan darah keturunan Rasulullah dengan darah bangsawan Persia yang pernah berkuasa. Dari pernikahan inilah lahir garis keturunan yang diangkat sebagai 12 Imam Syiah, yang secara eksklusif berasal dari keturunan Husain dan Shah Zinan. Dengan demikian, darah Persia dalam garis keturunan ini menjadi pusat ideologi dan doktrin Syiah.
Ada benang merah antara dendam historis bangsa Persia terhadap kekhalifahan Arab dan pembentukan identitas Syiah modern. Persia yang kalah secara militer berupaya bangkit kembali secara spiritual melalui kultus terhadap garis keturunan Husain yang mengandung darah Persia. Mereka membungkus ambisi politik dan etnis ini dalam bingkai kesetiaan pada keluarga Nabi, yaitu Ahlul Bayt.
Fenomena ini juga menjelaskan sikap Syiah yang menolak garis keturunan Hasan dan keturunan Ali lainnya, termasuk Muhammad bin Hanafiyah dan Abbas bin Ali, yang tidak memiliki darah Persia. Oleh karena itu, pengangkatan imam-imam hanya berdasarkan garis keturunan Husain yang menyimpan darah Persia bukan sekadar masalah keturunan biologis, tetapi juga simbol kebangkitan kekuasaan Persia yang dibungkus dengan label agama.
Lebih jauh, transformasi Syiah dari sekadar kelompok politik pendukung Ali menjadi sebuah agama dengan doktrin khusus menempatkan imam sebagai sosok suci dan tak terkoreksi secara absolut makin mengukuhkan fanatisme pada garis keturunan ini. Bahkan konsep imamah berbeda jauh dari konsep kepemimpinan sebagaimana dikenal dalam Islam Sunni.
Namun, di balik tutur kata cinta pada Ahlul Bayt, ada paradoks besar. Sebagian pengikut Syiah juga menaruh kebencian yang dalam terhadap para sahabat Nabi yang sangat dicintai Nabi Muhammad seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan bahkan istri Nabi Aisyah. Kebencian ini dilandasi oleh luka sejarah penaklukan Persia oleh umat Muslim Arab, sehingga menjadi kontras tajam dengan ajaran Islam yang sebenarnya mengedepankan persatuan dan kasih sayang.
Strategi taqiyah pun turut berperan, yakni praktik menyembunyikan keyakinan sejati demi kelangsungan hidup dan penyebaran pengaruh. Mereka mengatasnamakan cinta pada Ahlul Bayt, sementara sesungguhnya melestarikan misi kebangkitan kekaisaran Persia yang telah lama hilang.
Penutupnya, pertanyaan yang perlu direnungkan bersama adalah apakah kecintaan pada Ahlul Bayt didasarkan atas ketulusan mengikuti ajaran Nabi Muhammad, atau malah menjadi identitas budaya dan politik yang membungkus dendam dan kebencian lama?
Dalam Islam sejati, kemuliaan dan kedudukan seseorang di hadapan Allah tidak dihitung dari garis keturunan atau darah, melainkan dari ketakwaan dan keimanan. Semoga kita dapat memahami sejarah dan konteks ini dengan bijak agar tidak mudah terjebak dalam narasi yang memecah belah umat.

