Malaikat, Istiqamah, dan DNA Kolaborasi Umat

by

Oleh: Disarikan dari Ta’lim Bakda Subuh KH Didin Hafidhuddin

Keimanan kepada hal yang ghaib, khususnya kepada Malaikat dan Hari Akhir, bukan sekadar dogma yang dihafal. Ia adalah fondasi yang membentuk karakter seorang mukmin dalam menjalani kehidupan dunia yang penuh dinamika. Hal ini terungkap dalam kajian tafsir Al-Quran Surat Al-Mursalat ayat 1-15 yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin di Masjid Al-Hijri 2, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Ahad (25/1/2026).

Wartapilihan.com, BOGOR — Surat Al-Mursalat, yang merupakan golongan surat Makkiyah, diawali dengan sumpah Allah SWT atas nama para malaikat. “Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya…” (QS Al-Mursalat: 1-2).
KH Didin menegaskan bahwa ayat-ayat ini memberikan gambaran tentang totalitas ketaatan malaikat. Mereka adalah makhluk yang tidak pernah bermaksiat, senantiasa menyebarkan rahmat, membedakan yang haq dan batil, serta menyampaikan wahyu. Kepatuhan mutlak para malaikat ini menjadi cermin bagi orang beriman untuk tetap istiqamah.

Malaikat dan Keteguhan Iman

KH Didin menjelaskan, Surat Al-Mursalat sebagai surat Makkiyah berfungsi mengokohkan keimanan, terutama keyakinan kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk yang tidak pernah bermaksiat, senantiasa taat, dan melaksanakan perintah Allah dengan penuh kesungguhan. Keyakinan ini bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi spiritual yang menguatkan seorang mukmin dalam menjalani kehidupan.

Orang beriman yang istiqamah dalam dakwah dan amal saleh sejatinya tidak berjalan sendiri. Allah membimbing mereka melalui para malaikat-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Surat Fussilat ayat 30–31, bahwa malaikat akan turun menenangkan orang-orang yang meneguhkan tauhid dan istiqamah, seraya memberi kabar gembira tentang surga.

Dari sinilah lahir dua karakter utama seorang muslim sejati: sabar dan syukur. Dalam kesulitan, ia bersabar dengan ikhlas; dalam kelapangan, ia bersyukur tanpa sombong. Kedua sikap ini, menurut KH Didin, selalu berujung pada kebaikan karena berada dalam bimbingan Allah dan para malaikat-Nya. Tidak ada keadaan yang benar-benar buruk bagi seorang mukmin.

Rahmat Allah dan Spirit Kolektif Umat

Rahmat Allah bukan berarti ketiadaan ujian. Justru ujian adalah bagian dari sunnatullah. Surat At-Taubah ayat 71 menggambarkan ciri komunitas mukmin: saling menolong, menegakkan amar makruf nahi mungkar, menunaikan salat dan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka inilah yang dijanjikan rahmat Allah.

KH Didin mengingatkan bahwa manusia—terutama umat Islam—memiliki “DNA sosial”: kecenderungan untuk berkolaborasi dalam kebaikan. Jika orang-orang yang menentang kebenaran mampu berkolaborasi untuk keburukan, maka umat Islam semestinya lebih kuat dalam kerja sama untuk dakwah dan kemaslahatan.

Dalam konteks inilah, pesantren, masjid, dan kampus disebut sebagai tiga institusi strategis. Sinergi ketiganya diyakini mampu melahirkan kekuatan besar dalam membangun peradaban Islam dan memperkokoh keimanan umat.

Antara Perilaku Yahudi dan Identitas Israil

Menjawab pertanyaan jamaah, KH Didin menjelaskan perbedaan istilah Yahudi dan Israil dalam Al-Qur’an. Yahudi lebih sering merujuk pada perilaku—yakni sikap ingkar, sombong, dan menolak dakwah para nabi. Sementara Israil menunjuk pada identitas kebangsaan atau keturunan. Dalam sejarah, keduanya kerap berkelindan karena banyak perilaku tercela itu dilakukan oleh Bani Israil.

Manusia, Malaikat, dan Setan

Manusia memiliki potensi untuk melampaui malaikat dalam ketaatan, namun juga bisa terjerumus lebih rendah dari setan dalam kedurhakaan. Semuanya bergantung pada pilihan dan kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an dan perjuangan Islam. Ketika seseorang berpaling dari peringatan Allah, setan akan menjadi teman dekatnya, sebagaimana diingatkan dalam Surat Az-Zukhruf ayat 36–37.

Namun, setan tidak memiliki kekuasaan atas orang beriman. Surat An-Nahl ayat 98–100 menegaskan bahwa perlindungan Allah cukup bagi mereka yang beriman dan bertawakal. Karena itu, umat Islam tidak perlu takut pada godaan setan, tetapi justru harus waspada agar tidak berkolaborasi dengannya.

Memakmurkan Masjid dan Menjaga Keikhlasan Dakwah

Terkait upaya mengajak generasi muda memakmurkan masjid, KH Didin menekankan pentingnya prasangka baik. Anak muda yang datang ke masjid tidak selayaknya dicurigai. Bahkan, kini mulai banyak masjid yang digagas dan dikelola oleh generasi muda.

Beliau juga mengingatkan bahaya sekularisasi yang memisahkan agama dari kehidupan. Fatwa MUI tahun 2007 yang mengharamkan sekularisme terbukti relevan, karena dampak buruknya kini kian terasa. Agama harus hadir di setiap ruang kehidupan, apa pun profesi dan jabatan seseorang.

Dalam berdakwah secara luas, umat Islam diminta menilai orang dari zahirnya, bukan menebak-nebak isi hati. Proses kewaspadaan terhadap penyusupan dapat dilakukan secara bijak dan bertahap, tanpa menghilangkan ukhuwah dan adab.

Penutup

Pengajian ditutup dengan doa untuk jamaah yang sakit agar segera diberi kesembuhan, serta doa kafaratul majelis. Semoga tadabbur Surat Al-Mursalat ini meneguhkan keyakinan kita akan kepastian janji Allah, peran malaikat-Nya, dan pentingnya istiqamah dalam iman dan amal.

Wallahu a’lam bish-shawab.