Lebih Tepat ‘Ekstrimisme’ Daripada ‘Radikalisme’

by

Oleh: Dr. Adian Husaini (Wartawan Harian Republika tahun 1993-1997)

Kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ masih menjadi perbicangan panas di Indonesia, menyusul pernyataan sejumlah menteri di Kabinet Indonesua maju. Yang terbaru, Presiden Joko Widodo mengusulkan agar  istilah ‘radikal’ diganti dengan ‘manipulator agama’.

Wartapilihan.com, Depok — “Apakah ada istilah lain yang bisa kita gunakan, misalnya manipulator agama. Saya serahkan kepada Pak Menko Polhukam untuk mengkoordinasikan masalah ini,” kata Presiden, (Kamis, 31/10/2019).

Pernyataan Presiden Jokowi itu membuka ruang untuk mendiskusikan kembali penggunaan istilah dan perumusan makna ‘radikalisme’. Sebenarnya, pada 8 Oktober 2019, Kementerian Agama RI telah meluncurkan buku berjudul “Moderasi Beragama”.

Buku terbitan Kementerian Agama RI itu dengan tegas mendefinisikan cara beragama yang moderat adalah yang tidak ekstrim. Berikut uraiannya: “Semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrem dalam beragama. Di satu sisi, ada pemeluk agama yang ekstrem meyakini mutlak kebenaran satu tafsir teks agama, seraya menganggap sesat penafsir se­ lainnya. Kelompok ini biasa disebut ultra­konservatif. Di sisi lain, ada juga umat beragama yang esktrem mendewakan akal hingga mengabaikan kesucian agama, atau mengorban­ kan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama lain. Mereka biasa disebut ekstrem liberal. Keduanya perlu dimoderasi. (hlm. 7)

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata moderasi, yakni: 1. n pengurangan kekerasan, dan 2. n penghindaran keekstreman. Jika dikatakan, “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajar, biasa-biasa saja, dan tidak ekstrim. (hlm. 15)

Merujuk kepada buku terbitan Kenterian Agama RI terebut, jelaslah, bahwa sikap beragama yang ideal adalah yang ‘moderat’, yakni bersikap ‘adil’, atau wasathiyyah’. Lawan dari ‘adil’ adalah ‘ghuluw’ atau ‘tatharruf’. Yakni, sikap dan tindakan yang berlebihan dalam beragama. 

*****

Di Indonesia, penggunaan istilah ‘radikalisme’ mengalami perkembangan dan keragaman. Di masa penjajahan Belanda, istilah ‘radikal’ bermakna positif bagi pejuang kemerdekaan RI. Dalam disertasinya di Utrecht, Belanda, Adnan Buyung Nasution mencatat, pada tahun 1918, di Indonesia dibentuk apa yang disebut sebagai “Radicale Concentratie”, yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, dan Indische Sociaal Democratische Vereniging.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”. Sedangkan “radikalisme”, diartikan sebagai: “paham atau aliran yang radikal dalam politik”, “paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis”, “sikap ekstrim di suatu aliran politik”.

            Saat ini, pasca Perang Dingin dan khususnya pasca 11 September 2001, kata radikal lebih sering ditujukan kepada kelompok-kelompok yang kritis terhadap peradaban Barat, baik dari kalangan Islam maupun lainnya.  Tahun 2004, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta  sudah menerbitkan hasil penelitiannya dalam bentuk sebuah buku berjudul “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia” (Penyunting: Jamhari dan Jajang Jahroni). Ada empat kelompok yang mendapat cap “salafi radikal” dalam buku ini, yaitu Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Hizbuttahrir.

            Kriteria ‘Islam radikal’, menurut buku ini: (1) kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung; (2) dalam kegiatannya mereka seringkali menggunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka, (3) secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas. (4) Kelompok ‘Islam radikal’ seringkali bergerak  secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.

            Tentang ideologi ‘Islam radikal’, buku ini mengutip pendapat John L. Esposito (dari bukunya, Islam: The Straight Path), yang lebih suka menggunakan istilah ‘Islam revivalis’.

Pertama, mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat. Kedua, mereka seringkali menganggap bahwa ideologi  masyarakat Barat yang sekular dan cenderung materislistis harus ditolak. Ketiga, mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk ‘kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial.

Keempat, karena idelogi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan-peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat, juga harus ditolak. Kelima, mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final. Keenam, mereka berkeyakinan, bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat Muslim tidak akan berhasil  tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat.

            Dengan kriteria semacam itu, maka sederet organisasi Islam dengan mudah bisa dimasukkan kategori ‘Islam radikal’, hanya karena mereka kritis terhadap pandangan hidup dan nilai-nilai sekular-liberal Barat serta meyakini Islam sebagai alternatif solusi kehidupan mereka. Padahal, logikanya, jika Barat boleh meyakini nilai-nilai mereka, mengapa umat Islam tidak boleh?

            Buku lain, semisal buku Islam Radikal: Pergulatan Ormas-ormas Islam Garis Keras di Indonesia, (2002), juga memberi cap radikal kepada sejumlah organisasi Islam. Kriteria ‘radikal’ merujuk pada kriteria Horace M. Kellen – yakni: (1) radikalisasi merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung, (2) radikalisasi tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya mengganti tatanan tersebut dengan suatu bentuk tatanan lain, (3) kuatnya keyakinan kaum radikal akan kebenaran program atau ideologi yang mereka bawa.

            Dengan kriteria seperti itu, maka upaya kaum Muslim Indonesia untuk memperjuangkan tegaknya ekonomi syariah sebagai ganti dari tatanan ekonomi kapitalisme-liberalisme, dapat secara langsung dimasukkan dalam kategori “Islam radikal”.

Dengan kriteria itu, maka Bank Islam dan Asuransi Syariah, dan sebagainya, adalah gerakan ekonomi yang bersifat radikal. Soal kuatnya keyakinan, idealnya dimiliki semua pejuang dalam semua lapangan kehidupan.

Kristen radikal

            Sementara itu, di kalangan Kristen-Katolik, justru terbit sejumlah buku yang menganjurkan agar kaum Kristen di Indonesia beragama secara radikal. Misalnya, buku ‘Beriman dengan Radikal’ (Yogyakarta: Pustaka Kanisius, 1986), karya Prof. Dr. B.S. Mardiaatmadja, menulis “Kalau kita memilih Yesus Kristus: itu harus secara radikal di tempat pertama, di atas orang tua, anak dan hidup sendiri (Mat 10:37-39). (lihat hlm. 84-85).

            Dalam buku berjudul “Kami Mengalami Yesus di Bandung” (Jakarta: Metanoia Publishing, 2011), disbutkan bahwa saat ini, telah muncul anak-anak muda Kristen yang “dibangkitkan untuk mengikut Tuhan secara radikal.” (hlm. 23).

Dikatakan, bahwa mereka memiliki sikap RADIKAL dalam berbagai aspek: (1)  Radikal dalam Pemberian. (2)  Radikal dalam berdoa. (3) Radikal dalam Kekudusan Hidup. (4) Radikal dalam Memberitakan Injil. (5) Radikal dalam Memberikan Waktu untuk Pelayanan.

Buku ini lebih tegas judulnya:  “Being Radical for Jesus: “Membangun Dasar Kehidupan Kristen Yang Radikal bagi Tuhan”. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2016).  Ditulis dalam pengantar:  “Buku ini menjawab tentang Amanat Agung Tuhan Yesus untuk “pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus” (Mat. 28:19). Tanpa iman yang radikal, gereja masa kini tidak akan mungkin melakukannya.

Bab ke-5 diberi judul “Menjadi Kristen Radikal”.  Dijelaskan bahwa radikalisme yang dimaksud di sini adalah radikalisme positif tanpa kekerasan. “ini merupakan bentuk keyakinan yang kuat kepada Tuhan sehingga mau membayar harga demi mempertahankan imannya walaupun kematian adalah harganya.” (hlm. 169-170).

*****

            Dengan adanya saran Presiden Joko Widodo tentang perlunya istilah radikal diganti dengan istilah lain, maka sekarang menjadi tugas Menkopulhukam Prof. Mahfud MD untuk merumuskan kembali penggunaan istilah dan makna radikalisme atau istilah lain yang lebih tepat. Kalau boleh usul: lebih  tepat gunakan istilah “ekstrim”, bahasa arabnya (ghuluw, atau tatharruf).             Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para pemimpin umat dan para pemimpin bangsa Indonesia agar mereka dapat mengambil keputusan yang benar dan diridhai Allah SWT. Tanggung jawab mereka sangat besar di dunia dan akhirat! (Depok, 1 November 2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *