by Iwan Wientania
Superioritas yang memabukkan tiada artinya ketika kesadaran muncul dalam kebenaran Tuhan.
Hatiku lantas berkata, kesombongan tiada memberi apa pun selain penyesalan.
Matahari yang megah diatas kepala hanya sebesar kelereng dibanding bintang syi’ra yang bertuhankan Allah yang maha perkasa.
Bumi layaknya kerikil, sedangkan manusia laksana debu yang lantas beterbangan kala angin bertiup meskipun tiada kencang.
Syahdan seorang Imam menolak panggilan Sultan Harun Al Rasyid yang ingin mendapatkan pelajaran.
Sang Imam berkata, ” Manusialah yang mencari ilmu, bukan Ilmu yang datang mencari manusia ”
Dan ketika Al Rasyid datang kepada Sang Imam dan akan minum air yang disediakan, Sang Imam menahannya dan berkata, ” Tuan mau bayar berapa air itu kalau Tuan kehausan di padang pasir sementara air tidak ada ?”
” Akan kubayar separuh dari hartaku.. “, jawabnya setelah sesaat merenung.
Sang Imam kemudian mempersilakan Al Rasyid minum dan setelah itu berkata lagi, ” Berapa Tuan akan bayar kalau air itu tak bisa dikeluarkan ?”
Al Rasyid tertegun, kalau air itu tak bisa dikeluarkan tentu ia menderita dan bisa jadi mengalami kematian.
” Akan kubayar dengan seluruh harta kekayaanku “, jawabnya dengan penuh kesadaran.
” Ternyata semua kekayaan Tuan nilainya tak lebih dari air kencing saja “, kata Sang Imam tersenyum.
Superioritas Harun Al Rasyid runtuh seketika itu juga bagaikan batu yang jatuh dari puncak gunung ke dasar laut yang amat dalam.
Dan kesadaran baru muncul perlahan laksana cahaya yang keluar dari kegelapan, bahwa superioritas hanyalah maya di hakekat kehidupan.
( Depok medio Januari 2026 )

