The Invincibilty Al Ayyubi

by
foto: istimewa

Tiba-tiba saja lelaki itu sudah berada di dalam tenda Richard I, Panglima Perang Inggris bergelar ‘’The Lion Heart’’. Si Hati Singa gentar, karena orang asing itu tak lain adalah panglima perang pasukan musuhnya.

Wartapilihan.com, Jakarta –Alih-alih membunuh Richard yang tengah terbaring sakit tanpa daya, orang itu malah mengobatinya. Dengan obat medis modern yang belum dikenal oleh dunia takhayul Barat saat itu. Sehingga, lusa harinya Richard sudah fit kembali untuk memimpin perang. Perang melawan pasukan yang panglimanya telah menyembuhkan dia.

Panglima perang nan jantan budiman itu tak lain adalah Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub. Dia pahlawan Islam kelahiran Tikrit 1137 yang tersohor di Timur maupun Barat, sejak jamannya hingga kini. Reputasinya sebagai komandan perang tak terkalahkan, dibarengi dengan integritas yang tinggi sebagai muslim berakhlak mulia. Seperti ketika ‘’The Invincibilty’’ (Yang Tak Terkalahkan)  mempertaruhkan nyawa saat menyusup ke tenda Richard I untuk mengobatinya.

Maka dengan penuh hormat sekaligus jeri, sejarawan Barat menyebut namanya dengan lafal ‘’Saladin’’. Kisah episode perang dan kepemimpinannya banyak diabadikan dalam karya puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah ‘’The Talisman’’ (1825) karya Walter Scott. Lepas dari manipulasi subyektif di sana-sini, karya-karya tentang Sholahuddin itu semuanya mengekspresikan kekaguman yang mendalam kepada sang tokoh.

Muslim Indonesia pun mengidolakannya. Sebagian dengan cara menamai anak mereka ‘’Soultan Saladin’’ –bintang film tempo doeloe. Tapi kebanyakan Muslim Indonesia lebih senang mengenang sang pahlawan dengan mewarisi tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw melalui gebyar Maulid.

Yang jarang dipahami, Sholahuddin merintis peringatan Maulid Nabi untuk menggebrak dan membangkitkan kembali spirit jihad kaum muslimin yang mulai mengendur lantaran ‘’kelelahan’’ berperang bertahun-tahun dalam serial Perang Salib atau Perang Sabil.

Jihad memang jalan hidup Sholahuddin. Selain belajar Islam, sejak kecil ia mendapat gemblengan kemiliteran dari pamannya, Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Bersama sang paman, pada 1171 Sholahuddin Al Ayyubi berhasil menyingkirkan kekuasaan Fathimiyah di Mesir yang menyempal dari Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Baghdad. Mereka kemudian mendirikan pemerintahan Ayyubiyah yang loyal kepada Khalifah.

Kesuksesan Sholahuddin menyatukan kembali Mesir dan Syria dalam naungan Khilafah, mengundang serbuan pasukan kafir. Meletuslah episode ketiga Perang Salib yang berlangsung pada tahun 1189-1192.

Dengan Khilafah dan jihad, pada 1187 Sholahuddin berhasil merebut kembali Al Aqsha (Yerusalem) dari kekuasaan Barat. Keberhasilan ini ditebus melalui operasi jihad yang fenomenal.

Kala itu, pasukan salib dikomandoi jagoan-jagoan Eropa terkemuka: Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I dari Inggris, dan Phillip II dari Prancis. Masing-masing dengan ratusan ribu pasukan yang mengular di belakangnya.

Sholahuddin tak gentar. Ia yakin pada firman Allah Swt, bahwa kekuatan musuh itu tahsabuhum jami’a wa qulubuhum syatta. Kelihatannya bersatu, tapi sejatinya hati mereka bercerai berai. Terbukti kemudian, terjadi intrik di kalangan mereka sendiri yang menyebabkan Friedrich mati tenggelam; Richard ditawan,  dan  Phillip kabur kembali ke Prancis untuk menyerbu dan menguasai Inggris.

Setelah dibebaskan dengan tebusan sangat mahal, Richard I memimpin pasukannya menghadapi pasukan Sholahuddin. Pertempuran seru terjadi. The Lion Heart sangat alot untuk ditaklukkan. Selain karena ketangguhannya, juga lantaran Sholahuddin tidak membunuh dia meski memiliki kesempatan emas untuk itu. Bahkan Sholahuddin mengobati sakitnya.

Akhirnya, Al Aqsha berhasil direbut kembali oleh Sholahuddin. Pada 1192 Shalahuddin dan Richard meneken Perjanjian Ramalah yang isinya pengakuan kedaulatan Khilafah atas Jerusalem. Walau demikian, kota suci ini tetap terbuka bagi para peziarah Kristen. Selama mereka tidak macam-macam, maka penguasa Islam akan menjamin keselamatan dan kepentingannya.

Setahun kemudian, dunia kehilangan sang bintang jaman Sholahuddin Al Ayyubi. Ketika peti harta warisan Sholahuddin dibuka, isinya nyaris kosong. Bahkan sekadar untuk biaya pemakamannya pun tak cukup. Gaji, bagian ghanimah maupun fa’i yang diterima Jendral Sholahuddin selama hidupnya, habis dibagikan kepada kaum dhuafa.

Sungguh, umat Muslim sedunia berutang pada Sholahuddin untuk merebut kembali Jerusalem alias Al Quds.

Bowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *