FATIH MADINI SARANKAN GEN-Z: YANG BACA TAN MALAKA LANJUT KE PEMIKIRAN M NATSIR

by

Di tengah merebaknya popularitas Tan Malaka di media sosial, Fatih Madini mengenalkan sosok dan pemikiran Muhammad Natsir.  Menurut alumnus kampus STID M. Natsir – Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini, Tan Malaka memiliki gagasan-gagasan hebat. Tapi, membaca pemikiran Tan Malaka perlu dilanjutkan dengan membaca pemikiran M. Natsir.

Wartapilihan.com, Solo– Saran itu disampaikan Fatih Madini dalam acara Bedah Buku “Mohammad Natsir: Negarawan, Guru, Dai Teladan” karya Dr. Adian Husaini, di Kota Solo, (7/9/2025).

Fatih Madini menjelaskan, M. Natsir dan Tan Malaka sama-sama ingin menguatkan Indonesia dengan mewujudkan keadilan bagi masyarakat dan meningkatkan kualitas berpikir mereka. Tapi dua tokoh yang sama-sama Orang Minang itu mempunyai cara pandang yang berbeda.

Tan Malaka memakai gagasan “Madilog” yang khas dengan filsafat materialisme Karl Marx untuk mewujudkan itu. Sedangkan M. Natsir, menggunakan Islam sebagai sebuah ideologi yang menurutnya jauh lebih solutif dan ideal.

Fatih menjelaskan, tahun 1925, Tan Malaka menerbitkan tulisannya berjudul “Menuju Republik Indonesia“. Visi dan metode meraih kemerdekaan Indonesia dalam buku itu ia tulis dengan detail. Malaka mengatakan, “Kesadaran revolusioner kita, kita ambil dari materialisme dialektika Marx.”

Tahun 1931, Natsir menulis “Indonesisch Nationalisme”, yang dihimpun dalam bukunya, “Agama dan Negara dalam Perspektif Islam”. Isinya kurang lebih sama dengan Malaka. Bedanya, Natsir meletakkan Islam sebagai asas dalam memberi kesadaran revolusioner.

“Visi Islam soal cinta tanah air, melawan penjajah dan meraih kemerdekaan, kata Natsir, jauh lebih ideal dan membekas dalam jiwa masyarakat,” jelas Fatih Madini.

Ia pun mengutip narasi M Natsir:  “Pergerakan Islamlah yang lebih dulu membuka jalan medan politik kemerdekaan di tanah ini, yang mula-mula menanam bibit persatuan Indonesia yang menyingkirkan sifat kepulauan dan keprovinsian, yang mula-mula menanam persaudaraan dengan kaum yang sama senasib di luar batas Indonesia dengan tali ke-Islaman.” 

Fatih juga menguraikan pemikiran Natsir mengenai keadilan Islam bagi masyarakat, khususnya kaum buruh, yang lebih ideal dari gagasan yang ditawarkan melalui Komunisme dan Kapitalisme. “Ini bisa dirujuk pada buku Capita Selecta 2 dan buku Revolusi Indonesia,” ujarnya.

Soal upaya meningkatkan taraf berpikir masyarakat, Tan Malaka menulis buku “Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika”. Menurut Fatih Madini, buku itu menguraikan dengan begitu luar biasa potensi akal dan indra manusia.

Buku Madilog mendorong akal dan indra untuk berpikir dan melakukan observasi berdasarkan “kaidah ilmiah” demi berkembangnya ilmu pengetahuan. Baginya, hal itu tidak akan terwujud sebelum manusia bisa membuang “logika mistika”-nya, yang erat kaitannya dengan kehendak dan kuasa Tuhan.

“Tetapi, letak masalahnya adalah Tan Malaka menyamaratakan logika mistika yang harus dibuang adalah yang berasal dari semua agama atau kepercayaan, yang dalam Madilog ia menggunakan contoh Dewa Mesir Kuno, Rah,” jelas Fatih Madini, yang telah menulis empat buku tentang peradaban dan pendidikan.

Dijelaskan oleh Fatih Madini, dalam pandangan Islam, jika kepercayaan hal mistis semacam takhayul dianggap bisa menumpulkan akal masyarakat dan menghambat laju ilmu pengetahuan, maka Islam sepakat dengan hal itu.  Tapi jika sampai mendepak eksistensi metafisik secara mutlak dan menyingkirkan wahyu sebagai sumber ilmu, Islam tentu tidak sepakat. Bahkan dalam buku “Pandangan Hidup”, dengan pandangan filsafat materialismenya, Tan Malaka secara tersirat sudah memandang agama sebatas dogma yang tidak bisa diafirmasi soal benar-salahnya.

“Di sinilah Mohammad Natsir kembali memberi solusi ideal melalui Islam,” tegas Fatih Madini, yang menulis skripsi dengan judul Pemikiran dan Respons Mohammad Natsir terhadap Sekularisme. (https://mediadakwah.id/sarjana-ddii-ini-lulus-setelah-tulis-empat-buku-dan-skripsi-serius-tentang-pemikiran-m-natsir/).

Merujuk kepada pemikiran M. Natsir, Fatih Madini memaparkan, Islam mengakui wahyu sebagai sumber ilmu. Dengan pengakuan akan wahyu yang metafisik itu, maka akal dan indra manusia justru memperoleh tiga keuntungan.

Pertama, wahyu akan melengkapi keterbatasan akal dan indra. Mengutip M Natsir dalam buku “Fiqhud Da’wah”, disebutkan: “Wahyu tidak memusuhi pancaindra dan akal…. Mana yang tak tercapai oleh pancaindra dijemput oleh aqal. Mana yang tidak atau belum tercapai oleh aqal, dijangkaukan oleh wahyu.”

Kedua, wahyu akan memberi stimulus bagi tumbuh kembang dan kerja akal juga indra. Kata Natsir, “Tidaklah sekali-kali wahyu itu takut kepada akal, tidak berusaha menutup-nutupi akal, apalagi mematikan akal. Maka ia memanggil akal untuk melakukan fungsinya. Dipanggilnya pancaindra untuk memberi ‘makanan pada akal’.”

Hal itu jelas terbukti dalam sejarah Peradaban Islam. “Bukanlah wahyu yang menyuruh menghukum seseorang seperti Galileo Galilei (1564-1642) dan banyak lagi ahli akal dan ilmu yang senasib dengan dia, dalam sejarah ‘Barat’ itu, yang di waktu itu masih takut melihat cuaca siang,” ungkap Fatih merujuk Natsir. Masalah itu, jelas Fatih, bisa dirujuk pada buku M Natsir berjudul “Capita Selecta 1” dan “Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah”.

 Ketiga, dengan pengakuan akan wahyu, perkembangan dan laju ilmu pengetahuan akan mempunyai arah yang jelas sehingga membawa manfaat dan rahmat bagi manusia dan alam semesta, tidak liar karena kehilangan makna sehingga membawa kerusakan di mana-mana.

Hal ini begitu penting menimbang besarnya kerusakan yang disebabkan oleh peradaban Barat, melalui perkembangan ilmu pengetahuan yang sekular dan materialis itu. Mengutip narasi M. Natsir dalam buku “World of Islam Festival dalam Perspektif Sejarah”,  Fatih Madini mengatakan: “Manusia itu dihadapkan kepada keadaan yang mencemaskan pada masa kini: —di satu pihak dia berhasil memperoleh kemajuan materil yang luar biasa, di lain pihak manusia itu gagal untuk menguasai nafsu-nafsu dasar dirinya… Manusia telah bisa mempelajari bagaimana mengendalikan alam lingkungan, tetapi dia tidak belajar mengendalikan dirinya sendiri. Maka dia menjadi kehilangan arah serta kehilangan rasa perimbangannya.”

        Demikianlah pemaparan Fatih Madini tentang perbandingan pemikiran Tan Malaka dan M Natsir dalam sejumlah masalah keilmuan, kenegaraan, dan peradaban. Ia kemudian menyarankan, agar Gen-Z yang membaca pemikiran-pemikiran Tan Malaka melanjutkan kajiannya ke pemikiran-pemikiran M. Natsir.

“InsyaAllah dengan itu kita bisa berlaku adil, dan menempatkan kedudukan pemikiran tokoh-tokoh kita pada tempatnya, secara proporsional,” pungkasnya. (Solo, 7-9-2025).

//NB. Buku “Mohammad Natsir: Negarawan, Guru, Dai Teladan”, dapat dipesan di DIFA Books: 0813-8111-2253.).