Peradaban Islam tidak hanya dikenang karena era emas kenabian dan para Khulafaur Rasyidin. Kekhalifahan setelahnya, khususnya Dinasti Umayyah, juga memiliki jejak gemilang yang mengubah panggung sejarah.
Wartapilihan.com, Depok– Dalam kuliah Sejarah Peradaban Islam, Dr. Alwi Alatas, dosen International Islamic University of Malaysia, memaparkan bagaimana peradaban Islam di era Umayyah menjadi sebuah kekuatan besar dengan capaian monumental.
Di bawah kepemimpinan Umayyah, wilayah Islam meluas secara masif, mencakup separuh Afrika Utara hingga sebagian Prancis selatan. Ekspansi ini bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan pintu masuk bagi masyarakat lokal untuk mengenal dan akhirnya memeluk Islam. Hal serupa juga terjadi di wilayah Timur, seperti Samarkand, Afghanistan, dan Turkmenistan.
Pembangunan Militer dan Inovasi Komunikasi
Untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan, Dinasti Umayyah membangun kekuatan militer yang tangguh. Serangan ke Byzantium, seperti yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyyah dan para sahabat Nabi seperti Abu Ayyub Al-Anshari, menjadi bukti ambisi tersebut.
Namun, ekspansi terpenting adalah pengembangan angkatan laut yang kala itu masih lemah. Muawiyyah mendirikan galangan kapal (dar al-sina’ah) di Akka dan Alexandria. Inovasi ini menjadi fondasi bagi keberhasilan operasi maritim di masa depan, termasuk penaklukan pulau-pulau penting seperti Rhodes.
Selain militer, Umayyah juga menaruh perhatian besar pada komunikasi. Luasnya wilayah kekuasaan mendorong Khalifah Abdul Malik untuk menyempurnakan sistem pos (al-Barid) yang telah dirintis sebelumnya. Menariknya, saat masyarakat Eropa masih mengandalkan utusan manusia, peradaban Islam telah menggunakan burung merpati pos untuk pengiriman pesan, menandai sebuah lompatan teknologi yang jauh lebih efisien.
Reformasi Moneter hingga Kesejahteraan Rakyat
Salah satu inovasi terbesar Umayyah adalah reformasi moneter pada 76 H/695 M di bawah Khalifah Abdul Malik. Untuk pertama kalinya, umat Islam mencetak mata uang sendiri, dinar dan dirham, sebagai simbol kedaulatan ekonomi. Meskipun mirip dengan mata uang Byzantium dan Persia, koin-koin Islam ini menolak gambar makhluk hidup dan menggantinya dengan ukiran teks Arab berisikan syahadat, mencerminkan identitas keislaman yang kuat.
Di samping itu, pembangunan di bidang sosial juga tak luput dari perhatian. Di era Al-Walid bin Abdul Malik, dibangun leprosorium—fasilitas khusus untuk penderita lepra—dan diberikan bantuan sosial bagi tunanetra. Langkah ini jauh melampaui praktik pengobatan Barat yang kala itu masih berlandaskan pada kepercayaan mistik.
Peradaban Islam yang maju ini tidak bisa dilepaskan dari peran tradisi keilmuan yang subur. Lembaga-lembaga pendidikan seperti Kuttab tersebar di mana-mana, menjadikan ilmu sebagai kedudukan tertinggi. Dengan berlandaskan cahaya iman, masyarakat yang bertakwa, dan tradisi keilmuan yang mengakar, peradaban Islam di era Umayyah berhasil menerangi dunia.
Catatan ini merupakan rangkuman dari kuliah Sejarah Peradaban Islam oleh Dr. Alwi Alatas di At-Taqwa College Pesantren At-Taqwa Depok.

