Dampak fenomena iklim El Niño yang memicu kekeringan ekstrem di wilayah Sumatra mulai menunjukkan imbas nyata di lapangan.
Wartapilihan.com, Prabumulih-–Pada Senin (6/7) siang, sebuah insiden kebakaran lahan melanda kawasan Jalan Patra Dalam, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Prabumulih Selatan, Kota Prabumulih, Sumatra Selatan.
Kebakaran yang terjadi di tengah cuaca terik tersebut menghanguskan sedikitnya satu hektare lahan vegetasi sebelum akhirnya berhasil dikendalikan oleh tim pemadam.
Kronologi Kebakaran dan Respon Cepat Petugas
Peristiwa kebakaran ini pertama kali diketahui berdasarkan laporan dari warga setempat yang melihat kepulan asap membumbung tinggi dari arah lahan semak belukar pada pukul 14.47 WIB. Menanggapi laporan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Prabumulih langsung bergerak cepat.
Petugas dari Regu A Posko Selatan (Tugu Tani) segera mempersiapkan Alat Pelindung Diri (APD) serta peralatan pemadaman, lalu meluncur ke lokasi kejadian. Di bawah komando Komandan Regu (Danru) Ferdinand, Sunarto, dan Enton Harhasan, sebanyak 15 personel dikerahkan untuk menjinakkan kobaran api.
Proses pemadaman tidak dilakukan sendirian. Pihak BPBD juga bersinergi dengan aparat kewilayahan, termasuk Bhabinkamtibmas Sukaraja, guna mengamankan perimeter dan memastikan api tidak meluas ke area pemukiman warga. Setelah berjibaku melawan asap pekat dan barong api di tengah vegetasi yang mengering, petugas akhirnya berhasil memadamkan seluruh titik api. Beruntung, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Ancaman Nyata Kekeringan El Niño di Sumatra
Kebakaran lahan di Prabumulih ini menjadi alarm keras bagi wilayah Sumatra Selatan dan sekitarnya. Secara ilmiah, insiden ini sangat erat kaitannya dengan fenomena El Niño 2026 yang saat ini sedang melanda Indonesia.
Kombinasi antara musim kemarau dan anomali suhu El Niño menyebabkan curah hujan di pulau Sumatra merosot drastis. Akibatnya, kelembapan tanah menurun tajam dan mengubah hamparan semak belukar menjadi material kering yang sangat rapuh dan mudah terbakar. Dalam kondisi ekstrem seperti ini, gesekan ranting kering atau tindakan kelalaian manusia sekecil apa pun dapat dengan mudah memicu kebakaran hebat yang meluas dalam waktu singkat.
Sinergi dan respon cepat yang ditunjukkan oleh BPBD Kota Prabumulih bersama instansi terkait dalam insiden ini menjadi contoh pentingnya kesiapsiagaan menghadapi puncak kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Warga pun diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar guna mencegah bencana kabut asap yang lebih luas. [AF]

