PULANG DARI MASJID DI HARI TASYRIK

by

by Iwan Hasanul Akmal

Aku melangkah keluar.

Angin sepoi basah dari selatan menyergap tubuhku.

Ibu-ibu tua yang duduk-duduk di depan rumah mereka

nyaris setiap pagi menyapaku.

Pulang pak ?

Ya setiap pagi ketika aku keluar masjid mereka selalu berkata demikian.

Namun aku yang lebih banyak bercerita membuat mereka banyak tertawa.

Padahal mereka banyak yang masih muda dariku namun perempuan memang lebih cepat tua.

Hari ini masih hari tasyrik namun suara takbir tak terdengar lagi. Langit biru cerah dengan awan berserakan dan udara bekas hujan semalam masih berhembus dengan lembut.

Di depan gang seorang seniman kameraman yang duduk di depan rumahnya menyapaku seperti biasa, ” Pulang pak ?”

” Ya. Saya lupa bawa kaca mata, saya lihat anda lebih muda dari biasanya ” jawabku.

Dia tertawa, ” Bapak bisa aja …” katanya.

Aku selalu bisa bikin orang tertawa.

Di samping rumah, tetanggaku menawarkan sop tulang iga daging qurban. Dia tetangga yang baik dan selalu tertawa mendengar gurauanku. Sebenarnya bukan aku menghibur mereka tapi aku menghibur diriku agar bisa tertawa di depan mereka.

” Bapak, waktu ibu masih ada jarang kelihatan ” kata tetangga itu.

” Ya. Kalau saya sering kemari tentu isteri saya cemburu…” kataku.

Dia tertawa.

Suaminya juga tertawa sambil menghidangkan sop hangat yang harum bau pala, cengkeh, daun bawang dan saledri.

Mei 28 – 2026