SUMUR RESAPAN Vs LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB)

by

Salah satu sistem peresapan yang telah banyak dikenal untuk kawasan pemukiman adalah sumur resapan.  Sumur resapan dapat menampung air cukup banyak.  Banyaknya air yang tertampung dapat melunakkan tanah di sekitar dinding sumur; sehingga sebagian atau seluruh dinding sumur perlu diperkuat. 

Wartapilihan.com, Jakarta– Bahan penguat dinding sumur, biasanya terbuat dari lapisan beton bertulang. Cara ini, sebenarnya sudah mengurangi dan menutup pori yang dapat dilewati air untuk meresap ke dalam tanah.  Derasnya air yang terkumpul masuk ke dalam sumur juga dapat merusak tanah, sehingga sebagian volume sumur perlu diisi dengan bahan yang tidak mudah hancur seperti pasir, kerikil, dan ijuk.

Bahan-bahan pengisi tersebut tidak dapat digunakan oleh organisme tanah sebagai sumber makanan, sehingga tidak akan terjadi aktivitas pembentukan biopori yang berperan mempercepat peresapan air ke dalam tanah.

LRB memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sumur resapan karena pembuatannya cukup mudah dilakukan, juga mempunyai beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Pembuatan LRB dapat diterapkan di lahan sempit, serta tidak memerlukan tempat yang luas karena hanya berdiameter 10 cm dengan kedalaman kurang dari 100 cm.
  2. LRB perlu diisi sampah organik, sehingga dapat bermanfaat untuk menampung dan mengomposkan sampah organik di dalam tanah.
  3. Meningkatkan populasi dan aktivitas keaneka-ragaman hayati di dalam tanah.
  4. Adanya sampah organik dalam lubang LRB dapat menghindari tertutupnya lubang oleh bahan tanah yang terangkut air, serta mencegah terjadinya penyumbatan pori oleh pertumbuhan lumut.

Pengertian Biopori dan Resapan Biopori

Biopori (biopore) merupakan ruangan atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh mahluk hidup seperti fauna tanah dan akar tanaman.  Biopori berbentuk liang  (terowongan kecil), bercabang-cabang yang sangat efektif  dapat menyalurkan air dan udara ke dan di dalam tanah. Biopori terbentuk oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman di dalam tanah, serta meningkatnya aktivitas fauna tanah, seperti cacing tanah, rayap, dan semut menggali liang di dalam tanah.  Biopori tidak mungkin dapat dibuat dengan teknologi peralatan secanggih apapun. Biopori akan terus bertambah mengikuti pertumbuhan akar tanaman serta peningkatan populasi dan aktivitas organisme tanah.

Kelebihan biopori dibandingkan dengan pori makro di antara agregat tanah, yaitu: (1) lebih mantap karena dilapisi oleh senyawa organik yang dikeluarkan oleh tubuh cacing (Lee, 1985 ; Brata, 1990), (2) berbentuk lubang silindris yang bersinambung ke segala arah dan tidak mudah tertutup oleh adanya proses pengembangan karena pembasahan pada tanah yang bersifat vertik (dapat mengembang dan mengerut) sekalipun (Dexter, 1988), (3) dapat menyediakan liang yang mudah ditembus akar tanaman (Wang, Hesketh, dan Woolley, 1986), dan (4) menyediakan saluran bagi peresapan air (infiltrasi) secara horizontal maupun vertikal yang lancar ke dalam tanah (Smettem, 1992 ; Brata, 2004). Bahan mineral dan bahan organik yang dimakan cacing kemudian dikeluarkan menjadi kotoran cacing (castings) yang mempunyai bobot isi lebih rendah (1.15 g/cm3) dibandingkan dengan tanah sekitarnya yang berbobot isi 1.5 – 1.6 g/cm3 (McKenzie dan Dexter, 1987). Kotoran cacing tersebut merupakan agregat tanah yang stabil karena dimantapkan oleh senyawa organik berupa senyawa polisakarida yang dihasilkan oleh mikroba dan bahan organik yang dimakan cacing (Shipitalo dan Protz, 1989), serta diikat oleh miselia dan hifa fungi (Marinissen dan Dexter, 1990).

Populasi dan aktivitas organisme tanah dapat ditingkatkan melalui upaya penambahan sampah organik yang cukup ke dalam tanah.  Untuk memudahkan pemanfaatan sampah organik, perlu dibuat lubang/saluran vertikal ke dalam tanah, yang dikenal dengan lubang resapan biopori (LRB).  Agar tidak menimbulkan pengumpulan sampah organik dan air yang masuk ke dalam lubang/saluran terlalu banyak, diameter lubang/saluran tidak boleh terlalu besar.

Lubang resapan biopori (LRB) merupakan lubang berbentuk silindris berdiameter 10 cm yang digali ke dalam tanah. Kedalamannya sekitar 100 cm dari permukaan tanah,atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Fauna tanah bekerja menggali liang (biopori) sambil mengunyah untuk memperkecil ukuran sampah organik, sehingga dapat membantu mikro-organisme untuk melapukkan sampah organik menjadi kompos.

Pembuatan lubang/saluran yang relatif kecil ke dalam tanah dapat memperluas permukaan vertikal seluas dinding lubang/saluran yang dapat menampung sampah organik dan meresapkan air dalam lubang/saluran dengan lancar ke segala arah. Dimensi lubang/saluran yang kecil dapat memudahkan proses pembuatannya. Aktivitas biodiversitas tanah dapat mempercepat pelapukan sampah organik serta meningkatkan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah.

LRB dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Air tersebut meresap ke segala arah melalui biopori yang terbentuk menembus permukaan dinding LRB ke dalam tanah di sekitar lubang. Dengan demikian, akan menambah cadangan air dalam tanah serta dapat menghindari terjadinya aliran air di permukaan tanah. Pemasukan sampah organik ke dalam tanah dapat memperbaiki kondisi subsoil untuk membantu pertumbuhan akar lebih dalam, serta meningkatkan penyimpanan C (Carbon sink).

Jadi, bila ingin menjadi bagian dari orang yang peduli & memelihara kelestarian bumi, LRB adalah salah satu cara yang paling mudah & relatif murah. Hayu ah….bergerak!

Abu Faris (Alumni 7th Permaculture Design Course)

______________________________________________________________________

Disarikan dari:

Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup

 Karya

Kamir R Brata | | Alumni IPBIr. Kamir Raziudin Brata, M.Sc

(Purna Bhakti Dosen IPB University, Peraih Kalpataru 2015 Biopori, Teknologi Sederhana Penyelaras Alam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *