Suka Duka Dakwah di Pedalaman

by
Ilustrasi dakwah di pedalaman. Foto: Cahaya Nabawiy.

Menjadi da’i di daerah pelosok bukan hal yang mudah. Pasalnya, sang da’i harus memahami kondisi sosiologis masyarakat di daerah yang ia singgahi untuk berdakwah.

Wartapilihan.com, Jakarta – Banyak kendala yang harus dihadapi sang da’i untuk menyebarkan pemahaman Islam yang baik dan benar. Tantangan itu dialami oleh para pegiat dakwah. Secara eksklusif, Warta Pilihan menemui Ustadz Tauhid selaku Koordinator Dewan Da’wah Nusa Tenggara Barat.

Pengalamannya sebagai da’i yang bergerak di wilayah Lombok pedalaman, ia merasa, dengan banyaknya pengalaman menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan menyikapi suatu hal. Kemanisan dalam berdakwah ia rasakan ketika konsep-konsep dakwah sudah terbangun di tengah masyarakat.

“Ketika konsep-konsep dakwah sudah dibangun di tengah mereka, mereka sangat antusias, merasakan ada yang mengayomi, juga menjawab kebutuhan nurani,” kata Ustadz Tauhid, kepada Warta Pilihan (wartapilihan.com), di Lombok, Ahad, (19/8/2018).

Berkaca dari pengalaman sebelumnya berdakwah bersama teman-temannya, ia melihat beberapa kendala, seperti silaturahim yang kurang dan selalu berasumsi bahwa masyarakat tidak akan mau menerima.

“Kalau ini terbangun terus di kalangan para da’i, maka dakwah tidak sampai. Beberapa kali kami evaluasi yang nggak nyambung dakwahnya, barangkali pendekatannya, tutur katanya. Bil hikmahnya kurang, terlalu keras, tidak memahami karakteristik masyarakat itu sendiri,” lanjut Ustadz Tauhid.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan ketika berdakwah ke pedalaman ialah perlunya memahami keilmuan, baik keilmuan yang bersifat duniawi maupun agama. Keilmuan bersifat duniawi yang dimaksud oleh Ustadz Tauhid ialah soal pekerjaan atau aktivitas sehari-hari yang biasa masyarakat kerjakan.

“Ada jadi peternak, petani, maupun kegiatan mereka. Ketika kita ingin menyelam supaya nyambung dengan mereka, salah satu jalan yang ana praktikkan kami ikut beternak sapi. Pandangan sapi menurut kedokteran sapi, gimana sapi dalam ilmu ekonomi. Ketika kita sudah memahami mereka, dengan sendirinya mereka merasa diayomi. Akhirnya muncul semangat, anaknya diperbolehkan ngaji. Hatinya sudah mencair,” kenang dia.

Ia mengatakan, seorang da’i juga harus memahami karakteristik masyarakat. Pasalnya, kadang ada jenis masyarakat yang masih terakulturasi dengan budaya, atau masih kental dengan adat istiadat. Maka dari itu, menghadapi masyarakat yang demikian, da’i harus tampil beda menjelaskan mana konsep agama dan mana konsep budaya.

“Memahamkan dengan bahasa yang sangat dipahami oleh masyarakat insyaaAllah akan cepat. Dan tentunya dengan Bahasa yang arif dan tidak menyinggung perasaan masyarakat,” tegas dia.

Setelah melakukan pendekatan intensif dengan masyarakat, Ustadz Tauhid mengaku, yang selanjutnya ia kenalkan dalam berdakwah ialah pokok-pokok keislaman dan keimanan. “Tidak bisa kita pungkiri ketika kita menyampaikan yang haq kepada mereka, berada pada konsep campur aduk. Itu yang coba dikondisikan, membahasakan dengan Bahasa yang arif.

Jika menyampaikan kebenaran namun membantah dengan bahasa yang kurang, menurut dia, akan sulit memberikan percepatan pemahaman dan malah berbalik pada kemarahan. “Semangat legowo harus ada pada setiap dai. Jangan cepat putus asa,” imbuhnya.

Kendala lainnya yang menyerang para da’i adalah soal SDM yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, sedangkan dari kalangan menengah atas. “Akan lebih hebat lagi kalo orang dai lahir dari yang luar biasa di sisi ekonominya. Kadang pendukung dai di lapangan kurang. Dainya punya potensi, kemampuan yang lebih di tengah masyarakat. Pahit ini akan berangsur manis seiring da’i-nya,”

Menurut Ustadz Tauhid, dengan adanya gempa masyarakat terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni (1) sangat bersyukur karena kemaksiatan pariwisata Lombok tidak ada lagi, dan (2) mengambil hikmah untuk merefleksikan apa kesalahan pribadi.

Ia mencontohkan mayoritas suku Sasak Bayan yang masih kental dari budaya tradisional. Mereka yakin ini semua dari Allah meski kebiasaan mereka tidak ada shalat, tidak tahu caranya shalat atau memang tidak sengaja.

“Banyak kita dapati di masyarakat lokal. Sekalipun gempa ketika berulang kali kesadaran mereka untuk mengerjakan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat mereka tetap nggak bergeming,” terangnya.

 

Ustadz Tauhid pun melihat, sikap pemimpin menyikapi adanya gempa Lombok hanya sesuai kepentingan mereka saja. Pasalnya, ia menilai, jika memang pemimpin dibangun dengan konsep yang kuat, maka aturannya akan dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan.

“Jadi sikap dari seorang umaro menyikapi ini memang tergantung kepentingan mereka. Kalau memang pemimpinnya itu dibangun dengan konsep yang kuat, mengawali aturannya dengan nilai2 keagamaan. Dalam hal ini kadang2 kalau mereka sudah punya kepentingan, menutup mata. Wallahu a’lam, ini persoalan hati mereka menyikapi keadaan ini apakah berpengaruh pada kebijakan mereka atau tidak,” pungkas dia.

 

Eveline Ramadhini / Ahmad Zuhdi