Subsidi Dicabut, Berimbas pada Kebangkrutan Ritel

by

Perusahaan 7-11 (Seven-Eleven) baru saja pailit pada tahun ini. Ditambah Alfamart yang labanya turun sebanyak 71,03% juga Indomaret yang labanya turun 16,38%. Apa akar permasalahannya?

Wartapilihan.com, Jakarta –Pakar Ekonomi Universitas Indonesia, Yusuf Wibisono mengatakan, kebangkrutan yang terjadi pada perusahaan, juga laba yang menurun drastis disebabkan oleh daya beli masyarakat yang rendah. Ia menjelaskan, justru penurunan daya beli tersebut terjadi pada masyarakat menengah ke bawah, sedangkan tidak demikian pada masyarakat menengah ke atas.

“Kita bisa melihat bahwa angka-angka ini menunjukkan perekonomian kita mengalami penurunan di sisi masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat menengah ke atas itu cenderung lebih baik ekonominya,” ujar Yusuf kepada Warta Pilihan, Senin siang (7/8/2017).

“Kalau kita lihat data-data retail, ini semuanya Fast Moving Consumer Goods (FMCG) rata-rata yg umumnya masyakarat kelas menengah ke bawah. Penjualan tekstil, garmen, misalnya; ini kan retail yang sifatnya menengah ke bawah,” lanjutnya.

Inflasi per bulan Juli 2017 dikatakan hanya sebesar 3,88%. Tetapi, ia mengatakan, meski data makro menunjukkan bahwa Indonesia baik-baik saja dari segi inflasi, menurutnya, hal ini belum tentu upaya pemerintah yang sukses menjaga inflasi; melainkan karena permintaan yang rendah, sehingga harga tidak naik.

“Data-data makro ini justru harusnya kita baca lebih hati-hati. Karena kemungkinan besar didorong oleh masyarakat menengah ke atas. Indikasinya adalah perbaikan kinerja ekonomi yang tetap membaik ini. Misalnya, inflasi kita terjaga sekali. Bahkan ketika lebaran kemarin pun inflasi rendah. Karena komponen terbesar dari inflasi adalah barang-barang pokok, terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah,” paparnya.

“Jadi, ketika inflasi terjaga jangan-jangan bukan karena pemerintah yang sukses besar menjaganya. Tapi, karena apa? Daya beli masyarakat nya menurun. Begitu. Jadi tidak ada lonjakan permintaan. Jadi kalau tidak ada lonjakan permintaan, ya jelas saja tidak ada kenaikan harga. Jadi jangan-jangan membaik hanya kelas menengah ke atas aja,” ia menuturkan.

Direktur Eksekutif Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) ini menjelaskan mengapa daya beli masyarakat menurun. Ia menerangkan, daya beli menurun karena banyak hal, di antaranya (1) Ekspor yang rendah karena berakhirnya Comodity Boom, (2) Subsidi energi dicabut pemerintah dan (3) Penyerapan tenaga kerja rendah pada pembangunan infrastruktur.

“Mereka semakin memburuk pendapatannya. Saya menduga ada beberapa hal. Ini bukan fenomena yang tiba-tiba datang, ya. Ini sudah dimulai sejak akhir periode pak SBY , pas awal-awal Jokowi naik sudah terlihat. Karena pas (pemerintahan SBY) berakhir, pas berakhirnya Comoditi Boom, harga-harga komoditas jatuh. Jadi, tidak lagi kita menikmati ekspor dari barang,” ungkap Yusuf.

Kedua, kebijakan fiskal yang berperan mencabut subsidi kepada rakyat, terutama pada energi BBM dan listrik yang justru dialihkan ke infrastruktur. Menurut Yusuf, hal ini miliki keunggulan di satu sisi, tapi juga kelemahan di sisi lain. “Satu sisi mungkin memiliki keunggulan, ya. Keunggulan bahwa infrastruktur dibutuhkan oleh masyarakat untuk meningkatkan daya saing. Nah, tapi ini yang kita lihat biaya jangka pendek langsung kelihatan, ketika subsidi dicabut. Daya beli masyarakat langsung turun,”

Ketiga, kerjasama dengan kreditur dari Cina menyebabkan daya beli rendah terjadi. Pasalnya, Cina memberikan hutang, namun juga memiliki aturan yang mengikat bagi Indonesia. Salah satunya, dengan mendatangkan tidak hanya tenaga ahli, tetapi sampai ke bahan bangunan dan juga kuli panggul. Sehingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang sedikit dari Indonesia. “Cina ini agak beda dengan investor yang tradisional, seperti Jepang. Dulu kan Pak SBY berhubungan dengan Jepang krediturnya. Proyek Jepang, biasanya mereka cuma ngirim level-level atas, tenaga-tenaga ahli. Kalau Cina ini kan nggak, dari atas sampai kuli panggul nya dari Cina. Mereka sistemnya satu paket. Editornya mereka, dapet kreditnya dari mereka, jadi semakin sedikit penyerapan tenaga kerja dari infrastruktur,” ia menambahkan.

Ia berharap, pemerintah mulai memberikan dukungan pada kelas menengah ke bawah agar biaya transaksi yang¬† dihadapi semakin kecil. “Agar mereka bisa bertahan. Mereka sekarang daya beli menurun, sehingga penjualan menurun. Harus diakali, agar mereka (perusahaan) tidak gulung tikar gimana,”

“Infrastruktur menyerap tenaga kerja banyak, lebih ke pro rakyat. Sehingga masih bisa tertolong dalam jangka pendek,” pungkas dia.

Evelin Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *