Strategi Lalu Lintas Mudik

by

Brebes Exit atau dikenal Brexit menjadi neraka bagi para pemudik. Bagaimana antisipasi lalu lintas menurut pakar transportasi?

Wartapilihan.com, Jakarta – Memasuki H-7, sejumlah tempat pemberangkatan moda transportasi baik darat, laut maupun udara mulai dipenuhi pemudik yang akan mengunjungi kampung halamannya. Mengantisipasi kemacetan dan memberikan layanan terbaik kepada penumpang, pakar transportasi, Erika Buchari kepada Warta Pilihan menuturkan soal strategi lalu lintas mudik.

“Harus ada ahli disana yang ngukur dan melakukan monitoring ukuran pelayanan jalan. Kenali apa saja yang menghambat jalan. Seperti jalan berlubang, kalau lubangnya banyak atau kendaraan banyak, maka antrean akan semakin panjang,” kata Erika, Ahad (18/6).

Selain itu, lanjut Erika, hambatan samping dari parkir di jalan dan pedagang kaki lima juga akan menyebabkan antrean yang panjang, dengan antisipasi jumlah lalu lintas yang meningkat, bisa direkayasa lalu lintas akan dialihkan kemana kalau terjadi kemacetan.

“Kami di Palembang sudah membuat video rekaman untuk simulasi lalu lintas dengan program simulasi. Nanti akan dicoba beberapa skenario rekayasa,” terang Erika.

Idealnya, tambah Erika, pemerintah dan operator lalu lintas kooperatif dengan analisis dan simulasi ini. Agar dapat di diskusikan dimana letak perbedaannya.

“Ada mobil yang membuat konflik, ada mobil yang berhenti sembarangan, ada yang lambat dijalur cepat, dan ada yang menghambat di tempat parkir bahu jalan. Semua perilaku kita simulasikan,” tandasnya.

“Kita bisa menyalahkan perilaku pengemudi berhenti sembarangan. Manuver parkir yang sulit dipinggir jalan dan adanya jualan kaki lima atau pasar tumpah. Tapi kita tidak pernah memberikan angkanya karena tidak pernah disimulasi berapa sih panjang antrean atau macetnya kendaraan akibat perilaku sudah kita rekam melalui video drone tadi? Headway atau jarak muka ke muka ke daraan lain dan kecepatan perlu dimonitor juga. Juga apakah untuk pintu tol masing masing sudah direkam arus dan perilaku di pintu masuknya? Dari sana kita bisa ramalkan,”paparnya.

Suatu perubahan, simpul Erika, pada awalnya memerlukan sosialisasi yang massif, sehingga diperlukan pengawasan lebih agar pengguna kendaraan dapat mematuhi peraturan yang dibuat, setelah itu sekiranya sudah mematuhi maka pengawasan dapat dikurangi.

“Kesimpulan bagaimana kita meniru perilaku mengemudi yang tidak benar dari traffik tersebut akan di simulasikan, sehingga dengan ramalan traffik yang ada dapat direncanakan rekayasanya,” demikian kata Erika.

[Ahmad Zuhdi]