Salamuddin Daeng: Indonesia Sedang Menyiapkan Mangsa

by
Foto: Istimewa/dok. Pribadi

Para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat, kata Salamuddin, telah mengambil populisme sebagai strategi dalam mengatasi krisis, ketimpangan dan unbalance ekonomi.

Wartapilihan.com, Jakarta РPeneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menjelaskan, Indonesia bisa membangun apa saja, bahkan eksploitasi alam sedalam-dalamnya. Tetapi harus memiliki dana, tenaga kerja, kapasitas, dan lain sebagainya.

“Tetapi kalau kita tidak punya itu semuanya, kita harus impor, kita harus kirim dari luar negeri, kita harus minta uang dari luar negeri, itu pasti. Hukum besinya seperti itu,” kata Salamuddin Daeng dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/8).

Artinya, lanjut Salamuddin, mau tidak mau dengan kondisi ekonomi seperti itu, sama saja dengan menyediakan mangsa untuk orang lain. Menurutnya, krisis lahir dari over production dan ada under consumtion. Akhirnya negara-negara tersebut membuka pasar bebas dan masyarakat di dorong skema sektor keuangan (financial inclusion) agar negara menyerap hutang lebih banyak. Sehingga, pasar suatu negara di ukur dari hutang dan investasinya supaya memiliki daya beli.

“Terjadi over produksi besi baja, pangan, petro kimia, dan segala macam. Tetapi daya beli masyarakat turun,” imbuhnya.

Apabila peringkat utang jatuh, terang Salamuddin, maka bisa berhutang dengan resiko tinggi. Begitupun apabila tingkat investasi jatuh, maka tetap bisa investasi dengan memberikan hasil yang besar. Maka tidak ada cara lain selain berhutang sebanyak-banyaknya.

“Jadi kewajiban meningkat, pendapatan berkurang, maka kekayaan (asset) di jual. Perusahaan asing sering melakukan itu. Implikasi ada dua (2) cabang. Pertama dari cabang government yaitu pajak. Kedua dari sisi investasi, bertambah biaya penggunaan atau infrastruktur yang dibangun pemerintah (sewa),” paparnya.

Salamuddin Daeng menyebut, inflasi yang bagus adalah inflasi yang di dukung daya beli yang tinggi. Ia mencontohkan, listrik sekarang bukan dikelola oleh negara tetapi sistem negara yang dibukukan oleh PLN, dengan implikasi kalau rugi bebankan kepada konsumen, kalau untung berikan kepada pemerintah.

“Langkah terakhir yang bisa kita lakukan adalah harus menghidupkan ritual petani, sedekah, meminta kepada Allah. Budaya-budaya seperti ini harus dihidupkan kembali,” saran dia.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *