Perubahan Kedaulatan Pasca Reformasi

by
http://cdn2.tstatic.net/

Pasca reformasi, banyak hal yang berubah secara hukum, khususnya amandemen pada pasal-pasal yang tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945.

Wartapilihan.com, Jakarta –Yusril Ihza Mahendra selaku Pakar Tata Hukum Negara mengatakan, sesudah reformasi kedaulatan negara berubah total, kedaulatan berada di tangan rakyat. Sedangkan dahulu, kedaulatan berada di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).

“Tanpa kita sadari, amandemen itu telah merubah secara fundamental dari yang didebatkan dan dikompromikan dahulu, yang akhirnya menjadi UUD ’45,” kata Yusril, dalam seminar bertemakan ‘Kedaulatan Bangsa Pasca Reformasi’, di Aula Terapung Perpustakaan, Universitas Indonesia, Depok, Jum’at, (27/10/2017).

Konsep kedaulatan yang sepenuhnya di tangan rakyat, ia melanjutkan, merupakan titik temu dari aliran hukum adat, aliran pemikiran Islam dan juga aliran pemikiran politik.

“Setelah amandemen, DPR bukan lagi menjadi kekuasaan tertinggi, saya jadi terkenang ketika saya jadi mahasiswa, slogan saya ‘Tidak ada reformasi tanpa konstitusi’ yang diikuti oleh seluruh mahasiswa kala itu,” kenang Yusril.

Pada saat sebelum reformasi, amandemen yang dituntut di dalam UUD 1945 adalah, mengenai adanya 1/3 dari utusan daerah, yakni anggota MPR terdiri dari DPR dan ditambah utusan daerah dan golongan.

Yusril mencontohkan negara Pakistan. Ia menerangkan, di Pakistan para utusan negara memiliki representasinya di setiap golongan agama, masing-masing 5 orang. Yakni 5 orang dari Hindu, Budha, Islam dan juga Kristen. “Sehingga rakyat merasa memiliki negaranya karena ada wakilnya/utusannya,” lanjut dia.

Profesor di bidang hukum dari Universitas Indonesia ini melanjutkan, selain amandemen dari utusan daerah, hal krusial yang ketika itu dibenahi adalah masa jabatan presiden. “Masa jabatan presiden dibatasi 2 kali, sesudah itu tidak dapat dipilih kembali,” imbuhnya.

Ketiga, di dalam UUD 1945 juga dicantumkan pasal-pasal mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). “HAM juga menjadi hal yang penting dalam kehidupan berbangsa,” pungkasnya.

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *