Pergeseran Preferensi Gen Z: Mengutamakan Pengalaman di Atas Kepemilikan Barang

by

Oleh: Ratu Bilqis Putri Priatna

JAKARTA – Generasi Z, kelompok yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, kini telah bertransformasi menjadi salah satu kekuatan konsumen terbesar di pasar global

. Menariknya, pola konsumsi mereka menunjukkan pergeseran fundamental: fokus beralih dari sekadar memiliki barang menuju pencarian pengalaman yang bermakna.

Perubahan ini bukan sekadar tren gaya hidup sesaat, melainkan refleksi dari transformasi nilai-nilai kehidupan yang lebih mendalam di kalangan anak muda.

Pengalaman sebagai Bentuk ‘Self-Reward’

Meski kondisi ekonomi global tengah menekan daya beli, Gen Z tetap memprioritaskan pengeluaran untuk aktivitas leisure seperti wisata dan konser. Fenomena ini didorong oleh konsep self-reward, di mana pengalaman dianggap sebagai kebutuhan emosional yang memberikan kepuasan instan sekaligus berkelanjutan.

Pergeseran ini sejalan dengan teori experience economy, yang menyatakan bahwa nilai konsumsi kini telah berpindah dari kepemilikan fisik menuju momen-momen yang memberikan makna pribadi.

Peran Prosumer dan Nilai Keberlanjutan

Dalam ekosistem digital, Gen Z tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif. Mereka berperan sebagai prosumer yang aktif menciptakan tren melalui berbagai platform media sosial.

Konsumsi berbasis pengalaman digital ini juga membawa misi yang lebih besar. Preferensi mereka cenderung mengarah pada pengalaman yang mengedepankan nilai autentisitas, inklusivitas, serta keberlanjutan lingkungan dan sosial. Bagi Gen Z, apa yang mereka konsumsi harus memiliki dampak positif bagi dunia.

Implikasi Bagi Sektor Industri

Transformasi perilaku ini membawa dampak besar bagi peta industri dunia. Sektor kreatif, pariwisata, dan hiburan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perubahan preferensi ini.

Di sisi lain, perusahaan konvensional kini dituntut untuk mengubah strategi pemasaran mereka. Fokus tidak lagi bisa hanya tertuju pada keunggulan produk, melainkan pada bagaimana produk tersebut dapat menawarkan pengalaman yang unik. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar pengalaman yang ditawarkan tetap relevan dan tidak kehilangan nilai autentiknya di mata konsumen.

Kesimpulan

Perubahan preferensi dari konsumsi barang ke pengalaman mencerminkan cara baru Gen Z dalam memaknai hidup. Mereka mencari kepuasan emosional dan keterhubungan sosial melalui setiap aktivitas yang dilakukan. Bagi pelaku industri, memahami pergeseran ini adalah kunci untuk membangun hubungan yang lebih bermakna dengan generasi masa depan.

Tentang Penulis,

Ratu Bilqis Putri Priatna
Fakultas ekonomi dan bisnis prodi menejemen